Friday, 19 June 2026

Drama yang Tidak Sibuk Membuat Tokohnya Terlihat Keren

Sejujurnya saya menonton drama We Are All Trying Here ini karena post Barangkali Kita Sama-sama Sedang Berjuang yang saya baca lagi beberapa waktu lalu. Rasanya seperti ada sesuatu yang tersambung begitu saja. Dan ternyata benar, drama ini memang meninggalkan rasa yang cukup dalam setelah saya menontonnya.

Drama yang membuat saya setelah selesai episode pertamanya langsung berucap, “Kenyang banget habis nonton.”

Serius, ini drama dengan durasi yang sama seperti drama lain, tapi isinya banyak banget dan nggak terasa loncat-loncat. Semua berjalan runut dan perlahan. Bahkan ketika dramanya sedang diam, rasanya tetap ada sesuatu yang bergerak di dalamnya. Jarang sekali saya menemukan drama yang ritmenya pelan tapi tetap terasa penuh seperti ini.

Yang membuat saya beberapa kali mengernyitkan dahi mungkin hanya perbedaan culture antara penulis dan diri saya, juga cara memandang suatu keadaan. Tapi saya rasa itu memang wajar. Saya sampai harus sedikit memutar sudut pandang saya menjadi sudut pandang penulis untuk memahami pola pikir setiap karakternya. Namun justru itu yang membuat drama ini terasa punya suara khasnya sendiri.

Kalau kamu ingat drama My Liberation Notes (2022) dan My Mister (2018), ya, penulisnya sama: Park Haeyoung. Dan kalau boleh sedikit memberi note di sini, My Mister adalah salah satu drama kesayangan saya.

Ada satu bagian yang benar-benar bikin saya larut di dalamnya, yakni di episode 11 ketika Go Hyejin yang selama ini terlihat begitu keras tiba-tiba menunjukkan sisi rapuhnya. Tepatnya ketika dia akhirnya mengakui bahwa dirinya benar-benar cemburu dan dilema melihat suaminya, Park Gyeongse, tertarik dan jatuh cinta lagi pada seorang wanita muda yang menjadi asisten penulisnya.

Padahal faktanya, wanita itu Hyejin sendiri yang merekomendasikan.

Dan menurut saya, di situlah letak sakitnya.

Di satu sisi, Hyejin sadar bahwa keberadaan asisten penulis itu membuat tulisan suaminya jadi lebih hidup dan menarik. Tapi di sisi lain, dia juga tetap seorang istri. Dan rasanya pasti menyakitkan ketika ada orang lain yang bisa membantu suaminya menulis dengan lebih baik—dan orang itu bukan dirinya.

Saya suka bagaimana drama ini menunjukkan dua emosi yang bertabrakan itu secara bersamaan. Antara tulus mendukung dan diam-diam terluka. Kang Malgeum benar-benar berhasil memperlihatkan rasa sakit itu tanpa perlu banyak ledakan emosi. Kelihatan banget sakitnya.

Apalagi yang mau saya bahas, ya?

Oh ya, kalau kamu biasa menonton drama Korea yang isinya cogan-cogan, sorry to say, you won’t really see them in this drama. Karena bahkan Park Haejoon yang setampan itu dibuat terlihat sangat suram di sini. Dan sejujurnya, awalnya itu juga yang membuat saya kurang tertarik menonton drama ini. Tokoh utamanya terasa sangat “biasa” dibanding lelaki-lelaki drama Korea pada umumnya.

Tapi justru sekali lagi, itu yang membuat We Are All Trying Here terasa layak ditonton.

Drama ini tidak sibuk membuat karakternya terlihat keren. Drama ini sibuk membuat mereka terasa hidup.

Dan mungkin itu alasan kenapa saya merasa “kenyang” setelah menontonnya. Karena rasanya seperti sedang melihat manusia-manusia biasa yang sama-sama sedang menjalani hidupnya masing-masing dengan segala lelah, cinta, ego, kecewa, dan sepinya sendiri.

Saya bukan orang yang suka mengulang drama setelah selesai menontonnya, apa pun itu. Tapi drama ini sepertinya akan jadi salah satu dari sedikit drama yang akan saya tonton ulang lagi suatu hari nanti.

Oh iya, sepertinya saya melupakan satu hal.

Selama menonton drama ini, saya sempat beberapa kali berpikir: apakah sebenarnya ada sosok penulisnya sendiri di dalam drama ini?

Kalau menurut saya, ada.

Dia adalah Lee Junhwan—sang pengamat.

Tokoh yang tidak selalu berada di tengah, tapi justru terasa seperti orang yang diam-diam melihat semuanya.

Thursday, 18 June 2026

Lorong-lorong Kecil dalam Labirin di Kepalaku

Lorong-lorong Kecil dalam Labirin di Kepalaku

karya: Rani Gitayati


Aku menemukan lorong-lorong kecil
dalam labirin di kepalaku.

Lorong-lorong kecil yang nyaris
tak pernah kusadari ada, jika saja aku
tidak memaksa diriku untuk melewatinya
satu demi satu.

Berbekal arang hitam di tangan,
kutinggalkan coretan di setiap persimpangan—
tanda bahwa aku pernah ragu dan takut tersesat di sana.


Kucoba setiap jalurnya perlahan, sambil mengamati
dinding-dinding sunyi itu, dan anehnya,
aku seperti kembali pada banyak hal.

Sebagian terasa asing, seperti tempat
yang belum pernah dijejaki siapa pun—
bahkan oleh diriku sendiri. 

Namun, entah mengapa, rasa sakit di dalamnya
seperti mengenaliku dengan baik.
Getirnya.
Pahitnya.
Sesaknya.
Semua itu rasanya pernah
nyaris menenggelamkanku.

Aku bahkan hampir muntah. Hampir menyerah dan
membiarkan diriku tinggal dan tersesat di sana.

Namun di sinilah aku,
masih menyusuri lorong-lorong itu,
sambil belajar mengatur napasku,
sambil perlahan memuntahkan sedikit demi sedikit
hal-hal yang terlalu lama menetap di dalam diriku.

Ya, di sinilah aku sekarang.


Monday, 15 June 2026

Barangkali Kita Sama-sama Sedang Berjuang

Ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas di kepala saya. Tentang ekonomi, kehidupan, dan perjuangan yang diam-diam sedang dipikul banyak orang. Tentang alasan mengapa belakangan ini saya mulai lebih mudah melunak ketika seseorang datang mendekat.

Semuanya berawal ketika saya mengamati lalu lalang pedagang di depan warung Adzaib Delight. Ada yang menawarkan dagangan, ada pengamen yang singgah sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.

Entah kenapa pemandangan itu mengingatkan saya pada sebuah judul drama yang bahkan belum pernah saya tonton*: We Are All Trying Here.

Dan tiba-tiba saya merasa kalimat itu begitu pas.

Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, rasanya kita semua memang sedang berusaha. Pedagang, pengamen, pekerja kantoran, pemilik usaha kecil, bahkan mungkin pimpinan perusahaan yang sedang memikirkan cara agar usahanya tetap bertahan. Masing-masing sedang membawa bebannya sendiri. Masing-masing sedang berusaha menyambung hari.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: mengapa harus begitu pelit untuk berbagi? Mengapa harus menggenggam apa yang kita miliki terlalu erat?

Bukankah roda kehidupan ini bergerak karena kita saling menguatkan?

Sejak saat itu, setiap kali seorang pengamen datang, saya tidak lagi langsung berpikir untuk sekadar melambaikan tangan dan mempersilahkannya pergi. Saya mulai berpikir bahwa mungkin kami berada di perahu yang sama. Dengan bentuk perjuangan yang berbeda, tetapi tujuan yang serupa: bertahan hidup, menjaga harapan, dan tetap waras menghadapi dunia.

Karena pada akhirnya, we are all trying here.

Kita semua sedang berusaha.


Update tanggal 19 Juni:

*Saya baru saja menghabiskan 11 dari 12 episodenya kemarin

Saturday, 13 June 2026

Ketika Seorang Ahjussi Akhirnya Menjadi Tokoh Utama

Sebuah thread tiba-tiba muncul di feed saya. Seseorang bertanya apakah ada yang sedang menonton drama Korea berjudul The Dream Life of Mr. Kim. Entah kenapa, satu kalimat sederhana itu membuat saya penasaran. Beberapa menit kemudian saya sudah mencarinya dan mulai menonton.

Nggak seperti drakor pada umumnya yang bercerita tentang pemuda tampan yang pada akhirnya menemukan cinta impiannya, drama ini membawa cerita yang berbeda. Ini tentang seorang ahjussi berusia 50 tahun yang telah mendedikasikan 25 tahun hidupnya untuk satu perusahaan terbaik dan terkemuka.

Sosok seperti dia biasanya hanya muncul sebagai karakter pendukung di drama lain. Seorang atasan, ayah, atau pekerja biasa yang ceritanya hanya menjadi latar. Tapi kali ini, dialah tokoh utamanya.

Mr. Kim adalah gambaran seseorang yang percaya bahwa kerja keras, loyalitas, dan pengabdian akan membawa seseorang menuju tempat yang selama ini ia perjuangkan. Tinggal satu langkah lagi baginya untuk mencapai posisi eksekutif. Dengan pengalaman dan pengorbanan selama puluhan tahun, dia yakin impian itu akhirnya akan menjadi kenyataan.

Seperti impian banyak pekerja lainnya: memiliki pekerjaan yang stabil, posisi yang aman, keluarga yang utuh, dan rumah atas namanya sendiri.

Tapi semuanya runtuh ketika dia menyadari bahwa perusahaan yang selama ini menjadi bagian besar dari hidupnya ternyata tidak lagi membutuhkannya. Bukan dengan memecatnya secara langsung, tetapi perlahan membuatnya merasa tidak lagi memiliki tempat.

Dan menurut saya, di situlah drama ini menjadi menarik.

Ini bukan hanya cerita tentang kehilangan pekerjaan. Ini tentang kehilangan identitas.

Karena bagi sebagian orang, pekerjaan bukan sekadar cara mencari uang. Pekerjaan bisa menjadi tempat seseorang merasa berharga, tempat ia membuktikan diri, bahkan bagian dari siapa dirinya. Lalu ketika semua itu tiba-tiba hilang, muncul pertanyaan besar: kalau bukan sebagai seorang pekerja, lalu siapa diri kita?

Buat teman-teman yang mulai bosan dengan drakor romance, drama ini bisa menjadi pilihan yang menarik. Terutama untuk kamu yang bekerja, punya orang tua yang sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan, atau kamu yang terbiasa hidup dalam kompetisi dan mengejar pencapaian.

Mungkin setelah menonton drama ini, kamu bukan hanya memikirkan perjalanan Mr. Kim, tapi juga perjalananmu sendiri.

Tentang apa yang selama ini kamu kejar, apa yang membuatmu merasa bernilai, dan apakah hidupmu sudah lebih luas daripada sekadar pekerjaan atau pencapaian.

Menurut saya, The Dream Life of Mr. Kim bukan hanya layak ditonton. Drama ini juga layak direnungkan.

Friday, 12 June 2026

Taman yang Menua, Gagasan yang Terlupa

Selasa kemarin kami berkunjung ke sebuah taman bermain kota. Kami datang dengan ingatan tentang tempat yang dulu menjadi ruang nyaman bagi anak-anak bermain, dan bagi orang tua menghadirkan kebahagiaan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Namun, kami pulang dengan rasa terkejut melihat begitu banyak perubahan.

Tempat hiburan murah meriah di tengah kondisi ekonomi yang semakin menggigit ini masih tetap menjadi idola. Meski kini alasnya tak lagi serapi dulu. Karpet rumputnya mulai menganga di banyak bagian sambungan. Seluncuran spiral yang dulu menjadi favorit anak-anak yang mulai beranjak remaja, sekaligus tempat memacu adrenalin bagi anak-anak yang lebih kecil, kini sudah tak ada lagi.

Sebuah taman bermain yang perlahan termakan usia. Bukan hanya karena waktu, tetapi juga karena perhatian yang mungkin tak lagi menjadi prioritas bagi pengampu jabatan saat ini. Ada desiran tipis di dada. Semua memang ada masanya. Namun, haruskah setiap pergantian masa selalu dimulai dengan melupakan apa yang pernah dibangun sebelumnya?

Tidak adakah ruang bagi program yang berkelanjutan, yang tetap dirawat meski sosok pengampunya berganti?

Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang sebuah taman bermain yang menua. Ini tentang gagasan-gagasan baik yang ikut lapuk setiap kali kursi berganti pemilik. Tentang bagaimana sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang sering kali tak diberi kesempatan untuk bertahan lebih lama daripada masa jabatan yang pernah melahirkannya.

Drama yang Tidak Sibuk Membuat Tokohnya Terlihat Keren

Sejujurnya saya menonton drama We Are All Trying Here ini karena post Barangkali Kita Sama-sama Sedang Berjuang yang saya baca lagi bebera...