Tuesday, 9 June 2026

Dia Tidak Sedang Berbicara Sendiri


Dia Tidak Sedang Berbicara Sendiri

karya: Rani Gitayati


Sungguh,

Dia tidak sedang berbicara sendiri.

Ia sedang berbicara
dengan pantulan-pantulan yang tinggal di kepalanya—
kenangan-kenangan yang belum selesai,
orang-orang yang masih menetap meski telah pergi,
mimpi-mimpi yang pernah tumbuh
lalu gugur diam-diam.


Ia sedang berbicara
dengan kepanikan yang pernah mengguncangnya,
dengan luka yang masih berdenyut pelan,
dengan harapan-harapan kecil
yang dulu ia simpan seperti cahaya.

Ya,
sungguh,
dia tidak sedang berbicara sendiri.

Malang, 24 May 2026


Klik untuk puisi-puisi lainnya >>>

Sunday, 7 June 2026

Ketika Masa Lalu Berubah Menjadi Karya

Beberapa hari lalu saya kembali membaca tulisan lama tentang buku Kening Fitrop karya Fitri Tropika. Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah FYP juga lewat di beranda saya tentang gadis-gadis yang memilih tanda X ketika ditanya apakah mereka mau memiliki pasangan seorang penyanyi atau pencipta lagu. Hal itu membuat saya kembali berpikir bahwa memang ada orang-orang yang memilih untuk tidak menjalin hubungan serius dengan penulis, penyanyi, pencipta lagu, dan pekerja kreatif sejenisnya.


Kenapa profesi kreatif sering dianggap membawa bayang-bayang masa lalu?

Profesi kreatif sering dianggap membawa bayang-bayang masa lalu karena mereka menghasilkan karya yang bisa dilihat, dibaca, atau didengar oleh orang lain. Ketika seorang penulis memiliki mantan lalu menulis novel, lagu, atau puisi, karya tersebut sering dianggap sebagai jejak emosi yang berubah bentuk menjadi sesuatu yang nyata.

Berbeda dengan profesi lain.

Seorang akuntan bisa saja masih mengingat cinta pertamanya. Seorang pedagang bisa saja masih menyimpan kenangan tentang seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Namun, kenangan itu tidak tercetak menjadi buku, tidak diputar di radio, dan tidak dijual di toko.

Hal inilah yang membuat pengalaman masa lalu para pekerja kreatif terasa lebih "hadir" dibandingkan masa lalu orang lain, karena mereka memiliki medium untuk menuangkannya.

Apakah karya benar-benar selalu berasal dari pengalaman pribadi?

Banyak orang menganggap bahwa ketika seorang penulis menghasilkan karya tentang patah hati, berarti ia sedang patah hati. Jika ia menulis tentang perselingkuhan, berarti ia pernah mengalaminya. Kita sering menganggap lagu atau buku sebagai bukti bahwa seseorang belum selesai dengan masa lalunya.

Faktanya, tidak semua karya lahir dari pengalaman pribadi. Inspirasi bisa datang dari pengamatan terhadap orang lain, peristiwa yang terjadi di sekitar, atau bahkan dari imajinasi semata.

Seorang penulis bisa menulis tentang perang tanpa perlu menjadi tentara. Ia bisa menulis tentang kehilangan seorang anak tanpa pernah menjadi orang tua. Ia juga bisa menulis tentang pembunuhan tanpa pernah membunuh siapa pun.

Tidak dapat dimungkiri bahwa pengalaman pribadi sering menjadi bahan bakar yang kuat karena mengandung emosi yang autentik. Namun, mungkin inilah yang sering dilupakan: kita cenderung menganggap karya sebagai jendela langsung menuju kehidupan penulis, padahal karya lebih menyerupai mozaik yang tersusun dari pengalaman, pengamatan, dan imajinasi.

Pengalaman pribadi hanyalah salah satu sumber inspirasi, bukan satu-satunya.

Terkadang sebuah karakter lahir dari gabungan beberapa orang berbeda. Kadang sebuah cerita berasal dari berita yang didengar sekilas. Kadang pula semuanya bermula dari satu pertanyaan sederhana:

"Bagaimana jika...?"

Apakah pasangan seorang penulis memang harus siap menjadi bahan tulisan?

Belum tentu. Meski demikian, perjalanan hidup bersama seseorang tentu dapat memengaruhi karya yang dihasilkannya. Jika kamu memiliki pasangan seorang penulis, potongan-potongan karakter dan pengalaman yang kalian alami bersama mungkin saja terselip dalam beberapa tulisannya.

Namun, saya juga bisa memahami mengapa sebagian orang merasa kurang nyaman dengan kemungkinan tersebut. Tidak semua orang suka jika kebiasaan, ucapan, atau pengalaman pribadinya diabadikan dalam bentuk tulisan. Ada orang-orang yang lebih memilih kehidupan pribadinya tetap menjadi miliknya sendiri, dan itu juga bukan sesuatu yang salah.

Berdasarkan pengalaman pribadi, penulis jarang menghasilkan karya yang benar-benar identik dengan kejadian nyata tanpa proses penyaringan, kecuali dalam jenis tulisan tertentu seperti esai pribadi. Yang lebih sering terjadi adalah proses transformasi: percakapan sederhana menjadi dialog dua tokoh, atau pertengkaran kecil menjadi inspirasi konflik dalam sebuah novel.

Jadi, kesimpulannya seperti apa?

Mungkin yang membuat banyak orang ragu mencintai penulis bukan karena penulis memiliki masa lalu yang lebih rumit daripada orang lain. Mungkin karena masa lalu mereka lebih mudah terlihat.

Kita bisa membaca novel yang mereka tulis, mendengar lagu yang mereka ciptakan, atau menemukan puisi yang mereka unggah bertahun-tahun lalu.

Padahal setiap orang memiliki kenangan. Hanya saja, tidak semua orang meninggalkan jejak yang bisa dibaca oleh orang lain.

Pada akhirnya, penulis tidak memiliki masa lalu lebih banyak daripada orang lain. Mereka hanya memiliki cara yang berbeda untuk menyimpannya.

Saturday, 6 June 2026

Aplikasi Hitung HPP: Aplikasi Gratis Terbatas Keren yang Bisa Bantu Kamu Hitung HPP


Menghitung HPP (Harga Pokok Produksi) adalah salah satu hal terpenting dalam menjalankan usaha, terutama usaha kuliner. Dari angka inilah kita bisa menentukan berapa keuntungan yang ingin diperoleh, sehingga harga jual produk dapat ditetapkan dengan lebih tepat.

Sayangnya, menghitung HPP tidak semudah yang dibayangkan. Kesalahan kecil dalam perhitungan bisa berujung pada kerugian yang tidak disadari. Bahan baku terus habis, uang hasil penjualan juga habis untuk belanja bahan lagi, tetapi keuntungan yang seharusnya didapat tidak pernah benar-benar terasa.

Pada titik tertentu, kamu mungkin pernah bertanya,

"Sebetulnya hasil jualanku ke mana, ya?"

Tentu saja ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hal itu, salah satunya adalah pencatatan keuangan yang kurang rapi. Namun, penyebab lain yang sering luput dari perhatian adalah perhitungan HPP yang tidak akurat.

Masalah ini cukup sering terjadi pada pelaku usaha kuliner skala kecil. Mereka biasanya menghitung modal secara global atau berdasarkan perkiraan saja, misalnya:

"Oh, saya pakai ayam seharga Rp38.000 dan bisa jadi 16 porsi. Berarti modal ayam per porsi sekitar Rp2.400. Tambah bahan lain kira-kira Rp1.000. Jual Rp5.000-an masih untung, kok."

Sekilas perhitungan tersebut terlihat masuk akal. Padahal, masih ada banyak biaya lain yang sering terlupakan, seperti bumbu pelengkap, minyak goreng, gas, kemasan, saus, hingga bahan-bahan kecil yang jika dijumlahkan ternyata cukup besar pengaruhnya terhadap biaya produksi.

Dulu, menghitung HPP secara detail berarti harus mencatat semuanya satu per satu di buku atau membuat rumus sendiri di spreadsheet. Selain memakan waktu, prosesnya juga cukup merepotkan, terutama jika kita memiliki banyak menu.

Saya sendiri pernah berada di fase di mana jualan terasa ramai, tetapi uang yang terkumpul tidak sebanyak yang dibayangkan. Saat itulah saya mulai menyadari bahwa saya belum benar-benar menghitung HPP dengan detail.

Untungnya, sekarang sudah ada berbagai aplikasi yang dapat membantu menghitung HPP dengan lebih cepat dan praktis. Salah satu yang saya gunakan adalah KitchenCost. Aplikasi gratis dengan fitur terbatas ini sangat membantu saya menghitung Harga Pokok Produksi berbagai produk yang dijual di Adzaib Delight, sehingga saya bisa menentukan harga jual dengan lebih percaya diri.

Apa Itu KitchenCost?


KitchenCost adalah aplikasi yang dirancang untuk membantu pemilik usaha makanan dan minuman menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, serta memantau margin keuntungan tanpa harus membuat rumus spreadsheet sendiri.

Bagi saya yang menjalankan usaha kuliner skala kecil, aplikasi ini cukup membantu karena proses perhitungan yang sebelumnya memakan waktu bisa dilakukan lebih cepat dan lebih rapi.

Awalnya saya mencoba menghitung HPP menggunakan catatan dan spreadsheet sederhana. Cara itu sebenarnya bisa dilakukan, tetapi semakin banyak produk yang dijual, semakin sulit memastikan semua biaya sudah masuk dalam perhitungan. Karena itulah saya mulai mencari aplikasi yang bisa membantu proses tersebut.

Fitur-Fitur KitchenCost


1. Menghitung HPP Secara Otomatis


Setelah bahan baku dimasukkan ke dalam aplikasi, KitchenCost akan menghitung biaya resep secara otomatis. Kita tidak perlu lagi menghitung satu per satu menggunakan kalkulator setiap kali membuat produk baru.

2. Mengetahui Biaya Per Porsi


Fitur ini yang paling sering saya gunakan. Sebelum menggunakan KitchenCost, saya biasanya hanya memperkirakan biaya per porsi. Setelah dihitung lebih detail, ternyata ada beberapa bahan kecil yang selama ini tidak saya masukkan ke dalam perhitungan.

3. Membantu Menentukan Harga Jual


Selain menghitung modal, aplikasi ini juga dapat membantu menentukan harga jual berdasarkan target food cost yang kita inginkan. Fitur ini sangat berguna bagi pemula yang masih bingung menentukan harga produk agar tetap mendapatkan keuntungan.

4. Mendukung Sub-Recipe


KitchenCost memungkinkan pengguna membuat resep turunan, seperti saus, bumbu, topping, atau adonan dasar yang digunakan pada beberapa menu sekaligus. Jika harga salah satu bahan berubah, biaya pada resep terkait akan ikut diperbarui secara otomatis.

5. Menghitung Margin Keuntungan


Aplikasi ini juga menampilkan informasi mengenai food cost, margin keuntungan, dan estimasi laba per porsi. Dengan begitu kita bisa mengetahui produk mana yang paling menguntungkan dan mana yang perlu dievaluasi.

Siapa yang Cocok Menggunakan KitchenCost?


Menurut saya, aplikasi ini cocok digunakan oleh:

- Penjual minuman
- Penjual snack dan jajanan
- UMKM kuliner
- Bakery dan usaha brownies
- Katering rumahan
- Food truck
- Rumah makan kecil hingga menengah

Kelebihan KitchenCost untuk Usaha Kecil


Banyak pelaku usaha kecil masih menghitung biaya produksi menggunakan perkiraan atau spreadsheet sederhana. Tidak ada yang salah dengan cara tersebut, tetapi ketika jumlah menu mulai bertambah, proses perhitungannya bisa menjadi cukup merepotkan.

KitchenCost hadir sebagai solusi yang lebih praktis. Fokus utamanya adalah membantu pemilik usaha menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual dengan lebih cepat, lebih akurat, dan lebih terorganisir.

Bagi saya pribadi, manfaat terbesar dari aplikasi ini bukan sekadar menghitung HPP, tetapi membantu melihat angka-angka usaha dengan lebih jelas. Dari situ saya bisa mengetahui apakah sebuah produk benar-benar memberikan keuntungan atau ternyata hanya terlihat menguntungkan di permukaan.

Kekurangan KitchenCost


Meskipun cukup membantu, KitchenCost tetap memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diketahui. Versi gratisnya memberikan akses fitur yang terbatas sehingga pengguna mungkin perlu berlangganan jika ingin memanfaatkan seluruh kemampuannya. Selain itu, proses awal memasukkan data bahan baku, satuan, harga, dan resep membutuhkan waktu serta ketelitian yang cukup tinggi. Bagi sebagian orang, tahap ini mungkin terasa sedikit melelahkan. Namun menurut saya, waktu yang diinvestasikan di awal tersebut sebanding dengan manfaat yang didapatkan, karena setelah semua data tersusun rapi, proses menghitung HPP dan mengevaluasi harga jual menjadi jauh lebih cepat dan praktis.

Kesimpulan


Pada akhirnya, menghitung HPP bukan hanya soal mengetahui berapa modal yang dikeluarkan untuk membuat sebuah produk. HPP adalah dasar untuk menentukan harga jual, menghitung keuntungan, dan memastikan usaha yang kita jalankan benar-benar menghasilkan laba.

KitchenCost tentu bukan satu-satunya cara untuk menghitung HPP. Kamu masih bisa menggunakan buku catatan, kalkulator, atau spreadsheet. Namun jika kamu menginginkan proses yang lebih praktis, lebih rapi, dan lebih mudah dipantau, aplikasi ini layak untuk dicoba.

Bagi saya pribadi, manfaat terbesar KitchenCost bukan sekadar membantu menghitung angka. Aplikasi ini membantu saya memahami kondisi usaha dengan lebih jelas. Saya jadi lebih tahu produk mana yang memberikan keuntungan, biaya apa saja yang selama ini terlewat, dan bagaimana menentukan harga jual dengan lebih percaya diri.

Jika kamu sering bertanya, "Kenapa jualan ramai tapi uangnya terasa tidak terkumpul?", mungkin sudah saatnya mulai menghitung HPP dengan lebih serius. Karena terkadang masalahnya bukan pada seberapa banyak kita menjual, melainkan pada seberapa baik kita memahami angka di balik setiap produk yang kita jual. (RG/26)

Sudah Mengenal Huruf Sejak 2,5 Tahun, Tapi Kenapa Menulis Masih Jadi Masalah? | Seri Kejar Menulis TK B — 30 Hari

Ada satu hal tentang perkembangan Ibrahim yang belakangan ini cukup sering saya pikirkan: menulis . Ibrahim sekarang sudah TK B. Akhir-akhir...