Ibrahim sekarang sudah TK B. Akhir-akhir ini saya mulai menyadari bahwa kemampuan menulisnya masih cukup jauh dari yang saya harapkan. Sebenarnya, hal ini cukup membingungkan bagi saya. Karena kalau bicara tentang huruf dan angka, Ibrahim sudah mengenalnya sejak cukup kecil. Sekitar usia 2,5 tahun, dia sudah mulai mengenal huruf dan angka. Bukan karena saya duduk mengajarinya dengan serius setiap hari. Ibrahim justru senang bermain dengan huruf dan angka—menyebutkan huruf, mencari huruf tertentu, memperhatikan angka, dan menghubungkan simbol dengan sesuatu yang dia kenal. Bahkan saat ini penjumlahan pun dia sudah bisa.
Hal-hal kecil seperti itu sudah muncul sejak dia masih kecil. Karena itu, saya sempat berpikir, kalau dia sudah mengenal huruf dan angka sejak kecil, nanti kemampuan menulis pasti akan mengikuti. Ternyata tidak sesederhana itu.
Kumpulan Artikel Perjalanan Ibrahim: Kejar Menulis TK B — 30 Hari
Ketika Mengenal Huruf Tidak Otomatis Berarti Bisa Menulisnya
Sekarang saya melihat sendiri perbedaannya. Ibrahim bisa mengenali huruf, bisa menyebut beberapa huruf, dan mengenal angka. Tetapi ketika pensil diberikan dan saya berkata, “Coba tulis huruf ini,” kemampuannya jadi terasa berbeda.
Tangannya sudah tahu harus bergerak ke mana, tapi garisnya masih belum konsisten dan bentuk hurufnya belum stabil. Kadang bahkan masih membutuhkan bantuan. Dari situ saya mulai menyadari bahwa mengenali sebuah simbol dan menghasilkan simbol itu dengan tangan ternyata adalah dua hal yang berbeda.
Ibrahim mungkin sudah tahu bahwa sebuah bentuk adalah huruf A. Namun, mengetahui A dan mampu membuat A membutuhkan keterampilan yang berbeda.
Lalu Saya Mulai Merasa Cemas
Awalnya saya tidak terlalu memikirkan hal ini. Saya tahu setiap anak berkembang dengan kecepatannya masing-masing. Tetapi kemudian saya mulai melihat pekerjaan teman-temannya.
Ada yang sudah lancar menyalin kata. Ada yang mulai bisa menulis tanpa melihat contoh. Bahkan ada yang sudah memahami soal cerita matematika. Lalu saya melihat pekerjaan Ibrahim dan tanpa sadar mulai membandingkan.
“Apakah Ibrahim tertinggal?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi sebagai ibu rasanya tidak sesederhana itu. Mulai muncul pertanyaan-pertanyaan lain. Apakah saya kurang melatihnya? Apakah seharusnya dari dulu saya lebih sering mengajaknya menulis? Apakah saya terlambat menyadari? Atau memang kemampuan menulisnya membutuhkan lebih banyak waktu?
Saya tidak punya jawabannya. Dan justru karena itulah saya mulai mencari tahu.
Saya Memutuskan untuk Mencari Tahu
Daripada terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan, akhirnya saya memilih membaca dan mencari informasi. Saya membaca beberapa artikel tentang kemampuan menulis anak usia dini, kesiapan menulis, motorik halus, koordinasi mata dan tangan, serta tahapan latihan menulis.
Dari sana saya mendapatkan sudut pandang yang membuat saya sedikit lebih tenang.
Ternyata menulis bukan sekadar soal “anak sudah mengenal huruf atau belum.” Ada banyak keterampilan yang harus bekerja bersama. Anak perlu mengontrol gerakan tangan, menggerakkan pensil sesuai arah, mengkoordinasikan mata dan tangan, mengikuti pola, memahami bentuk, mengingat bagaimana sebuah bentuk dibuat, dan mempertahankan perhatian ketika menyelesaikan sebuah bentuk.
Jadi mungkin selama ini saya terlalu melihat kemampuan Ibrahim dari satu sisi:
“Dia sudah tahu huruf.”
Padahal ada pertanyaan lain yang ternyata tidak kalah penting:
“Apakah tangannya sudah siap membuat huruf?”
Ada Jarak antara Tahu dan Bisa
Saya kemudian mulai melihat kemampuan Ibrahim dengan cara yang berbeda.
Ada perbedaan antara mengenali huruf dan menulis huruf. Ada perbedaan antara tahu bahwa ini angka 5 dan mampu membuat bentuk angka 5 dengan pensil. Ada pula perbedaan antara melihat tulisan dan menghasilkan tulisan.
Dan mungkin, justru jarak itulah yang sedang perlu kami bangun.
Bukan pengetahuan tentang hurufnya, tetapi kemampuan tangannya untuk menerjemahkan apa yang sudah dia ketahui menjadi bentuk di atas kertas.
Kesadaran sederhana ini membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana seharusnya kami berlatih.
Jadi Saya Tidak Ingin Mengulang Alfabet dari Nol
Ibrahim sebenarnya sudah mengenal cukup banyak huruf dan angka, saya tidak ingin membuatnya menghabiskan waktu hanya untuk menghafalkan alfabet lagi. Yang ingin saya bangun adalah keterampilan menulisnya.
Maka saya mulai menyusun kembali tahapannya.
Dan ternyata, kami harus kembali beberapa langkah sebelum sampai ke huruf.
Tahap Pertama: Garis
Garis mendatar, garis tegak, garis miring, zig-zag, gelombang, dan lengkungan.
Awalnya saya sempat berpikir, “Apakah ini tidak terlalu mudah untuk anak TK B?” Tetapi kemudian saya memahami bahwa latihan ini bukan tentang membuat garis yang cantik. Ini tentang mengontrol gerakan tangan.
Anak belajar mengikuti arah, mengatur gerakan, menghentikan pensil, dan mengubah arah. Keterampilan-keterampilan sederhana itu nantinya akan digunakan ketika ia membuat huruf.
Jadi mungkin kami memang perlu mundur beberapa langkah. Bukan karena Ibrahim tidak tahu huruf, tetapi karena tangannya masih perlu berlatih.
Tahap Kedua: Bentuk
Setelah garis, kami akan masuk ke bentuk: lingkaran, lengkungan, diagonal, dan gabungan garis.
Bentuk-bentuk yang kelihatannya sederhana ini ternyata banyak menjadi bagian dari huruf. O membutuhkan lingkaran. A membutuhkan garis diagonal. T membutuhkan garis tegak dan mendatar. L juga dibangun dari garis tegak dan mendatar.
Dengan cara seperti ini, saya mulai melihat bahwa huruf sebenarnya tidak muncul begitu saja.
Huruf dibangun dari bentuk.
Tahap Ketiga: Huruf
Baru setelah itu kami masuk ke latihan huruf. Saya ingin menggunakan urutan sederhana:
Lihat → Sebut → Trace → Salin → Coba Sendiri.
Bukan langsung memberikan satu halaman penuh huruf dan meminta anak menulis semuanya.
Misalnya untuk huruf A, pertama-tama anak melihat A, kemudian mengenali dan menyebutkannya. Setelah itu mengikuti bentuknya, menyalinnya, dan baru mencoba menulis sendiri.
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar “anak bisa tracing.”
Tujuannya adalah:
“Anak bisa menulis.”
Tahap Keempat: Nama Sendiri
Setelah huruf mulai lebih familiar, kami akan masuk ke sesuatu yang lebih personal: nama. Dia mungkin sudah bisa menulis namanya sendiri, tapi membuatnya lebih terampil dan rapi menuliskan namanya, itu PR kami.
IBRAHIM.
Menurut saya, ini akan menjadi salah satu bagian yang menyenangkan karena nama bukan sekadar kumpulan huruf. Nama adalah sesuatu yang berkaitan langsung dengan dirinya.
Saya ingin perlahan mengajaknya melihat namanya, menebalkan namanya, menyalin namanya, dan akhirnya mencoba menulis namanya sendiri dengan lebih rapi.
Tahap Kelima: Dari Huruf ke Kata
Setelah itu, kami akan bergerak ke kombinasi yang sederhana.
MA – MI – MU – ME – MO
BA – BI – BU – BE – BO
Kemudian kata-kata sederhana seperti MAMA, PAPA, BOLA, BUKU, dan MATA.
Tidak perlu banyak. Saya lebih ingin satu kata yang berhasil ditulis dengan lebih mandiri daripada sepuluh kata yang ditulis sambil terpaksa.
Dari Kecemasan Menjadi Sebuah Eksperimen
Setelah membaca, merangkum, dan menyusun semua yang saya pahami, akhirnya saya punya sebuah ide.
Daripada terus cemas tentang apakah Ibrahim tertinggal atau tidak, kenapa tidak kami coba latihan secara terstruktur selama 30 hari?
Bukan eksperimen ilmiah atau program terapi. Ini hanya sebuah percobaan kecil di rumah.
Saya ingin melihat apa yang terjadi kalau kami melatih kemampuan menulisnya sedikit demi sedikit, setiap hari, selama 30 hari.
Maka saya membuat:
Kejar Menulis TK B — 30 Hari
Saya membaginya menjadi empat tahap.
Hari ke-29 menjadi mini assessment, sedangkan hari ke-30 menjadi hari perayaan.
Bukan ujian. Hanya sebuah kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang sudah kami lalui.
Saya Tidak Tahu Apa yang Akan Terjadi dalam 30 Hari
Saya tidak ingin membuat janji bahwa setelah 30 hari Ibrahim pasti lancar menulis. Saya juga tidak ingin menggunakan challenge ini untuk memberi label bahwa Ibrahim “tertinggal”.
Saya hanya ingin mencoba.
Mungkin setelah beberapa hari dia akan lebih nyaman memegang pensil. Mungkin garisnya mulai lebih terkontrol. Mungkin dia mulai bisa menulis beberapa huruf. Mungkin dia bisa menulis namanya. Atau mungkin beberapa hal membutuhkan waktu lebih lama.
Tidak apa-apa.
Karena setiap anak punya perjalanan yang berbeda.
Dan 30 hari ini bukan batas. Ini hanya 30 hari latihan yang kami pilih untuk dijalani dengan lebih terarah.
Saya Tidak Ingin Ibrahim Merasa Sedang Dikejar
Lucunya, saya memberi nama program ini Kejar Menulis, padahal sebenarnya saya tidak ingin membuat Ibrahim merasa dikejar. Nama itu lebih merupakan gambaran dari situasi yang sedang kami hadapi, yaitu mencoba mengejar keterampilan yang mungkin belum sempat berkembang sesuai dengan kebutuhannya, bukan mengejar anak lain atau memaksanya mencapai sesuatu dalam waktu tertentu. Saya tidak ingin dia merasa harus menyamai teman-temannya, apalagi merasa dirinya kurang hanya karena tulisan teman-temannya terlihat lebih rapi atau lebih baik. Saya juga tidak ingin pensil dan worksheet yang seharusnya menjadi alat belajar justru berubah menjadi sumber tekanan baginya.
Saya hanya ingin membantunya mengembangkan keterampilan yang memang sedang perlu dilatih, dengan cara yang tetap terasa ringan dan menyenangkan. Kalau hari ini dia hanya mampu membuat beberapa garis dengan lebih baik daripada kemarin, saya ingin belajar melihatnya sebagai sebuah kemajuan. Kalau minggu depan dia bisa menulis satu huruf tanpa bantuan, itu juga sebuah kemajuan. Mungkin tujuan sebenarnya bukan lagi bertanya, “Kapan Ibrahim bisa seperti anak lain?”, tetapi mengubah pertanyaannya menjadi, “Apa yang bisa Ibrahim lakukan hari ini yang belum bisa dia lakukan kemarin?” Karena pada akhirnya, yang ingin saya lihat bukan seberapa cepat dia mengejar anak lain, tetapi bagaimana dia berkembang dari titik tempat dia memulai.
Mungkin Ini Juga yang Perlu Saya Ingat sebagai Ibu
Sebagai ibu, saya menyadari bahwa ada kalanya saya terlalu mudah melihat hasil, terutama ketika hasil itu terlihat jelas di depan mata. Saya melihat tulisan anak lain, buku tugas anak lain, kemampuan anak lain, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan apa yang bisa dilakukan oleh anak saya sendiri. Padahal setiap anak datang dengan perjalanan yang berbeda, dan mungkin sesuatu yang terlihat sederhana bagi seorang anak membutuhkan waktu yang lebih panjang bagi anak yang lain.
Ibrahim sudah memiliki ketertarikan pada huruf dan angka sejak kecil, dan sekarang mungkin waktunya saya membantu kemampuan tangannya mengejar apa yang sebenarnya sudah dia kenali di kepalanya. Saya tidak ingin melakukannya dengan panik atau dengan terus membandingkannya dengan anak lain. Saya hanya ingin memberikan kesempatan untuk berlatih secara lebih terarah, sedikit demi sedikit, dengan latihan yang konsisten dan tetap sesuai dengan kemampuannya. Mungkin prosesnya tidak akan selalu cepat, tetapi saya ingin belajar menghargai setiap perubahan kecil yang muncul sepanjang perjalanan itu.
Jadi Besok Kami Mulai dari Garis
Jadi, besok kami tidak akan langsung mulai dari alfabet, tidak akan langsung mengerjakan satu halaman penuh, dan tidak akan menetapkan target besar yang harus dicapai dalam satu kali duduk. Kami akan mulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana, yaitu satu garis. Kemudian mungkin satu garis lagi, lalu keesokan harinya mencoba pola yang berbeda. Setelah itu perlahan kami akan bergerak menuju bentuk, kemudian huruf, nama, dan akhirnya kata.
Saya tidak tahu sampai sejauh mana kami akan sampai dalam 30 hari ini, tetapi saya ingin mencoba menjalani prosesnya dengan lebih terarah dan, kalau memungkinkan, membagikan perjalanan kami di sini. Mungkin ada ibu lain yang sedang berada di posisi yang sama, memiliki anak yang sudah mengenal huruf dan angka, mungkin bahkan sudah bisa membaca beberapa hal, tetapi ketika pensil diberikan semuanya terasa berbeda. Kalau memang begitu, mungkin kita tidak harus langsung panik atau merasa bahwa kita telah terlambat melakukan sesuatu. Mungkin kita hanya perlu berhenti sejenak dan kembali pada pertanyaan yang lebih sederhana: “Bagian mana yang sebenarnya perlu dilatih?”
Untuk kami, jawabannya sementara adalah menulis. Dan perjalanan itu akan kami mulai dari satu garis kecil, kemudian satu bentuk, satu huruf, dan perlahan satu kata. Tidak perlu terburu-buru, karena mungkin yang paling penting bukan seberapa cepat kami sampai di tujuan, tetapi bagaimana Ibrahim belajar menikmati perjalanan menuju ke sana.
Satu hari, satu latihan, satu langkah.

