Thursday, 11 June 2026

Onion Philosophy: "Siapa Saya di Balik Semua Peran Ini?"

Apa itu Onion Philosophy?

Saya menyebutnya filosofi bawang bombay. Sebuah cara memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari banyak lapisan. Semakin dalam kita mengenal diri sendiri, semakin banyak hal yang selama ini tersembunyi mulai terlihat.

Mari kita bahas lebih ringan dan mendalam.

Istilah Onion Philosophy sering digunakan dalam psikologi populer belakangan ini, juga dalam filsafat kehidupan, pengembangan diri, bahkan dalam penulisan karakter fiksi sebuah cerita. Yang perlu kamu ketahui, ini bukan aliran filsafat seperti Stoisisme atau Eksistensialisme, ya.

Gagasan awalnya sederhana: manusia seperti bawang yang memiliki banyak lapisan. Berusaha mengenal seseorang atau diri sendiri secara mendalam mirip seperti ketika kita mengupas bawang.

Lapisan-lapisan Bawang

Jika manusia memang seperti bawang, maka setiap lapisan menyimpan bagian diri yang berbeda. Ada yang mudah terlihat, ada pula yang baru muncul setelah proses refleksi yang panjang.

Kita bisa membagi lapisan tersebut ke dalam 4 lapisan:

1. Lapisan Terluar. Lapisan ini yang kita tampilkan kepada dunia sebagai citra diri.
2. Lapisan Kedua. Lapisan ini adalah tentang kebiasaan, sikap, dan pola pikir sehari-hari.
3. Lapisan Ketiga. Lapisan ini adalah tentang ketakutan, luka, keyakinan, dan pengalaman hidup.
4. Lapisan Inti Terdalam. Lapisan ini adalah lapisan jati diri, nilai hidup, atau esensi diri yang paling autentik.

Kilatan Ingatan

Saat menulis artikel ini, ingatan saya tiba-tiba melompat jauh ke 28 tahun-an lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP.

Saya tidak ingat hari apa saat itu. Saya juga tidak ingat apa yang sedang terjadi dalam hidup saya. Yang saya ingat hanyalah sebuah cermin dan seorang anak yang berdiri di depannya lebih lama dari biasanya.

Awalnya saya hanya menatap wajah sendiri. Tidak ada yang istimewa. Wajah yang sama yang saya lihat setiap hari. Namun entah bagaimana, semakin lama saya menatap, semakin aneh rasanya. Seolah-olah saya sedang melihat seseorang yang saya kenal, tetapi tidak benar-benar saya pahami.

Saya memperhatikan mata di dalam cermin itu. Lalu muncul pertanyaan yang datang begitu saja tanpa diundang:

"Saya ini siapa?"

Bukan nama saya. Bukan status saya sebagai anak, murid, atau anggota keluarga. Pertanyaan itu terasa lebih dalam dari itu.

"Siapa sebenarnya orang yang sedang menatap balik dari balik cermin ini?"

Kepala saya terasa ringan sekaligus penuh. Pandangan sedikit kabur. Puluhan pertanyaan muncul hampir bersamaan, saling bertabrakan satu sama lain.

Sedang apa saya di sini?

Kenapa saya lahir sebagai saya?

Apa yang membuat saya menjadi diri saya yang sekarang?

Setelah ini saya akan menjadi siapa?

Semakin banyak pertanyaan yang muncul, semakin sulit pula menemukan jawabannya.

Saat itu saya belum mengenal istilah Onion Philosophy. Saya bahkan belum pernah membaca buku filsafat apa pun. Namun kini, ketika mengingat kembali peristiwa tersebut, saya merasa bahwa itulah salah satu momen pertama ketika saya mulai mengupas lapisan-lapisan diri sendiri.

Mungkin tanpa saya sadari, perjalanan mengenal diri tidak dimulai ketika kita menemukan jawaban. Perjalanan itu dimulai ketika kita berani mengajukan pertanyaan yang tepat.

Dari puluhan pertanyaan yang memenuhi kepala saat itu, ada satu pertanyaan yang akhirnya bertahan hingga hari ini:

"Siapa sebenarnya saya di balik semua peran yang saya miliki?"


Jawaban dari Pertanyaan

Persis seperti mengupas bawang, semua pertanyaan itu tidak pernah mendapatkan jawaban dalam satu waktu.

Sering kali jawabannya hadir dalam bentuk yang sangat kecil: kegagalan yang membuat kita bercermin, pertemuan dengan seseorang yang mengubah cara pandang kita, atau peristiwa sederhana yang tiba-tiba membuat sesuatu menjadi masuk akal.

Lapisan-lapisan itu terkumpul perlahan, tahun demi tahun.

Dan suatu hari, tanpa disadari, kita sampai pada sebuah momen kecil yang terasa seperti lampu menyala di dalam kepala.

"Aha..."

Momen ketika kita mulai memahami sesuatu tentang diri sendiri yang selama ini tersembunyi.

Mungkin kita menyadari bahwa selama ini kita bukan sedang mengejar kesuksesan, melainkan pengakuan.

Mungkin kita menyadari bahwa kemarahan yang sering muncul sebenarnya berakar dari rasa takut.

Atau mungkin kita menemukan bahwa nilai yang paling kita pegang sejak dulu adalah kebebasan, kejujuran, atau kasih sayang.

Pada titik itu, kita belum selesai mengenal diri sendiri. Namun setidaknya kita telah berhasil mengupas satu lapisan lagi.

Wednesday, 10 June 2026

Percakapan dengan Masa Lalu

Membaca kembali puisi berjudul Dia Tak Sedang Berbicara Sendiri kemarin mengingatkan saya pada sebuah drama lawas yang pernah saya tonton beberapa tahun lalu.

Drama tersebut berjudul The Light in Your Eyes, berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Hyeja yang menemukan jam tangan yang memungkinkannya kembali ke masa lalu untuk mencegah kecelakaan ayahnya. Namun setiap kali waktu diputar, ada harga yang harus dibayar: usianya terus bertambah. Saat melakukan perjalanan waktu itulah dia bertemu Joonha, seorang pria muda yang telah menyerah pada mimpinya dan menjalani kehidupannya yang suram.

Sekilas drama ini tampak seperti drama bergenre time travel pada umumnya, yang membedakan adalah usia Hyeja yang terus bertambah setiap kali ia kembali ke masa lalu. Namun, jika kamu menontonnya sampai habis, kamu akan menemukan bahwa ada plot twist di sini.

Plot twist tersebut membuat saya kembali mempertanyakan seluruh cerita yang baru saja saya tonton. Apakah Hyeja benar-benar melakukan perjalanan waktu? Atau sejak awal kita sedang diajak melihat dunia melalui mata seseorang yang kenyataannya perlahan bercampur dengan kenangan?

Setelah mengetahui kebenarannya, saya justru merasa seluruh adegan sebelumnya berubah makna. Drama ini bukan lagi tentang seseorang yang berusaha mengubah masa lalu, melainkan tentang bagaimana manusia berdamai dengan ingatan, penyesalan, dan waktu yang tidak pernah benar-benar bisa diputar kembali.

Mungkin itulah alasan puisi itu kembali teringat. Sebab seperti tokoh dalam puisi tersebut, Hyeja juga tampak tidak sedang berbicara sendiri. Ia sedang berbicara dengan kenangan, penyesalan, dan versi dirinya yang tak pernah benar-benar pergi.

Mungkin karena itu juga kisah Hyeja terasa dekat. Banyak dari kita pernah berharap bisa kembali ke satu titik dalam hidup, mengubah satu keputusan, mengucapkan satu kalimat yang tak sempat terucap, atau mencegah satu peristiwa yang terus menghantui ingatan. Namun waktu tidak bekerja seperti jam tangan milik Hyeja. Ia hanya bergerak ke depan, sementara kita belajar berdamai dengan apa yang tertinggal di belakang.

Tuesday, 9 June 2026

Dia Tidak Sedang Berbicara Sendiri


Dia Tidak Sedang Berbicara Sendiri

karya: Rani Gitayati


Sungguh,

Dia tidak sedang berbicara sendiri.

Ia sedang berbicara
dengan pantulan-pantulan yang tinggal di kepalanya—
kenangan-kenangan yang belum selesai,
orang-orang yang masih menetap meski telah pergi,
mimpi-mimpi yang pernah tumbuh
lalu gugur diam-diam.


Ia sedang berbicara
dengan kepanikan yang pernah mengguncangnya,
dengan luka yang masih berdenyut pelan,
dengan harapan-harapan kecil
yang dulu ia simpan seperti cahaya.

Ya,
sungguh,
dia tidak sedang berbicara sendiri.

Malang, 24 May 2026


Klik untuk puisi-puisi lainnya >>>

Sunday, 7 June 2026

Ketika Masa Lalu Berubah Menjadi Karya

Beberapa hari lalu saya kembali membaca tulisan lama tentang buku Kening Fitrop karya Fitri Tropika. Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah FYP juga lewat di beranda saya tentang gadis-gadis yang memilih tanda X ketika ditanya apakah mereka mau memiliki pasangan seorang penyanyi atau pencipta lagu. Hal itu membuat saya kembali berpikir bahwa memang ada orang-orang yang memilih untuk tidak menjalin hubungan serius dengan penulis, penyanyi, pencipta lagu, dan pekerja kreatif sejenisnya.


Kenapa profesi kreatif sering dianggap membawa bayang-bayang masa lalu?

Profesi kreatif sering dianggap membawa bayang-bayang masa lalu karena mereka menghasilkan karya yang bisa dilihat, dibaca, atau didengar oleh orang lain. Ketika seorang penulis memiliki mantan lalu menulis novel, lagu, atau puisi, karya tersebut sering dianggap sebagai jejak emosi yang berubah bentuk menjadi sesuatu yang nyata.

Berbeda dengan profesi lain.

Seorang akuntan bisa saja masih mengingat cinta pertamanya. Seorang pedagang bisa saja masih menyimpan kenangan tentang seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Namun, kenangan itu tidak tercetak menjadi buku, tidak diputar di radio, dan tidak dijual di toko.

Hal inilah yang membuat pengalaman masa lalu para pekerja kreatif terasa lebih "hadir" dibandingkan masa lalu orang lain, karena mereka memiliki medium untuk menuangkannya.

Apakah karya benar-benar selalu berasal dari pengalaman pribadi?

Banyak orang menganggap bahwa ketika seorang penulis menghasilkan karya tentang patah hati, berarti ia sedang patah hati. Jika ia menulis tentang perselingkuhan, berarti ia pernah mengalaminya. Kita sering menganggap lagu atau buku sebagai bukti bahwa seseorang belum selesai dengan masa lalunya.

Faktanya, tidak semua karya lahir dari pengalaman pribadi. Inspirasi bisa datang dari pengamatan terhadap orang lain, peristiwa yang terjadi di sekitar, atau bahkan dari imajinasi semata.

Seorang penulis bisa menulis tentang perang tanpa perlu menjadi tentara. Ia bisa menulis tentang kehilangan seorang anak tanpa pernah menjadi orang tua. Ia juga bisa menulis tentang pembunuhan tanpa pernah membunuh siapa pun.

Tidak dapat dimungkiri bahwa pengalaman pribadi sering menjadi bahan bakar yang kuat karena mengandung emosi yang autentik. Namun, mungkin inilah yang sering dilupakan: kita cenderung menganggap karya sebagai jendela langsung menuju kehidupan penulis, padahal karya lebih menyerupai mozaik yang tersusun dari pengalaman, pengamatan, dan imajinasi.

Pengalaman pribadi hanyalah salah satu sumber inspirasi, bukan satu-satunya.

Terkadang sebuah karakter lahir dari gabungan beberapa orang berbeda. Kadang sebuah cerita berasal dari berita yang didengar sekilas. Kadang pula semuanya bermula dari satu pertanyaan sederhana:

"Bagaimana jika...?"

Apakah pasangan seorang penulis memang harus siap menjadi bahan tulisan?

Belum tentu. Meski demikian, perjalanan hidup bersama seseorang tentu dapat memengaruhi karya yang dihasilkannya. Jika kamu memiliki pasangan seorang penulis, potongan-potongan karakter dan pengalaman yang kalian alami bersama mungkin saja terselip dalam beberapa tulisannya.

Namun, saya juga bisa memahami mengapa sebagian orang merasa kurang nyaman dengan kemungkinan tersebut. Tidak semua orang suka jika kebiasaan, ucapan, atau pengalaman pribadinya diabadikan dalam bentuk tulisan. Ada orang-orang yang lebih memilih kehidupan pribadinya tetap menjadi miliknya sendiri, dan itu juga bukan sesuatu yang salah.

Berdasarkan pengalaman pribadi, penulis jarang menghasilkan karya yang benar-benar identik dengan kejadian nyata tanpa proses penyaringan, kecuali dalam jenis tulisan tertentu seperti esai pribadi. Yang lebih sering terjadi adalah proses transformasi: percakapan sederhana menjadi dialog dua tokoh, atau pertengkaran kecil menjadi inspirasi konflik dalam sebuah novel.

Jadi, kesimpulannya seperti apa?

Mungkin yang membuat banyak orang ragu mencintai penulis bukan karena penulis memiliki masa lalu yang lebih rumit daripada orang lain. Mungkin karena masa lalu mereka lebih mudah terlihat.

Kita bisa membaca novel yang mereka tulis, mendengar lagu yang mereka ciptakan, atau menemukan puisi yang mereka unggah bertahun-tahun lalu.

Padahal setiap orang memiliki kenangan. Hanya saja, tidak semua orang meninggalkan jejak yang bisa dibaca oleh orang lain.

Pada akhirnya, penulis tidak memiliki masa lalu lebih banyak daripada orang lain. Mereka hanya memiliki cara yang berbeda untuk menyimpannya.

Thursday, 4 June 2026

Bagaimana Jika Hidup yang Kita Jalani Bukan Hidup yang Sebenarnya?

Terlibat obrolan dengan seseorang yang saya sayangi dan beberapa teman kami, membahas banyak hal hingga entah bagaimana pikiranku terhubung pada satu benang merah yang sama. Tanpa sadar, bibir ini mulai berkata, “Aku teringat ucapan seorang public figure bahwa hidup yang kita jalani ini bukan hidup yang sebenarnya….”

Kalimat itu terus mengalir. Mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tetapi semakin dipikirkan, semakin terasa masuk akal. Persis seperti yang tertulis dalam surat Al-An'am ayat 32 dan Al-Ankabut ayat 64, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

Saya lalu teringat obrolan Ustadz Felix Siauw dan teman-temannya di Escape tentang bagaimana kehidupan di dunia ini ibarat kita sedang berada di dalam sebuah console game. Kita tidak bisa memaksakan pengetahuan kita—sepintar apa pun kita—sebagai makhluk “dimensi dalam console game” yang serba terbatas, untuk memahami dimensi Allah yang Maha Segalanya.



Tiba-tiba, seperti ada spiritual awakening dalam diri yang berbisik: kalau begitu, mungkin yang perlu kita lakukan setiap hari adalah menyadari bahwa kita hanyalah makhluk di dalam “permainan” ini, sementara jiwa dalam diri kitalah yang sesungguhnya nyata. Dunia kita yang sebenarnya bukanlah dunia ini, melainkan akhirat. Kita hanya sedang menjalani permainan dengan segala tantangan dan rintangannya.

Saat masalah datang, mungkin kita hanya perlu “keluar sejenak”, lalu mengamati. Mengamati keadaan, mengamati diri sendiri, mengamati cara pikiran dan perasaan bekerja.



Tak lama setelah itu, sebuah video tentang Meta Cognition melintas di berandaku—tentang bagaimana seseorang mencoba keluar dari dirinya sendiri untuk mengamati dirinya. Semua ini mungkin terdengar seperti kebetulan. Namun bagiku, tidak ada yang benar-benar kebetulan di dunia ini. Mungkin Allah sedang ingin menyampaikan sesuatu kepadaku.

Mungkin sudah waktunya untuk belajar melakukan observasi diri, inti dari meta cognition itu sendiri.

Thanks for reading.

[Jika kamu suka tulisan perenungan mendalam seperti di atas, kamu bisa baca: My Spiritual Awakening Stories]

Onion Philosophy: "Siapa Saya di Balik Semua Peran Ini?"

Apa itu Onion Philosophy? Saya menyebutnya filosofi bawang bombay. Sebuah cara memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari banyak la...