Sunday, 7 June 2026

Ketika Masa Lalu Berubah Menjadi Karya

Beberapa hari lalu saya kembali membaca tulisan lama tentang buku Kening Fitrop karya Fitri Tropika. Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah FYP juga lewat di beranda saya tentang gadis-gadis yang memilih tanda X ketika ditanya apakah mereka mau memiliki pasangan seorang penyanyi atau pencipta lagu. Hal itu membuat saya kembali berpikir bahwa memang ada orang-orang yang memilih untuk tidak menjalin hubungan serius dengan penulis, penyanyi, pencipta lagu, dan pekerja kreatif sejenisnya.


Kenapa profesi kreatif sering dianggap membawa bayang-bayang masa lalu?

Profesi kreatif sering dianggap membawa bayang-bayang masa lalu karena mereka menghasilkan karya yang bisa dilihat, dibaca, atau didengar oleh orang lain. Ketika seorang penulis memiliki mantan lalu menulis novel, lagu, atau puisi, karya tersebut sering dianggap sebagai jejak emosi yang berubah bentuk menjadi sesuatu yang nyata.

Berbeda dengan profesi lain.

Seorang akuntan bisa saja masih mengingat cinta pertamanya. Seorang pedagang bisa saja masih menyimpan kenangan tentang seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Namun, kenangan itu tidak tercetak menjadi buku, tidak diputar di radio, dan tidak dijual di toko.

Hal inilah yang membuat pengalaman masa lalu para pekerja kreatif terasa lebih "hadir" dibandingkan masa lalu orang lain, karena mereka memiliki medium untuk menuangkannya.

Apakah karya benar-benar selalu berasal dari pengalaman pribadi?

Banyak orang menganggap bahwa ketika seorang penulis menghasilkan karya tentang patah hati, berarti ia sedang patah hati. Jika ia menulis tentang perselingkuhan, berarti ia pernah mengalaminya. Kita sering menganggap lagu atau buku sebagai bukti bahwa seseorang belum selesai dengan masa lalunya.

Faktanya, tidak semua karya lahir dari pengalaman pribadi. Inspirasi bisa datang dari pengamatan terhadap orang lain, peristiwa yang terjadi di sekitar, atau bahkan dari imajinasi semata.

Seorang penulis bisa menulis tentang perang tanpa perlu menjadi tentara. Ia bisa menulis tentang kehilangan seorang anak tanpa pernah menjadi orang tua. Ia juga bisa menulis tentang pembunuhan tanpa pernah membunuh siapa pun.

Tidak dapat dimungkiri bahwa pengalaman pribadi sering menjadi bahan bakar yang kuat karena mengandung emosi yang autentik. Namun, mungkin inilah yang sering dilupakan: kita cenderung menganggap karya sebagai jendela langsung menuju kehidupan penulis, padahal karya lebih menyerupai mozaik yang tersusun dari pengalaman, pengamatan, dan imajinasi.

Pengalaman pribadi hanyalah salah satu sumber inspirasi, bukan satu-satunya.

Terkadang sebuah karakter lahir dari gabungan beberapa orang berbeda. Kadang sebuah cerita berasal dari berita yang didengar sekilas. Kadang pula semuanya bermula dari satu pertanyaan sederhana:

"Bagaimana jika...?"

Apakah pasangan seorang penulis memang harus siap menjadi bahan tulisan?

Belum tentu. Meski demikian, perjalanan hidup bersama seseorang tentu dapat memengaruhi karya yang dihasilkannya. Jika kamu memiliki pasangan seorang penulis, potongan-potongan karakter dan pengalaman yang kalian alami bersama mungkin saja terselip dalam beberapa tulisannya.

Namun, saya juga bisa memahami mengapa sebagian orang merasa kurang nyaman dengan kemungkinan tersebut. Tidak semua orang suka jika kebiasaan, ucapan, atau pengalaman pribadinya diabadikan dalam bentuk tulisan. Ada orang-orang yang lebih memilih kehidupan pribadinya tetap menjadi miliknya sendiri, dan itu juga bukan sesuatu yang salah.

Berdasarkan pengalaman pribadi, penulis jarang menghasilkan karya yang benar-benar identik dengan kejadian nyata tanpa proses penyaringan, kecuali dalam jenis tulisan tertentu seperti esai pribadi. Yang lebih sering terjadi adalah proses transformasi: percakapan sederhana menjadi dialog dua tokoh, atau pertengkaran kecil menjadi inspirasi konflik dalam sebuah novel.

Jadi, kesimpulannya seperti apa?

Mungkin yang membuat banyak orang ragu mencintai penulis bukan karena penulis memiliki masa lalu yang lebih rumit daripada orang lain. Mungkin karena masa lalu mereka lebih mudah terlihat.

Kita bisa membaca novel yang mereka tulis, mendengar lagu yang mereka ciptakan, atau menemukan puisi yang mereka unggah bertahun-tahun lalu.

Padahal setiap orang memiliki kenangan. Hanya saja, tidak semua orang meninggalkan jejak yang bisa dibaca oleh orang lain.

Pada akhirnya, penulis tidak memiliki masa lalu lebih banyak daripada orang lain. Mereka hanya memiliki cara yang berbeda untuk menyimpannya.

Thursday, 4 June 2026

Bagaimana Jika Hidup yang Kita Jalani Bukan Hidup yang Sebenarnya?

Terlibat obrolan dengan seseorang yang saya sayangi dan beberapa teman kami, membahas banyak hal hingga entah bagaimana pikiranku terhubung pada satu benang merah yang sama. Tanpa sadar, bibir ini mulai berkata, “Aku teringat ucapan seorang public figure bahwa hidup yang kita jalani ini bukan hidup yang sebenarnya….”

Kalimat itu terus mengalir. Mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tetapi semakin dipikirkan, semakin terasa masuk akal. Persis seperti yang tertulis dalam surat Al-An'am ayat 32 dan Al-Ankabut ayat 64, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

Saya lalu teringat obrolan Ustadz Felix Siauw dan teman-temannya di Escape tentang bagaimana kehidupan di dunia ini ibarat kita sedang berada di dalam sebuah console game. Kita tidak bisa memaksakan pengetahuan kita—sepintar apa pun kita—sebagai makhluk “dimensi dalam console game” yang serba terbatas, untuk memahami dimensi Allah yang Maha Segalanya.



Tiba-tiba, seperti ada spiritual awakening dalam diri yang berbisik: kalau begitu, mungkin yang perlu kita lakukan setiap hari adalah menyadari bahwa kita hanyalah makhluk di dalam “permainan” ini, sementara jiwa dalam diri kitalah yang sesungguhnya nyata. Dunia kita yang sebenarnya bukanlah dunia ini, melainkan akhirat. Kita hanya sedang menjalani permainan dengan segala tantangan dan rintangannya.

Saat masalah datang, mungkin kita hanya perlu “keluar sejenak”, lalu mengamati. Mengamati keadaan, mengamati diri sendiri, mengamati cara pikiran dan perasaan bekerja.



Tak lama setelah itu, sebuah video tentang Meta Cognition melintas di berandaku—tentang bagaimana seseorang mencoba keluar dari dirinya sendiri untuk mengamati dirinya. Semua ini mungkin terdengar seperti kebetulan. Namun bagiku, tidak ada yang benar-benar kebetulan di dunia ini. Mungkin Allah sedang ingin menyampaikan sesuatu kepadaku.

Mungkin sudah waktunya untuk belajar melakukan observasi diri, inti dari meta cognition itu sendiri.

Thanks for reading.

[Jika kamu suka tulisan perenungan mendalam seperti di atas, kamu bisa baca: My Spiritual Awakening Stories]

Saturday, 23 May 2026

Ternyata Minat Anak Bisa Terlihat Sejak Usia 2 Tahun

Sejak usia 2 tahun, Ibra sudah menunjukkan ketertarikan yang begitu besar pada angka dan huruf. Awalnya terlihat dari hobinya bermain balok angka dan huruf, tetapi semakin hari minatnya pada matematika semakin jelas terlihat.

Pelan-pelan, ia mulai mengenal angka sampai 100, memahami penjumlahan dua hingga tiga angka, pengurangan, hingga konsep perbandingan seperti lebih besar, lebih kecil, dan sama dengan. Semua ia pelajari dengan rasa penasaran yang tumbuh alami dari dirinya sendiri.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang ahli perkembangan anak, dan ada satu kalimat yang sangat membekas:

“Dulu, anak sering dipaksa fokus pada hal-hal yang tidak mereka kuasai agar nilainya bagus. Tapi sekarang, pendekatannya berbeda. Anak justru perlu diarahkan pada bidang yang mereka minati dan kuasai, supaya potensinya bisa berkembang lebih maksimal.”

Dari situlah saya mulai memutuskan untuk lebih memfokuskan Ibra pada hal yang memang paling ia sukai dan kuasai: matematika.

Belakangan ini juga ada tontonan YouTube yang sangat sering ia tonton dan ternyata banyak membantunya belajar, yaitu Numberblocks. Dari sana, Ibra belajar angka dan matematika dengan cara yang menyenangkan, sederhana, dan mudah dipahami anak seusianya.

Sunday, 15 February 2026

Sering Berhenti di Tengah Jalan? Mungkin Kita Kehilangan Makna, Bukan Motivasi


Bukan Takut Memulai tapi Takut Berhenti di Tengah Jalan


Saya menyadari ada sesuatu dalam diri saya yang membuat saya merasa diri ini tidak bergerak kemana-mana. Sebuah stagnansi yang membuat saya merasa tidak berkembang sama sekali beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun terakhir.

Sejujurnya saya selalu bersemangat ketika memulai sesuatu, yang menjadi masalah adalah setiap kali ingin memulai sesuatu ada suara yang berisik lirih dalam diri:

"Ah, paling nanti juga berhenti tengah jalan ...."

Awalnya saya pikir suara itu muncul karena rasa malas, tapi bukan, bukan itu penyebabnya. Penyebab utamanya adalah pengalaman-pengalaman sebelumnya yang selalu tidak selesai ketika menjalankan sesuatu, mood yang naik turun, dan kehilangan arah di tengah jalan.


Akar Masalah Utama: Kehilangan Makna


Sebagai individu intuitif dan reflektif, saya tidak bisa berjalan hanya dengan target.

Saya butuh makna.

Ketika sesuatu mulai terasa hanya sekadar rutinitas tanpa kedalaman makna, saat itulah saya mulai kehilangan arah. Saya secara tak sadar, mulai membandingkan diri dengan orang lain. Jika itu menyangkut dunia maya, maka itu tentang jumlah follower dan expert diri. Saat itulah keraguan atas kemampuan diri mulai muncul.

Padahal sebenarnya yang saya cari bukan angka, tapi makna.


Kesadaran Penting: Saya Tidak Mengejar Validasi


Ketika ditanya:

"Jika hanya ada satu orang saja yang membaca dan merasa ditemani, apakah itu cukup?"

Jawaban saya: Cukup. Bahkan lebih dari cukup.

Di situlah saya menyadari, bahwa saya tidak ingin viral. Saya hanya ingin tulisan saya bermakna.


Identitas yang Ditemukan


Saya ingin menjadi:

🔸Blogger yang reflektif, dan
🔸Mentor self-growth untuk ibu-ibu

Satu kalimat ini menjadi kompas saya:

"Saya adalah seorang ibu yang hadir sepenuhnya untuk anak, diri saya sendiri dan keluarga kami."

Konsisten bagi saya bukan soal disiplin ketat yang keras, apa lagi soal ramai. Konsistensi adalah soal kehadiran.


Sistem Kecil yang Mengubah Segalanya


Alih-alih menetapkan target besar, saya memilih menggunakan aturan sederhana, yakni:

"Dalam kondisi apa pun, saya akan tetap menulis 3 kalimat."

Karena berhenti bukan kegagalan. Yang berbahaya adalah merasa 'berhenti berarti selesai'.

Sekarang, polanya Berubah. Saat mood turun, saya tetap harus menulis 3 kalimat, saya akan tetap terhubung, sehingga saya bisa tetap hadir.


Penutup


Mungkin konsistensi bukan tentang tidak pernah jatuh, atau tentang tidak pernah berhenti. Mungkin konsistensi buat saya justru tentang berani memulai kembali.

Dan mungkin, Jika satu saja ibu merasa tidak sendiri karena tulisan saya ... itu sudah lebih dari cukup.

Jika kamu membaca tulisan ini, sampai sejauh ini, thanks a lot. Kamu membuat saya merasa tidak sendiri.

Monday, 6 October 2025

Boon Pring: Harmoni Bambu, Air, dan Kehidupan Desa Sanankerto

Dari hutan bambu yang sunyi menjelma menjadi ekowisata yang tak hanya menjaga alam, tapi juga menghidupi warga dan mengangkat harkat desa.

Sumber: https://jatim.jadesta.com/atraksi/destinasi_wisata_boon_pring

Kalau kamu orang Malang dan sekitarnya, Boon Pring bukan nama yang asing terutama bagi pecinta wisata, termasuk saya dan keluarga. Tempat ini seperti sebuah hamparan kenangan yang selalu memanggil untuk kembali. Entah sudah keberapa kalinya kami berkunjung ke hutan bambu ini.

Bagi kami yang tinggal cukup jauh dari Sanankerto, perjalanan menuju Boon Pring bukan sekadar kunjungan singkat. Kami harus berangkat pagi, menembus jalanan yang mulai ramai demi tiba di sana sebelum matahari meninggi agar anak-anak puas bermain air dan kami bisa menikmati pemandangan sembari bercengkrama.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Setiap kali menginjakkan kaki di sana, saya selalu merasa bahwa Boon Pring bukan hanya destinasi wisata. Ia adalah bukti bahwa sebuah desa mampu mengubah wajahnya yang gersang menjadi oase kehidupan, berkat tekad warganya yang menanamkan harapan lewat pohon bambu.

Boon Pring di Desa Sanankerto adalah contoh nyata betapa kearifan lokal, gotong royong, dan cinta pada alam bisa melahirkan wisata berkelanjutan yang tak hanya indah dipandang tapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.

Menyusuri Lorong Bambu

Boon Pring terletak di Desa Sanankerto, Turen, sekitar 30 kilometer dari pusat kota Malang. Begitu kamu melangkah masuk, jalanan desa yang biasa saja berganti menjadi deretan bambu menjulang tinggi yang menyambut dengan kesejukan, seolah membentuk lorong hijau yang teduh.

Sumber: https://www.jatimpos.co/pariwisata/9921-desa-wisata-kampiun-penggerak-kebangkitan-ekonomi

Di tengahnya terdapat sebuah telaga luas dengan air jernih yang memantulkan bayangan bambu di sekitarnya. Saya suka berhenti sejenak di tepi telaga, memperhatikan anak-anak yang riang bermain air atau sekadar mendengar suara batang bambu yang saling beradu pelan ditiup angin.

Di saat-saat seperti itu, sering beberapa muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana wajah asli hutan ini sebelum menjadi ramai, sejak kapan ia menjelma menjadi penggerak ekonomi warganya? Pertanyaan-pertanyaan itu seolah mengajak kita merenung tentang perjalanan waktu dan ketekunan manusia menjaga alam.

Boon Pring Kala Itu

Menurut keterangan Syamsul Arifin, Direktur BUMDes Kerto Raharjo tempat ini dulunya adalah tanah kas desa dengan luas sekitar 36,8 hektare, berupa hutan bambu yang dikelola masyarakat (kumparan.com, 24/10/2020). Di sana hanya ada hutan, rawa-rawa, dan sungai.

Sejak 2014, kawasan ini sebenarnya sudah dikelola oleh warga setempat menjadi destinasi wisata sederhana bagi warga lokal, biasanya dibuka saat libur besar seperti Idul Fitri.

Baru pada Maret 2017, BUMDes Kerto Raharjo bersama masyarakat mulai mengembangkan kawasan ini secara resmi menjadi ekowisata dengan dukungan dana desa, dengan besaran sekitar Rp 170 juta.

Pada 2022, Desa Sanankerto terpilih sebagai salah satu binaan dalam program Desa Sejahtera Astra, dengan potensi pengembangan utama di bidang wisata, kriya, dan budaya. Selain kebun bambu dan telaga yang menenangkan, warga juga memanfaatkan bambu sebagai bahan kriya, dan melestarikan aktivitas seni seperti Gejok Lesung.

Harmoni Alam, Ekonomi, dan Manusia

Menurut Sutiyo & Keshav Lall Maharjan dalam buku yang berjudul Decentralization and Rural Development in Indonesia, desentralisasi tingkat desa memungkinkan masyarakat menjadi pelaku utama dalam pembangunan daerahnya. Hal itu tampak jelas di Boon Pring, dimana pengelolaan oleh BUMDes bukan hanya soal administratif, melainkan cerminan dari kemandirian warga yang tumbuh dari akar budaya gotong royong.

Boon Pring bukan sekadar hutan bambu yang dirawat rapi. Di sini, lebih dari 100 jenis bambu tumbuh berdampingan, menopang telaga luas dan enam mata air yang tak pernah kering. Bambu-bambu itu bukan hanya peneduh, melainkan penjaga air, rumah bagi satwa, sekaligus sumber bahan kriya yang bernilai.

Namun, harmoni alam saja tidak cukup. Hadirnya BUMDes Kertoraharjo mengubah potensi itu menjadi kekuatan ekonomi. Dari omzet miliaran rupiah, puluhan warung hidup di sekitar lokasi, menyediakan makanan hingga oleh-oleh bagi pengunjung. Warga yang dahulu bertani dengan hasil pas-pasan kini punya pekerjaan baru sebagai pengelola, pedagang, pemandu, atau pengrajin kriya bambu.

 

Sumber: https://mojokerto.jatimtimes.com/baca/205509/20191129/063200/miliki-72-jenis-bambu-ekowisata-boon-pring-raup-miliaran-rupiah

Lebih dari itu, Boon Pring menumbuhkan harmoni manusia. Gotong royong terasa nyata: dari menanam, menjaga kebersihan, hingga melestarikan tradisi lokal seperti waker dan brubuh. Ada rasa memiliki yang membuat setiap orang merasa terlibat, seolah Boon Pring bukan hanya milik desa, melainkan milik setiap hati yang mencintai alam.

Keputusan menjadikan Boon Pring sebagai ekowisata sejak 2017 adalah titik balik besar. Dengan dukungan dana desa, masyarakat membuktikan bahwa desa bisa mengelola potensinya sendiri tanpa merusak alam.

Hasilnya nyata: omzet mencapai Rp 2,8 miliar pada 2018 dan dilaporkan terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya hingga 5 miliar. Status desa pun meningkat menjadi desa mandiri, dan yang terpenting, bambu serta sumber air tetap terjaga. Dampak sosialnya pun terasa: warga punya pekerjaan tetap, UMKM bertumbuh, tradisi lestari, dan kebanggaan desa meningkat.

Tidak heran jika pada 2022 Sanankerto dipilih Astra sebagai salah satu Desa Sejahtera binaannya. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa langkah kecil yang dimulai dari menanam bambu dan merawat telaga dapat menumbuhkan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Boon Pring membuktikan bahwa desa bisa bangkit tanpa kehilangan jati dirinya. Dari rimbun bambu lahir cerita tentang harmoni alam, ekonomi, dan manusia.

Setiap desir angin yang menggoyang bambu seolah berbisik bahwa kekuatan sebuah desa terletak pada kebersamaan dan cinta pada tanahnya sendiri. Dan setiap kali saya pulang dari Boon Pring, hati saya selalu terasa ringan, seolah ikut membawa pulang harmoni yang tumbuh dari desa itu.

Jika satu desa mampu mengubah wajahnya dari sunyi bambu menjadi simfoni kehidupan, bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh ratusan desa lain di Indonesia. Maka, Boon Pring bukan sekadar destinasi wisata, melainkan teladan. Ia adalah cermin tentang bagaimana alam dan manusia bisa hidup berdampingan, saling menghidupi, dan bersama-sama menorehkan harapan bagi masa depan. #APAxKBN2025


Referensi:

Ketika Masa Lalu Berubah Menjadi Karya

Beberapa hari lalu saya kembali membaca tulisan lama tentang buku Kening Fitrop karya Fitri Tropika . Di waktu yang hampir bersamaan, sebua...