Saturday, 20 June 2026

Cerita Membuat Logo Usaha dengan Bantuan Kecerdasan Buatan (AI)

Pernah bingung mau bikin logo seperti apa agar terlihat lebih menarik dan profesional? Mau minta tolong ahlinya kok sepertinya segan dan ada rasa ketakutan masalah biaya yang mungkin dikeluarkan. Saya juga mengalami hal yang sama. Beberapa waktu lalu sempat terpikir bagaimana cara membuat desain dengan kemampuan desain yang minim seperti saya, sampai akhirnya saya mencoba untuk meminta bantuan AI membuatkan desain logo baru.


Saya menuliskan prompt di kolom yang tersedia, lalu menyertakan kedua logo lama kami di atas, dan AI membuatkan semua analisanya terhadap kedua logo tersebut.


Wow! Mulut saya menganga membacanya.

Belum selesai sampai di situ, saya dibuat terkejut lagi karena di bawahnya ada penjelasan panjang dan detail tentang analisis brand saat ini.


Kalau kamu bertanya-tanya, "Emang bisa segitu detailnya?" Saya jawab iya, serius. AI seserius itu balas prompt saya. Dia bahkan kasih saya dua konsep logo baru dengan maskot, gaya dan ekspresi maskot. AI juga kasih saya palet warna, mulai dari primary, secondary, accent, highlight, dan kesan yang muncul dari warna-warna yang dia pilihkan tersebut. Font, beberapa alternatif slogan, karakter maskot-nama dan cerita/karakterisasi, konsep booth, juga rekomendasi arah branding.

Saya tidak langsung menerima semua yang dia berikan. Jadi, saya meminta diskusi.

Kamu tahu, dia kemudian memberi saya sekitar empat pertanyaan yang berisi beberapa poin yang bisa saya pilih. Lalu dia memberikan kembali jawaban yang lebih detail dari sebelumnya. Kamu selalu bisa meminta rekomendasi darinya ketika tidak ada satu pun ide yang muncul di kepala.

Ketika konsep maskot dan lain sebagainya bernar-benar abstrak tak berbentuk di kepala saya, saya memintanya membuatkan prompt untuk membuat logo yang sesuai dengan apa yang kami bahas di atas, lengkap dengan semua saran dan rekomendasi darinya.

Kemudian saya memasukkan prompt yang dia hasilkan ke dalam kotak dialog di chat baru untuk menghasilkan gambar. Gambar ini yang dia berikan:


Wow!

Sejujurnya saya tercengang melihatnya. Sudah secanggih ini kah AI di tahun 2026, padahal belum lama saya menggunakan AI generasi pertama dan hasilnya benar-benar buruk, terlebih untuk yang mengandung kata, apalagi kalimat. Ngasal. Hurufnya ada yang hilang satu dan berantakan. Tapi ini jauh dari ekspektasi saya. Sekali lagi mulut saya menganga.

Kamu tahu apa yang saya lakukan setelahnya?

Saya mengirimkan gambar ini di obrolan pertama saya-bukan obrolan tentang gambar tapi tentang diskusi di awal tadi.

Bisa tebak jawaban apa yang dia berikan? 

Dia menganalisa hasil gambarnya sendiri. Wow! Dia bahkan memberikan rekomendasi dan saran di akhir jawabannya. Amazing!

Saya jadi berpikir, ini saya yang jahil atau dia yang kelewat cerdas? Saya putuskan keduanya benar: Saya memang jahil karena meminta dia menganalisa hasilnya sendiri dan dia juga kelewat cerdas. Kamu tahu tiba-tiba saya teringat tulisan Spiritual Awakening Stories: The First Strike tentang Meta Cognition-kemampuan mengamati diri sendiri. AI belajar dari apa yang kita ajarkan ke dia dan mengambil kesalahan-kesalahan yang dia perbuat untuk memperbaiki diri. Wait, sounds familiar. Is AI INFJ? Atau Mature INFJs itu robot? Haha. Ini cuma pikiran yang tiba-tiba muncul dari seorang penulis asosiatif.

Okay, kembali ke AI.

Saya akhirnya memutuskan untuk menjahilinya kembali agar dia membuatkan prompt gambar lagi. Kali ini saya memintanya memperbaiki prompt dengan mempertimbangkan analisis yang dia hasilkan terhadap logo yang dia buat.

Kali ini dia memberikan prompt yang jauh lebih detail, dan saya kembali mengulang prosesnya: Copy prompt dari dia, paste di chat baru, dan dalam beberapa waktu saja dia sudah memberi saya gambar yang baru.


Coba hitung berapa kali saya bilang: Wow! Ya, saya amaze dengan hasilnya. Ini benar-benar membuat saya menyadari sesuatu, perkembangan AI begitu pesat dalam kurun waktu singkat. Mungkinkah peran manusia bisa digantikan, akan coba saya bahas di post lain, ya.

Namun, AI persis seperti pisau bermata dua. AI bisa jadi sangat destruktif jika dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan hal-hal negatif, tapi jika digunakan untuk membantu kita bekerja dengan jauh lebih cepat dan lebih cerdas, AI bisa sangat positif.

Dan saya memutuskan untuk menggunakan logo kedua karena setelah diskusi dengan suami, logo ini lebih mencerminkan brand kami.

Oh ya, dia bahkan memberikan prompt untuk logo yang tampak sangat profesional.



Tampak profesional, isn't it?

Terima kasih sudah membaca sampai bagian ini, see you in the next article.



No comments:

Post a Comment

Cerita Membuat Logo Usaha dengan Bantuan Kecerdasan Buatan (AI)

Pernah bingung mau bikin logo seperti apa agar terlihat lebih menarik dan profesional? Mau minta tolong ahlinya kok sepertinya segan dan ada...