Kemarin pengambilan raport di sekolah Ibra. Seperti biasa setiap ada pengambilan raport, pasti akan ada seminar parenting sebelumnya, which is very good. Kali ini tentang pentingnya pengajaran agama dalam keluarga.
Saya suka pemaparan dari pemateri. Ringan, terstruktur, dan tidak membosankan. Tapi juga bukan model ceramah yang terlalu sibuk melawak sampai isi materinya nyaris tenggelam. Saya selalu sedikit sedih ketika menghadiri seminar yang lebih banyak membuat orang tertawa daripada berpikir.
Materi intinya sendiri sebenarnya menarik sekali, jadi mungkin akan saya tuliskan lebih lengkap di postingan berikutnya. Karena setelah dipikir-pikir, ada beberapa bagian yang cukup mengendap di kepala saya.
Di tengah seminar, pemateri mulai memberi contoh tentang dua keluarga yang berbeda. Perbedaannya sederhana: ada dan tidaknya dasar agama di dalam keluarga tersebut.
Dan entah kenapa, saat itu saya justru diam-diam mencoba menguji intuisi saya sendiri.
Saya mulai memperhatikan cara beliau bercerita. Intonasi suaranya. Pemilihan katanya. Ekspresi wajahnya. Detail-detail kecil yang biasanya datang begitu saja ke kepala saya tanpa saya sadari.
Keluarga pertama adalah keluarga tanpa dasar agama di dalamnya. Cerita tentang orang tua yang meninggal tanpa satu pun anak berada di sisi mereka. Salah satu anak bahkan hanya meminta nomor rekening dan mengatakan akan mentransfer berapapun biaya yang dibutuhkan untuk pengurusan jenazah dan pemakaman.
Akhir yang menyayat hati.
Pemateri memaparkan dengan santai, tapi saya membaca ada poin-poin cerita yang tidak bisa beliau jabarkan dengan detail. Tidak ada intonasi suara yang menggambarkan bahwa kisah ini beliau alami sendiri. Akhir yang menyayat hati, tapi jelas bukan kisah pribadi. Bahkan mungkin kisah dari orang lain tentang orang lain lagi.
Lalu beliau beralih ke cerita kedua.Dan di situlah saya mulai menangkap sesuatu yang berbeda.
Intonasinya berubah. Suaranya terdengar lebih berat. Ada sedikit getaran di sana. Matanya berkaca-kaca meski hanya sekian detik, tapi saya menangkap detail itu. Beliau bisa menceritakan setiap detail ceritanya dengan baik, dan tampak benar-benar berusaha menyampaikan semuanya dengan utuh. Pemaparannya lancar, tidak terasa seperti sedang bercerita tapi sedang mengingat.
Ini jelas kisah pribadi.
Ada getaran emosi di setiap kalimatnya, seolah beliau sedang mengingat ulang semuanya di dalam kepala.
Dan benar saja.
Di akhir cerita, beliau mengatakan bahwa contoh kedua adalah kisah keluarganya sendiri.
Saat itulah saya sadar bahwa jawaban intuisi saya benar.
Saya kemudian tersadar, sepertinya saya mulai memahami cara kerja intuisi yang saya miliki. Saya mulai bisa mengobservasi dalam keadaan sadar, tidak seperti dulu yang hanya bisa berkata, “Pokoknya saya tahu intuisi saya benar, tapi entah tahu dari mana,” ketika seseorang bertanya, “Kamu tahu dari mana kok bisa sedetail itu?”
Dan rasanya sekarang saya bisa menjawab ketika seseorang berkata, “Kamu cenayang? Dukun? Belajar di mana?”
Saya akan jawab:
“Itu default mode saya. Saya secara tidak sadar membaca, mendengar, melihat, merasa, menganalisa, mengambil benang merah, menyusun pola, dan menyimpulkan segala kemungkinan dari semua hal yang saya temui.”
Bedanya, sekarang saya sedang dalam proses belajar memahami intuisi saya sendiri. Melihat dengan sadar ketika ia bekerja, bukan hanya mempercayainya begitu saja.
Dan mungkin karena itu juga, saya jadi semakin tidak ingin sok tahu. Karena sekarang saya sedang dalam mode belajar.


.png)





