Tuesday, 23 June 2026

Tak Ada yang Kebetulan di Dunia Ini

Kemarin sore saya mencoba merapikan Journal di Notion dan membaca kembali The Great Reset 2026-2031 yang saya buat akhir tahun lalu. Saya kembali diingatkan pada tumpukan harapan yang coba saya susun itu.


Tulisan di awalnya berbunyi, "Dalam lima tahun, aku hidup dengan ibadah sebagai pusat langkahku—tenang, teratur, dan penuh kesadaran."



Dari kalimat itu saya mulai membuat awan di tengah kanvas di Canva dan menuliskan kata Ibadah di dalamnya. Lalu tiga panah melingkar dan tiga oval doodle mulai saya tempelkan. Pada masing-masing ovalnya saya tuliskan: Tenang, Teratur, dan Sadar. Ketiganya semacam inti yang harus saya ingat, bahwa dalam 5 tahun 4,5 tahun kedepan ketiganya akan saya usahakan ada setiap hari.

Kemudian saya menuliskan 9 kategori di kanvas. Saya menggunakan kategori-kategori tersebut sebagai cabang untuk memudahkan kerangka berpikir dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari Spiritual Life hingga Integrated Life.


Sekitar beberapa jam kemudian saat sedang menonton video di sosial media, ketika dalam keadaan yang benar-benar santai, saya seperti diingatkan kembali pada tulisan di tengah kanvas Canva tadi: Ibadah.


Sebuah video berputar. Isinya menunjukkan bahwa betapa ketika kita mendahulukan Allah maka semua yang kita inginkan dan butuhkan akan datang, bahkan sebelum diminta. Yang intinya: habiskan lebih banyak waktu untuk Allah, bukan hanya kuantitas, tapi juga kualitas.


Link videonya di sini >>>


Ah, saya jadi tersadar bahwa selama ini mungkin saja saya lebih memprioritaskan kuantitas dan mengesampingkan kualitas. Ya, terkadang saya memang merasa seperti dikejar-kejar sesuatu ketika sholat, seperti terburu-buru mengerjakannya. Seperti ada perasaan "Yang penting selesai." Terasa kurang meresapi dan menikmati.


Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan sebuah video datang pada saya pasti bukan karena kebetulan. Seperti Allah sedang menggerakkan semesta untuk mengarahkan apa yang perlu saya tonton, renungkan, dan lakukan. Mungkin saya bisa mulai lagi dari sisi itu untuk memperbaiki hubungan saya dengan Allah, dengan memperbaiki Sholat saya. Dan jika kamu baca hingga bagian ini, bisa jadi Allah ingin kita bergerak bersama.


"Allah, Allah lagi, Allah terus, Allah aja."



Saturday, 20 June 2026

Cerita Membuat Logo Usaha dengan Bantuan Kecerdasan Buatan (AI)

Pernah bingung mau bikin logo seperti apa agar terlihat lebih menarik dan profesional? Mau minta tolong ahlinya kok sepertinya segan dan ada rasa ketakutan masalah biaya yang mungkin dikeluarkan. Saya juga mengalami hal yang sama. Beberapa waktu lalu sempat terpikir bagaimana cara membuat desain dengan kemampuan desain yang minim seperti saya, sampai akhirnya saya mencoba untuk meminta bantuan AI membuatkan desain logo baru.


Saya menuliskan prompt di kolom yang tersedia, lalu menyertakan kedua logo lama kami di atas, dan AI membuatkan semua analisanya terhadap kedua logo tersebut.


Wow! Mulut saya menganga membacanya.

Belum selesai sampai di situ, saya dibuat terkejut lagi karena di bawahnya ada penjelasan panjang dan detail tentang analisis brand saat ini.


Kalau kamu bertanya-tanya, "Emang bisa segitu detailnya?" Saya jawab iya, serius. AI seserius itu balas prompt saya. Dia bahkan kasih saya dua konsep logo baru dengan maskot, gaya dan ekspresi maskot. AI juga kasih saya palet warna, mulai dari primary, secondary, accent, highlight, dan kesan yang muncul dari warna-warna yang dia pilihkan tersebut. Font, beberapa alternatif slogan, karakter maskot-nama dan cerita/karakterisasi, konsep booth, juga rekomendasi arah branding.

Saya tidak langsung menerima semua yang dia berikan. Jadi, saya meminta diskusi.

Kamu tahu, dia kemudian memberi saya sekitar empat pertanyaan yang berisi beberapa poin yang bisa saya pilih. Lalu dia memberikan kembali jawaban yang lebih detail dari sebelumnya. Kamu selalu bisa meminta rekomendasi darinya ketika tidak ada satu pun ide yang muncul di kepala.

Ketika konsep maskot dan lain sebagainya bernar-benar abstrak tak berbentuk di kepala saya, saya memintanya membuatkan prompt untuk membuat logo yang sesuai dengan apa yang kami bahas di atas, lengkap dengan semua saran dan rekomendasi darinya.

Kemudian saya memasukkan prompt yang dia hasilkan ke dalam kotak dialog di chat baru untuk menghasilkan gambar. Gambar ini yang dia berikan:


Wow!

Sejujurnya saya tercengang melihatnya. Sudah secanggih ini kah AI di tahun 2026, padahal belum lama saya menggunakan AI generasi pertama dan hasilnya benar-benar buruk, terlebih untuk yang mengandung kata, apalagi kalimat. Ngasal. Hurufnya ada yang hilang satu dan berantakan. Tapi ini jauh dari ekspektasi saya. Sekali lagi mulut saya menganga.

Kamu tahu apa yang saya lakukan setelahnya?

Saya mengirimkan gambar ini di obrolan pertama saya-bukan obrolan tentang gambar tapi tentang diskusi di awal tadi.

Bisa tebak jawaban apa yang dia berikan? 

Dia menganalisa hasil gambarnya sendiri. Wow! Dia bahkan memberikan rekomendasi dan saran di akhir jawabannya. Amazing!

Saya jadi berpikir, ini saya yang jahil atau dia yang kelewat cerdas? Saya putuskan keduanya benar: Saya memang jahil karena meminta dia menganalisa hasilnya sendiri dan dia juga kelewat cerdas. Kamu tahu tiba-tiba saya teringat tulisan Spiritual Awakening Stories: The First Strike tentang Meta Cognition-kemampuan mengamati diri sendiri. AI belajar dari apa yang kita ajarkan ke dia dan mengambil kesalahan-kesalahan yang dia perbuat untuk memperbaiki diri. Wait, sounds familiar. Is AI INFJ? Atau Mature INFJs itu robot? Haha. Ini cuma pikiran yang tiba-tiba muncul dari seorang penulis asosiatif.

Okay, kembali ke AI.

Saya akhirnya memutuskan untuk menjahilinya kembali agar dia membuatkan prompt gambar lagi. Kali ini saya memintanya memperbaiki prompt dengan mempertimbangkan analisis yang dia hasilkan terhadap logo yang dia buat.

Kali ini dia memberikan prompt yang jauh lebih detail, dan saya kembali mengulang prosesnya: Copy prompt dari dia, paste di chat baru, dan dalam beberapa waktu saja dia sudah memberi saya gambar yang baru.


Coba hitung berapa kali saya bilang: Wow! Ya, saya amaze dengan hasilnya. Ini benar-benar membuat saya menyadari sesuatu, perkembangan AI begitu pesat dalam kurun waktu singkat. Mungkinkah peran manusia bisa digantikan, akan coba saya bahas di post lain, ya.

Namun, AI persis seperti pisau bermata dua. AI bisa jadi sangat destruktif jika dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan hal-hal negatif, tapi jika digunakan untuk membantu kita bekerja dengan jauh lebih cepat dan lebih cerdas, AI bisa sangat positif.

Dan saya memutuskan untuk menggunakan logo kedua karena setelah diskusi dengan suami, logo ini lebih mencerminkan brand kami.

Oh ya, dia bahkan memberikan prompt untuk logo yang tampak sangat profesional.



Tampak profesional, isn't it?

Terima kasih sudah membaca sampai bagian ini, see you in the next article.



Friday, 19 June 2026

Drama yang Tidak Sibuk Membuat Tokohnya Terlihat Keren

Sejujurnya saya menonton drama We Are All Trying Here ini karena post Barangkali Kita Sama-sama Sedang Berjuang yang saya baca lagi beberapa waktu lalu. Rasanya seperti ada sesuatu yang tersambung begitu saja. Dan ternyata benar, drama ini memang meninggalkan rasa yang cukup dalam setelah saya menontonnya.

Drama yang membuat saya setelah selesai episode pertamanya langsung berucap, “Kenyang banget habis nonton.”

Serius, ini drama dengan durasi yang sama seperti drama lain, tapi isinya banyak banget dan nggak terasa loncat-loncat. Semua berjalan runut dan perlahan. Bahkan ketika dramanya sedang diam, rasanya tetap ada sesuatu yang bergerak di dalamnya. Jarang sekali saya menemukan drama yang ritmenya pelan tapi tetap terasa penuh seperti ini.

Yang membuat saya beberapa kali mengernyitkan dahi mungkin hanya perbedaan culture antara penulis dan diri saya, juga cara memandang suatu keadaan. Tapi saya rasa itu memang wajar. Saya sampai harus sedikit memutar sudut pandang saya menjadi sudut pandang penulis untuk memahami pola pikir setiap karakternya. Namun justru itu yang membuat drama ini terasa punya suara khasnya sendiri.

Kalau kamu ingat drama My Liberation Notes (2022) dan My Mister (2018), ya, penulisnya sama: Park Haeyoung. Dan kalau boleh sedikit memberi note di sini, My Mister adalah salah satu drama kesayangan saya.

Ada satu bagian yang benar-benar bikin saya larut di dalamnya, yakni di episode 11 ketika Go Hyejin yang selama ini terlihat begitu keras tiba-tiba menunjukkan sisi rapuhnya. Tepatnya ketika dia akhirnya mengakui bahwa dirinya benar-benar cemburu dan dilema melihat suaminya, Park Gyeongse, tertarik dan jatuh cinta lagi pada seorang wanita muda yang menjadi asisten penulisnya.

Padahal faktanya, wanita itu Hyejin sendiri yang merekomendasikan.

Dan menurut saya, di situlah letak sakitnya.

Di satu sisi, Hyejin sadar bahwa keberadaan asisten penulis itu membuat tulisan suaminya jadi lebih hidup dan menarik. Tapi di sisi lain, dia juga tetap seorang istri. Dan rasanya pasti menyakitkan ketika ada orang lain yang bisa membantu suaminya menulis dengan lebih baik—dan orang itu bukan dirinya.

Saya suka bagaimana drama ini menunjukkan dua emosi yang bertabrakan itu secara bersamaan. Antara tulus mendukung dan diam-diam terluka. Kang Malgeum benar-benar berhasil memperlihatkan rasa sakit itu tanpa perlu banyak ledakan emosi. Kelihatan banget sakitnya.

Apalagi yang mau saya bahas, ya?

Oh ya, kalau kamu biasa menonton drama Korea yang isinya cogan-cogan, sorry to say, you won’t really see them in this drama. Karena bahkan Park Haejoon yang setampan itu dibuat terlihat sangat suram di sini. Dan sejujurnya, awalnya itu juga yang membuat saya kurang tertarik menonton drama ini. Tokoh utamanya terasa sangat “biasa” dibanding lelaki-lelaki drama Korea pada umumnya.

Tapi justru sekali lagi, itu yang membuat We Are All Trying Here terasa layak ditonton.

Drama ini tidak sibuk membuat karakternya terlihat keren. Drama ini sibuk membuat mereka terasa hidup.

Dan mungkin itu alasan kenapa saya merasa “kenyang” setelah menontonnya. Karena rasanya seperti sedang melihat manusia-manusia biasa yang sama-sama sedang menjalani hidupnya masing-masing dengan segala lelah, cinta, ego, kecewa, dan sepinya sendiri.

Saya bukan orang yang suka mengulang drama setelah selesai menontonnya, apa pun itu. Tapi drama ini sepertinya akan jadi salah satu dari sedikit drama yang akan saya tonton ulang lagi suatu hari nanti.

Oh iya, sepertinya saya melupakan satu hal.

Selama menonton drama ini, saya sempat beberapa kali berpikir: apakah sebenarnya ada sosok penulisnya sendiri di dalam drama ini?

Kalau menurut saya, ada.

Dia adalah Lee Junhwan—sang pengamat.

Tokoh yang tidak selalu berada di tengah, tapi justru terasa seperti orang yang diam-diam melihat semuanya.

Thursday, 18 June 2026

Lorong-lorong Kecil dalam Labirin di Kepalaku

Lorong-lorong Kecil dalam Labirin di Kepalaku

karya: Rani Gitayati


Aku menemukan lorong-lorong kecil
dalam labirin di kepalaku.

Lorong-lorong kecil yang nyaris
tak pernah kusadari ada, jika saja aku
tidak memaksa diriku untuk melewatinya
satu demi satu.

Berbekal arang hitam di tangan,
kutinggalkan coretan di setiap persimpangan—
tanda bahwa aku pernah ragu dan takut tersesat di sana.


Kucoba setiap jalurnya perlahan, sambil mengamati
dinding-dinding sunyi itu, dan anehnya,
aku seperti kembali pada banyak hal.

Sebagian terasa asing, seperti tempat
yang belum pernah dijejaki siapa pun—
bahkan oleh diriku sendiri. 

Namun, entah mengapa, rasa sakit di dalamnya
seperti mengenaliku dengan baik.
Getirnya.
Pahitnya.
Sesaknya.
Semua itu rasanya pernah
nyaris menenggelamkanku.

Aku bahkan hampir muntah. Hampir menyerah dan
membiarkan diriku tinggal dan tersesat di sana.

Namun di sinilah aku,
masih menyusuri lorong-lorong itu,
sambil belajar mengatur napasku,
sambil perlahan memuntahkan sedikit demi sedikit
hal-hal yang terlalu lama menetap di dalam diriku.

Ya, di sinilah aku sekarang.


Monday, 15 June 2026

Barangkali Kita Sama-sama Sedang Berjuang

Ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas di kepala saya. Tentang ekonomi, kehidupan, dan perjuangan yang diam-diam sedang dipikul banyak orang. Tentang alasan mengapa belakangan ini saya mulai lebih mudah melunak ketika seseorang datang mendekat.

Semuanya berawal ketika saya mengamati lalu lalang pedagang di depan warung Adzaib Delight. Ada yang menawarkan dagangan, ada pengamen yang singgah sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.

Entah kenapa pemandangan itu mengingatkan saya pada sebuah judul drama yang bahkan belum pernah saya tonton*: We Are All Trying Here.

Dan tiba-tiba saya merasa kalimat itu begitu pas.

Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, rasanya kita semua memang sedang berusaha. Pedagang, pengamen, pekerja kantoran, pemilik usaha kecil, bahkan mungkin pimpinan perusahaan yang sedang memikirkan cara agar usahanya tetap bertahan. Masing-masing sedang membawa bebannya sendiri. Masing-masing sedang berusaha menyambung hari.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: mengapa harus begitu pelit untuk berbagi? Mengapa harus menggenggam apa yang kita miliki terlalu erat?

Bukankah roda kehidupan ini bergerak karena kita saling menguatkan?

Sejak saat itu, setiap kali seorang pengamen datang, saya tidak lagi langsung berpikir untuk sekadar melambaikan tangan dan mempersilahkannya pergi. Saya mulai berpikir bahwa mungkin kami berada di perahu yang sama. Dengan bentuk perjuangan yang berbeda, tetapi tujuan yang serupa: bertahan hidup, menjaga harapan, dan tetap waras menghadapi dunia.

Karena pada akhirnya, we are all trying here.

Kita semua sedang berusaha.


Update tanggal 19 Juni:

*Saya baru saja menghabiskan 11 dari 12 episodenya kemarin

Tak Ada yang Kebetulan di Dunia Ini

Kemarin sore saya mencoba merapikan Journal di Notion dan membaca kembali The Great Reset 2026-2031 yang saya buat akhir tahun lalu. Saya k...