Drama yang membuat saya setelah selesai episode pertamanya langsung berucap, “Kenyang banget habis nonton.”
Serius, ini drama dengan durasi yang sama seperti drama lain, tapi isinya banyak banget dan nggak terasa loncat-loncat. Semua berjalan runut dan perlahan. Bahkan ketika dramanya sedang diam, rasanya tetap ada sesuatu yang bergerak di dalamnya. Jarang sekali saya menemukan drama yang ritmenya pelan tapi tetap terasa penuh seperti ini.
Yang membuat saya beberapa kali mengernyitkan dahi mungkin hanya perbedaan culture antara penulis dan diri saya, juga cara memandang suatu keadaan. Tapi saya rasa itu memang wajar. Saya sampai harus sedikit memutar sudut pandang saya menjadi sudut pandang penulis untuk memahami pola pikir setiap karakternya. Namun justru itu yang membuat drama ini terasa punya suara khasnya sendiri.
Kalau kamu ingat drama My Liberation Notes (2022) dan My Mister (2018), ya, penulisnya sama: Park Haeyoung. Dan kalau boleh sedikit memberi note di sini, My Mister adalah salah satu drama kesayangan saya.
Ada satu bagian yang benar-benar bikin saya larut di dalamnya, yakni di episode 11 ketika Go Hyejin yang selama ini terlihat begitu keras tiba-tiba menunjukkan sisi rapuhnya. Tepatnya ketika dia akhirnya mengakui bahwa dirinya benar-benar cemburu dan dilema melihat suaminya, Park Gyeongse, tertarik dan jatuh cinta lagi pada seorang wanita muda yang menjadi asisten penulisnya.
Padahal faktanya, wanita itu Hyejin sendiri yang merekomendasikan.
Dan menurut saya, di situlah letak sakitnya.
Di satu sisi, Hyejin sadar bahwa keberadaan asisten penulis itu membuat tulisan suaminya jadi lebih hidup dan menarik. Tapi di sisi lain, dia juga tetap seorang istri. Dan rasanya pasti menyakitkan ketika ada orang lain yang bisa membantu suaminya menulis dengan lebih baik—dan orang itu bukan dirinya.
Saya suka bagaimana drama ini menunjukkan dua emosi yang bertabrakan itu secara bersamaan. Antara tulus mendukung dan diam-diam terluka. Kang Malgeum benar-benar berhasil memperlihatkan rasa sakit itu tanpa perlu banyak ledakan emosi. Kelihatan banget sakitnya.
Apalagi yang mau saya bahas, ya?
Oh ya, kalau kamu biasa menonton drama Korea yang isinya cogan-cogan, sorry to say, you won’t really see them in this drama. Karena bahkan Park Haejoon yang setampan itu dibuat terlihat sangat suram di sini. Dan sejujurnya, awalnya itu juga yang membuat saya kurang tertarik menonton drama ini. Tokoh utamanya terasa sangat “biasa” dibanding lelaki-lelaki drama Korea pada umumnya.
Tapi justru sekali lagi, itu yang membuat We Are All Trying Here terasa layak ditonton.
Drama ini tidak sibuk membuat karakternya terlihat keren. Drama ini sibuk membuat mereka terasa hidup.
Dan mungkin itu alasan kenapa saya merasa “kenyang” setelah menontonnya. Karena rasanya seperti sedang melihat manusia-manusia biasa yang sama-sama sedang menjalani hidupnya masing-masing dengan segala lelah, cinta, ego, kecewa, dan sepinya sendiri.
Saya bukan orang yang suka mengulang drama setelah selesai menontonnya, apa pun itu. Tapi drama ini sepertinya akan jadi salah satu dari sedikit drama yang akan saya tonton ulang lagi suatu hari nanti.
Oh iya, sepertinya saya melupakan satu hal.
Selama menonton drama ini, saya sempat beberapa kali berpikir: apakah sebenarnya ada sosok penulisnya sendiri di dalam drama ini?
Kalau menurut saya, ada.
Dia adalah Lee Junhwan—sang pengamat.
Tokoh yang tidak selalu berada di tengah, tapi justru terasa seperti orang yang diam-diam melihat semuanya.




