Saturday, 23 May 2026
Ternyata Minat Anak Bisa Terlihat Sejak Usia 2 Tahun
Sunday, 15 February 2026
Sering Berhenti di Tengah Jalan? Mungkin Kita Kehilangan Makna, Bukan Motivasi
Bukan Takut Memulai tapi Takut Berhenti di Tengah Jalan
Akar Masalah Utama: Kehilangan Makna
Kesadaran Penting: Saya Tidak Mengejar Validasi
Identitas yang Ditemukan
Sistem Kecil yang Mengubah Segalanya
Penutup
Monday, 6 October 2025
Boon Pring: Harmoni Bambu, Air, dan Kehidupan Desa Sanankerto
Dari hutan bambu yang sunyi menjelma menjadi ekowisata yang tak hanya menjaga alam, tapi juga menghidupi warga dan mengangkat harkat desa.
![]() |
| Sumber: https://jatim.jadesta.com/atraksi/destinasi_wisata_boon_pring |
Kalau kamu orang Malang dan sekitarnya, Boon Pring bukan nama yang asing terutama bagi pecinta wisata, termasuk saya dan keluarga. Tempat ini seperti sebuah hamparan kenangan yang selalu memanggil untuk kembali. Entah sudah keberapa kalinya kami berkunjung ke hutan bambu ini.
Bagi kami yang tinggal cukup jauh dari Sanankerto, perjalanan menuju Boon Pring bukan sekadar kunjungan singkat. Kami harus berangkat pagi, menembus jalanan yang mulai ramai demi tiba di sana sebelum matahari meninggi agar anak-anak puas bermain air dan kami bisa menikmati pemandangan sembari bercengkrama.
![]() |
| Sumber: Dokumentasi pribadi |
Boon Pring di Desa Sanankerto adalah contoh nyata betapa kearifan lokal, gotong royong, dan cinta pada alam bisa melahirkan wisata berkelanjutan yang tak hanya indah dipandang tapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.
Menyusuri Lorong Bambu
Boon Pring terletak di Desa Sanankerto, Turen, sekitar 30 kilometer dari pusat kota Malang. Begitu kamu melangkah masuk, jalanan desa yang biasa saja berganti menjadi deretan bambu menjulang tinggi yang menyambut dengan kesejukan, seolah membentuk lorong hijau yang teduh.
![]() |
| Sumber: https://www.jatimpos.co/pariwisata/9921-desa-wisata-kampiun-penggerak-kebangkitan-ekonomi |
Di tengahnya terdapat sebuah telaga luas dengan air jernih yang memantulkan bayangan bambu di sekitarnya. Saya suka berhenti sejenak di tepi telaga, memperhatikan anak-anak yang riang bermain air atau sekadar mendengar suara batang bambu yang saling beradu pelan ditiup angin.
Di saat-saat seperti itu, sering beberapa muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana wajah asli hutan ini sebelum menjadi ramai, sejak kapan ia menjelma menjadi penggerak ekonomi warganya? Pertanyaan-pertanyaan itu seolah mengajak kita merenung tentang perjalanan waktu dan ketekunan manusia menjaga alam.
Boon Pring Kala Itu
Menurut keterangan Syamsul Arifin, Direktur BUMDes Kerto Raharjo tempat ini dulunya adalah tanah kas desa dengan luas sekitar 36,8 hektare, berupa hutan bambu yang dikelola masyarakat (kumparan.com, 24/10/2020). Di sana hanya ada hutan, rawa-rawa, dan sungai.
Sejak 2014, kawasan ini sebenarnya sudah dikelola oleh warga setempat menjadi destinasi wisata sederhana bagi warga lokal, biasanya dibuka saat libur besar seperti Idul Fitri.
Baru pada Maret 2017, BUMDes Kerto Raharjo bersama masyarakat mulai mengembangkan kawasan ini secara resmi menjadi ekowisata dengan dukungan dana desa, dengan besaran sekitar Rp 170 juta.
Pada 2022, Desa Sanankerto terpilih sebagai salah satu binaan dalam program Desa Sejahtera Astra, dengan potensi pengembangan utama di bidang wisata, kriya, dan budaya. Selain kebun bambu dan telaga yang menenangkan, warga juga memanfaatkan bambu sebagai bahan kriya, dan melestarikan aktivitas seni seperti Gejok Lesung.
Harmoni Alam, Ekonomi, dan Manusia
Menurut Sutiyo & Keshav Lall Maharjan dalam buku yang berjudul Decentralization and Rural Development in Indonesia, desentralisasi tingkat desa memungkinkan masyarakat menjadi pelaku utama dalam pembangunan daerahnya. Hal itu tampak jelas di Boon Pring, dimana pengelolaan oleh BUMDes bukan hanya soal administratif, melainkan cerminan dari kemandirian warga yang tumbuh dari akar budaya gotong royong.
Boon Pring bukan sekadar hutan bambu yang dirawat rapi. Di sini, lebih dari 100 jenis bambu tumbuh berdampingan, menopang telaga luas dan enam mata air yang tak pernah kering. Bambu-bambu itu bukan hanya peneduh, melainkan penjaga air, rumah bagi satwa, sekaligus sumber bahan kriya yang bernilai.
Namun, harmoni alam saja tidak cukup. Hadirnya BUMDes Kertoraharjo mengubah potensi itu menjadi kekuatan ekonomi. Dari omzet miliaran rupiah, puluhan warung hidup di sekitar lokasi, menyediakan makanan hingga oleh-oleh bagi pengunjung. Warga yang dahulu bertani dengan hasil pas-pasan kini punya pekerjaan baru sebagai pengelola, pedagang, pemandu, atau pengrajin kriya bambu.
![]() |
| Sumber: https://mojokerto.jatimtimes.com/baca/205509/20191129/063200/miliki-72-jenis-bambu-ekowisata-boon-pring-raup-miliaran-rupiah |
Keputusan menjadikan Boon Pring sebagai ekowisata sejak 2017 adalah titik balik besar. Dengan dukungan dana desa, masyarakat membuktikan bahwa desa bisa mengelola potensinya sendiri tanpa merusak alam.
Hasilnya nyata: omzet mencapai Rp 2,8 miliar pada 2018 dan dilaporkan terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya hingga 5 miliar. Status desa pun meningkat menjadi desa mandiri, dan yang terpenting, bambu serta sumber air tetap terjaga. Dampak sosialnya pun terasa: warga punya pekerjaan tetap, UMKM bertumbuh, tradisi lestari, dan kebanggaan desa meningkat.
Tidak heran jika pada 2022 Sanankerto dipilih Astra sebagai salah satu Desa Sejahtera binaannya. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa langkah kecil yang dimulai dari menanam bambu dan merawat telaga dapat menumbuhkan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Boon Pring membuktikan bahwa desa bisa bangkit tanpa kehilangan jati dirinya. Dari rimbun bambu lahir cerita tentang harmoni alam, ekonomi, dan manusia.
Setiap desir angin yang menggoyang bambu seolah berbisik bahwa kekuatan sebuah desa terletak pada kebersamaan dan cinta pada tanahnya sendiri. Dan setiap kali saya pulang dari Boon Pring, hati saya selalu terasa ringan, seolah ikut membawa pulang harmoni yang tumbuh dari desa itu.
Jika satu desa mampu mengubah wajahnya dari sunyi bambu menjadi simfoni kehidupan, bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh ratusan desa lain di Indonesia. Maka, Boon Pring bukan sekadar destinasi wisata, melainkan teladan. Ia adalah cermin tentang bagaimana alam dan manusia bisa hidup berdampingan, saling menghidupi, dan bersama-sama menorehkan harapan bagi masa depan. #APAxKBN2025
Referensi:
- Sutiyo & Keshav Lall Maharjan. (2017). Decentralization and Rural Development in Indonesia. Springer Nature.
- https://kumparan.com/tugumalang/ekowisata-boon-pring-dari-hutan-dan-rawa-rawa-disulap-menjadi-wisata-populer-1uSBRJFTKu3
- https://kumparan.com/tugumalang/jadi-percontohan-bumdes-boon-pring-capai-omzet-rp-5-miliar-1sXPLo0QO45
- https://kumparan.com/tugumalang/mengintip-114-spesies-bambu-di-arboretum-bambu-1uY1116M8vx
- https://kanaldesa.com/artikel/bumdes-kerto-raharjo-belajar-mandiri-dari-desa-sanankerto
Saturday, 24 May 2025
Lelah Menahan Diri? Yuk, Kenali Akar Emosionalnya Lewat Refleksi Harian | Our Life Journey
Lelah Menahan Diri? Yuk, Kenali Akar Emosionalnya Lewat Refleksi Harian
Pernah nggak sih kamu pengin beli sesuatu—baju, buku, atau makanan favorit—tapi akhirnya cuma diem, lalu bilang ke diri sendiri, “Nggak usah deh, nggak penting”? Padahal hati kecilmu udah jingkrak-jingkrak minta dimanja.
Kalau sering banget kejadian kayak gitu, bisa jadi ini bukan soal uang atau hemat-hematan semata. Kadang, kebiasaan menahan diri itu punya akar yang lebih dalam. Yuk, kita coba gali pelan-pelan lewat refleksi harian.
1. Apa yang Sebenarnya Aku Takutkan?
Coba tanya ke diri sendiri, “Kenapa sih aku nahan diri terus?”
Takut dibilang boros? Takut uang habis? Atau… takut dianggap egois karena ingin sesuatu untuk diri sendiri?
Banyak dari kita tumbuh dengan pesan-pesan yang menempel diam-diam di kepala:
“Jangan egois, mikirin diri sendiri terus.”
“Kalau kamu senang-senang, nanti dianggap nggak bersyukur.”
“Uang itu susah dicari, jadi jangan buat hal-hal yang nggak perlu.”
Kalimat itu lama-lama jadi suara batin yang terus memblok niat kita buat memberi kebahagiaan pada diri sendiri.
2. Apakah Aku Pernah Dimarahi Saat Ingin Sesuatu?
Coba ingat masa kecilmu.
Pernah nggak kamu minta mainan atau jajanan, tapi yang kamu terima justru omelan atau penolakan keras?
Kadang, momen-momen kecil kayak gitu menancap kuat di alam bawah sadar. Jadi saat dewasa, tanpa sadar kamu merasa “nggak pantas” punya keinginan.
Dulu dimarahi saat minta sesuatu → sekarang menolak diri sendiri sebelum ditolak orang lain.
3. Apakah Aku Menyamakan Diri Sendiri dengan Orang yang Harus Selalu Mengalah?
Kalau kamu terbiasa jadi “si penengah”, “si pengertian”, atau “si kuat” dalam keluarga atau lingkungan, besar kemungkinan kamu terbiasa memendam keinginan.
Tanpa sadar kamu belajar, “Aku harus kuat dan nggak boleh merepotkan orang lain, bahkan diri sendiri.”
Padahal kamu juga manusia. Butuh dimengerti. Butuh diberi ruang untuk bahagia, bahkan dari hal-hal kecil kayak beli minuman kesukaan atau duduk santai tanpa rasa bersalah.
4. Apa Aku Takut Terlihat 'Salah' Kalau Bahagia?
Kadang kita merasa bersalah saat bahagia, apalagi kalau ada orang terdekat yang sedang susah.
Misalnya: “Teman-teman lagi susah, masa aku seneng-seneng sendiri?”
Atau: “Aku harusnya bersyukur, bukan malah pengin ini-itu.”
Padahal bahagia bukan dosa. Menghadiahi diri sendiri bukan berarti kamu melupakan orang lain. Justru saat kamu utuh dan bahagia, kamu bisa memberi lebih banyak dengan hati yang penuh.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Mulailah dengan journaling atau refleksi ringan.
Tulis saja di buku harian atau note HP-mu:
Hari ini aku pengin banget...
Tapi aku menahan diri karena...
Yang sebenarnya aku rasain adalah...
Dengan rutin menuliskannya, kamu akan mulai mengenali pola dan suara batinmu sendiri. Lama-lama, kamu bisa pelan-pelan berdamai dan memberi ruang bagi dirimu untuk menikmati hidup.
Nggak apa-apa kok sesekali beli yang kamu suka.
Nggak perlu nunggu jadi “pantas” dulu buat bahagia.
Diri kamu layak dimengerti, disayang, dan disenangkan.
Mungkin ini waktunya kamu berkata, “Aku juga boleh menikmati hidup, seperti orang lain.”
Friday, 23 May 2025
Ketika Passion-mu Nggak Cuma Satu dan Susah Cari Niche Untuk Fokus: Mungkin Kamu Multipotentialite | Our Life Journey
Ketika Passion-mu Nggak Cuma Satu dan Susah Cari Niche Untuk Fokus: Mungkin Kamu Multipotentialite
Pernah nggak sih kamu merasa tertarik pada banyak hal dalam waktu bersamaan? Hari ini semangat nulis, besok pingin coba bikin video, lusa pingin buka bisnis makanan, dan minggu depan udah nyemplung di dunia parenting atau self-development. Rasanya semuanya menarik, semuanya penting, semuanya pengin dicoba. Tapi... kamu jadi bingung sendiri: "Aku ini maunya apa sih sebenarnya?"
Kalau kamu sering ada di fase itu, tenang. Bisa jadi kamu bukan “gagal fokus”, tapi justru seorang multipotentialite.
Apa Itu Multipotentialite?
Multipotentialite adalah sebutan untuk orang yang punya banyak minat di berbagai bidang. Mereka suka banget belajar hal baru, cepat nangkep ide, dan kadang merasa cepat bosan setelah “paham” satu hal karena otaknya udah siap eksplor hal baru lagi. Bukan karena nggak konsisten, tapi karena mereka memang punya “potensi ganda” yang nggak bisa disempitkan dalam satu label aja.
Ciri-Ciri Utama Multipotentialite:
Minat luas dan menyebar – Kamu bisa suka desain, nulis, psikologi, bisnis, bahkan dunia kuliner dalam waktu bersamaan.
Cepat belajar hal baru – Belajar jadi menyenangkan karena kamu benar-benar menikmati prosesnya.
Cepat bosan setelah ‘menguasai’ – Setelah merasa cukup ngerti, kamu terdorong untuk pindah ke hal lain.
Suka menggabungkan berbagai bidang – Kamu bisa nemu ide-ide unik dari hal-hal yang terlihat nggak nyambung.
Bingung mau pilih fokus – Semua tampak menarik, jadi memilih satu untuk jadi “niche utama” itu bikin galau.
Kenapa Ini Bukan Masalah?
Karena dunia butuh pemikir lintas bidang. Butuh penghubung, penjelajah, dan penggabung ide. Kamu bukan “terlalu banyak mau”, tapi kamu sedang berjalan di jalur yang unik, yang bisa membuka peluang lebih luas. Kamu nggak harus jadi satu hal aja. Justru kamu bisa menciptakan niche campuran yang hanya kamu yang bisa jalani.
Jadi, Harus Gimana?
Mulai dari mengenali semua potensi dan minatmu. Pilah yang paling kamu sukai dan bisa kamu eksplor untuk jangka panjang. Lalu, cari benang merahnya—tema besar yang bisa menaungi semuanya. Misalnya: belajar dan berkembang, cerita dan makna hidup, atau membantu orang lain lewat tulisan. Ini bisa jadi dasar untuk personal brand kamu—termasuk blog, konten, dan karya-karya lainnya.
Kalau passion-mu nggak cuma satu, jangan panik. Mungkin kamu cuma belum tahu cara menyatukan semuanya. Dan itu bukan kelemahan, tapi kekuatan.
Karena kamu bukan terlalu banyak mau, kamu cuma punya terlalu banyak potensi.
Ternyata Minat Anak Bisa Terlihat Sejak Usia 2 Tahun
Sejak usia 2 tahun, Ibra sudah menunjukkan ketertarikan yang begitu besar pada angka dan huruf. Awalnya terlihat dari hobinya bermain balok ...







