Drama tersebut berjudul The Light in Your Eyes, berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Hyeja yang menemukan jam tangan yang memungkinkannya kembali ke masa lalu untuk mencegah kecelakaan ayahnya. Namun setiap kali waktu diputar, ada harga yang harus dibayar: usianya terus bertambah. Saat melakukan perjalanan waktu itulah dia bertemu Joonha, seorang pria muda yang telah menyerah pada mimpinya dan menjalani kehidupannya yang suram.
Sekilas drama ini tampak seperti drama bergenre time travel pada umumnya, yang membedakan adalah usia Hyeja yang terus bertambah setiap kali ia kembali ke masa lalu. Namun, jika kamu menontonnya sampai habis, kamu akan menemukan bahwa ada plot twist di sini.
Plot twist tersebut membuat saya kembali mempertanyakan seluruh cerita yang baru saja saya tonton. Apakah Hyeja benar-benar melakukan perjalanan waktu? Atau sejak awal kita sedang diajak melihat dunia melalui mata seseorang yang kenyataannya perlahan bercampur dengan kenangan?
Setelah mengetahui kebenarannya, saya justru merasa seluruh adegan sebelumnya berubah makna. Drama ini bukan lagi tentang seseorang yang berusaha mengubah masa lalu, melainkan tentang bagaimana manusia berdamai dengan ingatan, penyesalan, dan waktu yang tidak pernah benar-benar bisa diputar kembali.
Mungkin itulah alasan puisi itu kembali teringat. Sebab seperti tokoh dalam puisi tersebut, Hyeja juga tampak tidak sedang berbicara sendiri. Ia sedang berbicara dengan kenangan, penyesalan, dan versi dirinya yang tak pernah benar-benar pergi.
Mungkin karena itu juga kisah Hyeja terasa dekat. Banyak dari kita pernah berharap bisa kembali ke satu titik dalam hidup, mengubah satu keputusan, mengucapkan satu kalimat yang tak sempat terucap, atau mencegah satu peristiwa yang terus menghantui ingatan. Namun waktu tidak bekerja seperti jam tangan milik Hyeja. Ia hanya bergerak ke depan, sementara kita belajar berdamai dengan apa yang tertinggal di belakang.

No comments:
Post a Comment