Saturday, 13 June 2026

Ketika Seorang Ahjussi Akhirnya Menjadi Tokoh Utama

Sebuah thread tiba-tiba muncul di feed saya. Seseorang bertanya apakah ada yang sedang menonton drama Korea berjudul The Dream Life of Mr. Kim. Entah kenapa, satu kalimat sederhana itu membuat saya penasaran. Beberapa menit kemudian saya sudah mencarinya dan mulai menonton.

Nggak seperti drakor pada umumnya yang bercerita tentang pemuda tampan yang pada akhirnya menemukan cinta impiannya, drama ini membawa cerita yang berbeda. Ini tentang seorang ahjussi berusia 50 tahun yang telah mendedikasikan 25 tahun hidupnya untuk satu perusahaan terbaik dan terkemuka.

Sosok seperti dia biasanya hanya muncul sebagai karakter pendukung di drama lain. Seorang atasan, ayah, atau pekerja biasa yang ceritanya hanya menjadi latar. Tapi kali ini, dialah tokoh utamanya.

Mr. Kim adalah gambaran seseorang yang percaya bahwa kerja keras, loyalitas, dan pengabdian akan membawa seseorang menuju tempat yang selama ini ia perjuangkan. Tinggal satu langkah lagi baginya untuk mencapai posisi eksekutif. Dengan pengalaman dan pengorbanan selama puluhan tahun, dia yakin impian itu akhirnya akan menjadi kenyataan.

Seperti impian banyak pekerja lainnya: memiliki pekerjaan yang stabil, posisi yang aman, keluarga yang utuh, dan rumah atas namanya sendiri.

Tapi semuanya runtuh ketika dia menyadari bahwa perusahaan yang selama ini menjadi bagian besar dari hidupnya ternyata tidak lagi membutuhkannya. Bukan dengan memecatnya secara langsung, tetapi perlahan membuatnya merasa tidak lagi memiliki tempat.

Dan menurut saya, di situlah drama ini menjadi menarik.

Ini bukan hanya cerita tentang kehilangan pekerjaan. Ini tentang kehilangan identitas.

Karena bagi sebagian orang, pekerjaan bukan sekadar cara mencari uang. Pekerjaan bisa menjadi tempat seseorang merasa berharga, tempat ia membuktikan diri, bahkan bagian dari siapa dirinya. Lalu ketika semua itu tiba-tiba hilang, muncul pertanyaan besar: kalau bukan sebagai seorang pekerja, lalu siapa diri kita?

Buat teman-teman yang mulai bosan dengan drakor romance, drama ini bisa menjadi pilihan yang menarik. Terutama untuk kamu yang bekerja, punya orang tua yang sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan, atau kamu yang terbiasa hidup dalam kompetisi dan mengejar pencapaian.

Mungkin setelah menonton drama ini, kamu bukan hanya memikirkan perjalanan Mr. Kim, tapi juga perjalananmu sendiri.

Tentang apa yang selama ini kamu kejar, apa yang membuatmu merasa bernilai, dan apakah hidupmu sudah lebih luas daripada sekadar pekerjaan atau pencapaian.

Menurut saya, The Dream Life of Mr. Kim bukan hanya layak ditonton. Drama ini juga layak direnungkan.

Friday, 12 June 2026

Taman yang Menua, Gagasan yang Terlupa

Selasa kemarin kami berkunjung ke sebuah taman bermain kota. Kami datang dengan ingatan tentang tempat yang dulu menjadi ruang nyaman bagi anak-anak bermain, dan bagi orang tua menghadirkan kebahagiaan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Namun, kami pulang dengan rasa terkejut melihat begitu banyak perubahan.

Tempat hiburan murah meriah di tengah kondisi ekonomi yang semakin menggigit ini masih tetap menjadi idola. Meski kini alasnya tak lagi serapi dulu. Karpet rumputnya mulai menganga di banyak bagian sambungan. Seluncuran spiral yang dulu menjadi favorit anak-anak yang mulai beranjak remaja, sekaligus tempat memacu adrenalin bagi anak-anak yang lebih kecil, kini sudah tak ada lagi.

Sebuah taman bermain yang perlahan termakan usia. Bukan hanya karena waktu, tetapi juga karena perhatian yang mungkin tak lagi menjadi prioritas bagi pengampu jabatan saat ini. Ada desiran tipis di dada. Semua memang ada masanya. Namun, haruskah setiap pergantian masa selalu dimulai dengan melupakan apa yang pernah dibangun sebelumnya?

Tidak adakah ruang bagi program yang berkelanjutan, yang tetap dirawat meski sosok pengampunya berganti?

Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang sebuah taman bermain yang menua. Ini tentang gagasan-gagasan baik yang ikut lapuk setiap kali kursi berganti pemilik. Tentang bagaimana sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang sering kali tak diberi kesempatan untuk bertahan lebih lama daripada masa jabatan yang pernah melahirkannya.

Thursday, 11 June 2026

Onion Philosophy: "Siapa Saya di Balik Semua Peran Ini?"

Apa itu Onion Philosophy?

Saya menyebutnya filosofi bawang bombay. Sebuah cara memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari banyak lapisan. Semakin dalam kita mengenal diri sendiri, semakin banyak hal yang selama ini tersembunyi mulai terlihat.

Mari kita bahas lebih ringan dan mendalam.

Istilah Onion Philosophy sering digunakan dalam psikologi populer belakangan ini, juga dalam filsafat kehidupan, pengembangan diri, bahkan dalam penulisan karakter fiksi sebuah cerita. Yang perlu kamu ketahui, ini bukan aliran filsafat seperti Stoisisme atau Eksistensialisme, ya.

Gagasan awalnya sederhana: manusia seperti bawang yang memiliki banyak lapisan. Berusaha mengenal seseorang atau diri sendiri secara mendalam mirip seperti ketika kita mengupas bawang.

Lapisan-lapisan Bawang

Jika manusia memang seperti bawang, maka setiap lapisan menyimpan bagian diri yang berbeda. Ada yang mudah terlihat, ada pula yang baru muncul setelah proses refleksi yang panjang.

Kita bisa membagi lapisan tersebut ke dalam 4 lapisan:

1. Lapisan Terluar. Lapisan ini yang kita tampilkan kepada dunia sebagai citra diri.
2. Lapisan Kedua. Lapisan ini adalah tentang kebiasaan, sikap, dan pola pikir sehari-hari.
3. Lapisan Ketiga. Lapisan ini adalah tentang ketakutan, luka, keyakinan, dan pengalaman hidup.
4. Lapisan Inti Terdalam. Lapisan ini adalah lapisan jati diri, nilai hidup, atau esensi diri yang paling autentik.

Kilatan Ingatan

Saat menulis artikel ini, ingatan saya tiba-tiba melompat jauh ke 28 tahun-an lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP.

Saya tidak ingat hari apa saat itu. Saya juga tidak ingat apa yang sedang terjadi dalam hidup saya. Yang saya ingat hanyalah sebuah cermin dan seorang anak yang berdiri di depannya lebih lama dari biasanya.

Awalnya saya hanya menatap wajah sendiri. Tidak ada yang istimewa. Wajah yang sama yang saya lihat setiap hari. Namun entah bagaimana, semakin lama saya menatap, semakin aneh rasanya. Seolah-olah saya sedang melihat seseorang yang saya kenal, tetapi tidak benar-benar saya pahami.

Saya memperhatikan mata di dalam cermin itu. Lalu muncul pertanyaan yang datang begitu saja tanpa diundang:

"Saya ini siapa?"

Bukan nama saya. Bukan status saya sebagai anak, murid, atau anggota keluarga. Pertanyaan itu terasa lebih dalam dari itu.

"Siapa sebenarnya orang yang sedang menatap balik dari balik cermin ini?"

Kepala saya terasa ringan sekaligus penuh. Pandangan sedikit kabur. Puluhan pertanyaan muncul hampir bersamaan, saling bertabrakan satu sama lain.

Sedang apa saya di sini?

Kenapa saya lahir sebagai saya?

Apa yang membuat saya menjadi diri saya yang sekarang?

Setelah ini saya akan menjadi siapa?

Semakin banyak pertanyaan yang muncul, semakin sulit pula menemukan jawabannya.

Saat itu saya belum mengenal istilah Onion Philosophy. Saya bahkan belum pernah membaca buku filsafat apa pun. Namun kini, ketika mengingat kembali peristiwa tersebut, saya merasa bahwa itulah salah satu momen pertama ketika saya mulai mengupas lapisan-lapisan diri sendiri.

Mungkin tanpa saya sadari, perjalanan mengenal diri tidak dimulai ketika kita menemukan jawaban. Perjalanan itu dimulai ketika kita berani mengajukan pertanyaan yang tepat.

Dari puluhan pertanyaan yang memenuhi kepala saat itu, ada satu pertanyaan yang akhirnya bertahan hingga hari ini:

"Siapa sebenarnya saya di balik semua peran yang saya miliki?"


Jawaban dari Pertanyaan

Persis seperti mengupas bawang, semua pertanyaan itu tidak pernah mendapatkan jawaban dalam satu waktu.

Sering kali jawabannya hadir dalam bentuk yang sangat kecil: kegagalan yang membuat kita bercermin, pertemuan dengan seseorang yang mengubah cara pandang kita, atau peristiwa sederhana yang tiba-tiba membuat sesuatu menjadi masuk akal.

Lapisan-lapisan itu terkumpul perlahan, tahun demi tahun.

Dan suatu hari, tanpa disadari, kita sampai pada sebuah momen kecil yang terasa seperti lampu menyala di dalam kepala.

"Aha..."

Momen ketika kita mulai memahami sesuatu tentang diri sendiri yang selama ini tersembunyi.

Mungkin kita menyadari bahwa selama ini kita bukan sedang mengejar kesuksesan, melainkan pengakuan.

Mungkin kita menyadari bahwa kemarahan yang sering muncul sebenarnya berakar dari rasa takut.

Atau mungkin kita menemukan bahwa nilai yang paling kita pegang sejak dulu adalah kebebasan, kejujuran, atau kasih sayang.

Pada titik itu, kita belum selesai mengenal diri sendiri. Namun setidaknya kita telah berhasil mengupas satu lapisan lagi.

Wednesday, 10 June 2026

Percakapan dengan Masa Lalu

Membaca kembali puisi berjudul Dia Tak Sedang Berbicara Sendiri kemarin mengingatkan saya pada sebuah drama lawas yang pernah saya tonton beberapa tahun lalu.

Drama tersebut berjudul The Light in Your Eyes, berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Hyeja yang menemukan jam tangan yang memungkinkannya kembali ke masa lalu untuk mencegah kecelakaan ayahnya. Namun setiap kali waktu diputar, ada harga yang harus dibayar: usianya terus bertambah. Saat melakukan perjalanan waktu itulah dia bertemu Joonha, seorang pria muda yang telah menyerah pada mimpinya dan menjalani kehidupannya yang suram.

Sekilas drama ini tampak seperti drama bergenre time travel pada umumnya, yang membedakan adalah usia Hyeja yang terus bertambah setiap kali ia kembali ke masa lalu. Namun, jika kamu menontonnya sampai habis, kamu akan menemukan bahwa ada plot twist di sini.

Plot twist tersebut membuat saya kembali mempertanyakan seluruh cerita yang baru saja saya tonton. Apakah Hyeja benar-benar melakukan perjalanan waktu? Atau sejak awal kita sedang diajak melihat dunia melalui mata seseorang yang kenyataannya perlahan bercampur dengan kenangan?

Setelah mengetahui kebenarannya, saya justru merasa seluruh adegan sebelumnya berubah makna. Drama ini bukan lagi tentang seseorang yang berusaha mengubah masa lalu, melainkan tentang bagaimana manusia berdamai dengan ingatan, penyesalan, dan waktu yang tidak pernah benar-benar bisa diputar kembali.

Mungkin itulah alasan puisi itu kembali teringat. Sebab seperti tokoh dalam puisi tersebut, Hyeja juga tampak tidak sedang berbicara sendiri. Ia sedang berbicara dengan kenangan, penyesalan, dan versi dirinya yang tak pernah benar-benar pergi.

Mungkin karena itu juga kisah Hyeja terasa dekat. Banyak dari kita pernah berharap bisa kembali ke satu titik dalam hidup, mengubah satu keputusan, mengucapkan satu kalimat yang tak sempat terucap, atau mencegah satu peristiwa yang terus menghantui ingatan. Namun waktu tidak bekerja seperti jam tangan milik Hyeja. Ia hanya bergerak ke depan, sementara kita belajar berdamai dengan apa yang tertinggal di belakang.

Tuesday, 9 June 2026

Dia Tidak Sedang Berbicara Sendiri


Dia Tidak Sedang Berbicara Sendiri

karya: Rani Gitayati


Sungguh,

Dia tidak sedang berbicara sendiri.

Ia sedang berbicara
dengan pantulan-pantulan yang tinggal di kepalanya—
kenangan-kenangan yang belum selesai,
orang-orang yang masih menetap meski telah pergi,
mimpi-mimpi yang pernah tumbuh
lalu gugur diam-diam.


Ia sedang berbicara
dengan kepanikan yang pernah mengguncangnya,
dengan luka yang masih berdenyut pelan,
dengan harapan-harapan kecil
yang dulu ia simpan seperti cahaya.

Ya,
sungguh,
dia tidak sedang berbicara sendiri.

Malang, 24 May 2026


Klik untuk puisi-puisi lainnya >>>

Ketika Seorang Ahjussi Akhirnya Menjadi Tokoh Utama

Sebuah thread tiba-tiba muncul di feed saya. Seseorang bertanya apakah ada yang sedang menonton drama Korea berjudul The Dream Life of Mr. K...