Apa itu Onion Philosophy?
Saya menyebutnya filosofi bawang bombay. Sebuah cara memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari banyak lapisan. Semakin dalam kita mengenal diri sendiri, semakin banyak hal yang selama ini tersembunyi mulai terlihat.Lapisan-lapisan Bawang
Kilatan Ingatan
Saat menulis artikel ini, ingatan saya tiba-tiba melompat jauh ke 28 tahun-an lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP.
Saya tidak ingat hari apa saat itu. Saya juga tidak ingat apa yang sedang terjadi dalam hidup saya. Yang saya ingat hanyalah sebuah cermin dan seorang anak yang berdiri di depannya lebih lama dari biasanya.
Awalnya saya hanya menatap wajah sendiri. Tidak ada yang istimewa. Wajah yang sama yang saya lihat setiap hari. Namun entah bagaimana, semakin lama saya menatap, semakin aneh rasanya. Seolah-olah saya sedang melihat seseorang yang saya kenal, tetapi tidak benar-benar saya pahami.
Saya memperhatikan mata di dalam cermin itu. Lalu muncul pertanyaan yang datang begitu saja tanpa diundang:
"Saya ini siapa?"
Bukan nama saya. Bukan status saya sebagai anak, murid, atau anggota keluarga. Pertanyaan itu terasa lebih dalam dari itu.
"Siapa sebenarnya orang yang sedang menatap balik dari balik cermin ini?"
Kepala saya terasa ringan sekaligus penuh. Pandangan sedikit kabur. Puluhan pertanyaan muncul hampir bersamaan, saling bertabrakan satu sama lain.
Sedang apa saya di sini?
Kenapa saya lahir sebagai saya?
Apa yang membuat saya menjadi diri saya yang sekarang?
Setelah ini saya akan menjadi siapa?
Semakin banyak pertanyaan yang muncul, semakin sulit pula menemukan jawabannya.
Saat itu saya belum mengenal istilah Onion Philosophy. Saya bahkan belum pernah membaca buku filsafat apa pun. Namun kini, ketika mengingat kembali peristiwa tersebut, saya merasa bahwa itulah salah satu momen pertama ketika saya mulai mengupas lapisan-lapisan diri sendiri.
Mungkin tanpa saya sadari, perjalanan mengenal diri tidak dimulai ketika kita menemukan jawaban. Perjalanan itu dimulai ketika kita berani mengajukan pertanyaan yang tepat.
Dari puluhan pertanyaan yang memenuhi kepala saat itu, ada satu pertanyaan yang akhirnya bertahan hingga hari ini:
"Siapa sebenarnya saya di balik semua peran yang saya miliki?"
Jawaban dari Pertanyaan
Persis seperti mengupas bawang, semua pertanyaan itu tidak pernah mendapatkan jawaban dalam satu waktu.
Sering kali jawabannya hadir dalam bentuk yang sangat kecil: kegagalan yang membuat kita bercermin, pertemuan dengan seseorang yang mengubah cara pandang kita, atau peristiwa sederhana yang tiba-tiba membuat sesuatu menjadi masuk akal.
Lapisan-lapisan itu terkumpul perlahan, tahun demi tahun.
Dan suatu hari, tanpa disadari, kita sampai pada sebuah momen kecil yang terasa seperti lampu menyala di dalam kepala.
"Aha..."
Momen ketika kita mulai memahami sesuatu tentang diri sendiri yang selama ini tersembunyi.
Mungkin kita menyadari bahwa selama ini kita bukan sedang mengejar kesuksesan, melainkan pengakuan.
Mungkin kita menyadari bahwa kemarahan yang sering muncul sebenarnya berakar dari rasa takut.
Atau mungkin kita menemukan bahwa nilai yang paling kita pegang sejak dulu adalah kebebasan, kejujuran, atau kasih sayang.
Pada titik itu, kita belum selesai mengenal diri sendiri. Namun setidaknya kita telah berhasil mengupas satu lapisan lagi.

No comments:
Post a Comment