Saya ingat pernah menulis sedikit tentang Intuitive Writing di blog ini, kali ini saya akan mencoba menulisnya lagi dengan lebih detail. Jika kamu merasa perlu membaca gambaran umumnya, kamu bisa jump-in dulu ke artikel di bawah ini, untuk kemudian kembali ke sini.
Apa Itu Intuitive Writing?
Intuitive Writing adalah menulis dengan mendahulukan intuisi, dibanding logika. Jadi, kita tidak dulu diributkan dengan membuat sebuah tulisan terasa logis, tetapi mengambil dulu ide yang muncul dan menuliskannya sebelum ide itu benar-benar hilang. Kemudian menggalinya dengan menggunakan hati dan rasa.
Bukannya Tulisan Kita Jadi Berantakan Kalau Tidak Logis?
Kita perlu membedakan kemampuan dasar menulis dengan teknik yang digunakan dalam proses menulis. Dalam hal ini kemampuan dasar seperti peta yang harus dimiliki oleh setiap penulis, misalnya kemampuan memahami struktur kalimat, tata bahasa, kosakata, juga hal-hal teknis semacamnya. Penulis intuitive juga menggunakan peta yang sama dengan penulis lain, karena itu dasar yang harus dimiliki seorang penulis.
Jadi, Apa Perbedaan dengan Proses Menulis Lainnya?
Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, dalam hal teknis penulisan dasar tidak ada yang berbeda. Perbedaan yang signifikan adalah bahwa Intuitive Writing lebih organik, mengikuti karakter dan alur cerita. Sementara Outline Writing lebih terstruktur dan mengikuti rencana yang telah dibuat sebelumnya, dan Academic Writing lebih linier, mengikuti logika dan bukti.
Perbedaan lainnya adalah ketika Outline Writing terasa lebih efisien, konsisten, dan memiliki plot yang rapi. Intuitive Writing akan terasa lebih autentik, penuh kejutan, dan karakter akan terasa lebih dalam. Di sini enulis dituntut untuk benar-benar mengenal karakter yang sedang dia buat, jalan pikirannya, dan semua hal pribadinya.
Intuitive Writing membiarkan intuisimu bermain, mengajakmu berbicara dengan karakter yang kamu buat dengan segala kemungkinannya. Dalam Intuitive Writing kita akan sejenak menghentikan mode Enemy/musuh yang ada dalam diri kita untuk fokus pada pikiran bebas seorang kreator.
Apa benar bisa seperti itu?
Bisa, Intuitive Writing memiliki teknik dan langkah-langkah yang bisa diikuti untuk masuk dalam mode seorang kreator. Terlebih dahulu kita akan memahami apa saja Internal dan External Blocks yang mempengaruhi dirimu sebagai kreator untuk bergerak bebas. Dengan mengenali Enemy, kita bisa mencoba berdamai dengannya dan memberikan kebebasan pada kreator dalam diri kita untuk bekerja.
Dalam intuitive writing kita juga belajar bagaimana masuk ke dalam kondisi Flow (kondisi dimana ide mengalir dengan deras) dengan mendekati pintu Muse (alam bawah sadar). Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan klenik atau sejenisnya karena semua bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.
Dalam psikologi Muse adalah pintu gerbang menuju pikiran bawah sadar kolektif, tempat kamu menyimpan semua ingatan, emosi, dan ide. Menurut Neurosains Muse adalah keadaan dimana Jaringan Mode Bawaan (Default Mode Network/DMN) sangat aktif, yang biasa kamu alami ketika melamun, mandi, atau berjalan. Jadi, Intuitive Writing sama sekali bukan tentang klenik, ini tentang teknik yang bisa dipahami secara logika dan keilmuan.
Bagaimana Caranya?
Dalam Intuitive Writing kamu akan belajar bagaimana langkah-langkah membangun kebiasaan kreatif hingga kamu bisa menuju kondisi Flow. Kegiatan seperti membaca, berjalan-jalan, dan kegiatan lain yang bisa memancing semua sensori-mu, bahkan hal sederhana seperti permainan "What if .../Bagaimana jika ..." bisa cukup membantumu dalam Intuitive Writing. Jadi, kamu bukan hanya menunggu inspirasi datang, tapi memanggilnya kapan saja kamu membutuhkannya.
Intuitive Writing mengajakmu untuk tidak hanya menjadi pemburu ide, tapi juga Petani Ide yang terus menanam dan merawat agar ide-ide dari intuisi-mu tidak layu, lalu memanen semua yang sudah kamu tanam.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Intuitive Writing bukan tentang memilih antara intuisi atau logika, melainkan memberi keduanya ruang pada waktunya masing-masing. Biarkan intuisi membuka pintu, membawa ide, karakter, emosi, dan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak akan muncul jika semuanya terlalu cepat disaring oleh logika. Setelah itu, kemampuan teknis kitalah yang membantu mengolah semua bahan mentah tersebut menjadi sebuah tulisan yang utuh. Jadi, mungkin tugas kita sebagai penulis bukan selalu mencari ide yang paling sempurna, tetapi belajar mendengarkan ide yang datang, memberinya ruang untuk tumbuh, lalu dengan sabar mengubahnya menjadi sebuah cerita.

No comments:
Post a Comment