Monday, 26 May 2014
Sunday, 25 May 2014
Saya dan Puisi: Hanya Demi Ego
Entah apa yang sudah terlontar dari mulut manis ini
Begitu indahnya hingga semua terbuai
Begitu merdunya hingga semua nyaris sampai
sesuai dengan kehendakku
Tapi apa itu yang sebenarnya?
Apa itu yang sesungguhnya?
Apa itu yang memang benar-benar terjadi?
Tuhan.. Bagaimana jika semua orang tahu?
Bagaimana jika pada akhirnya semua terbuka?
Bagaimana jika pada akhirnya Engkau menguakny?
Bagaimana?
Aku takuuut, Tuhan..
Andai mereka tahu aku mungkin akan tersingkirkan
persis seperti aku menyingkirkan oranga-orang itu dulu
bahkan sampai saat ini..
Andai mereka tahu, semua yang aku miliki mungkin akan sirna
pergi menjauh, persis seperti orang-orang itu
orang-orang yang aku jauhkan dari milik mereka
Andai mereka tahu aku hanya berpura-pura
Andai mereka tahu aku hanya bersandiwara
Semua yang ku lakukan hanya demi pencitraan
Semua yang ku lakukan hanya demi pengakuan
Pengakuan atas keangkuhan, kesombongan, kelemahan
yang tertutup dalam bingkai keanggunan, kelemah lembutan dan paras rupawan
Semua yang kulakukan hanya demi EGO
Begitu indahnya hingga semua terbuai
Begitu merdunya hingga semua nyaris sampai
sesuai dengan kehendakku
Tapi apa itu yang sebenarnya?
Apa itu yang sesungguhnya?
Apa itu yang memang benar-benar terjadi?
Tuhan.. Bagaimana jika semua orang tahu?
Bagaimana jika pada akhirnya semua terbuka?
Bagaimana jika pada akhirnya Engkau menguakny?
Bagaimana?
Aku takuuut, Tuhan..
Andai mereka tahu aku mungkin akan tersingkirkan
persis seperti aku menyingkirkan oranga-orang itu dulu
bahkan sampai saat ini..
Andai mereka tahu, semua yang aku miliki mungkin akan sirna
pergi menjauh, persis seperti orang-orang itu
orang-orang yang aku jauhkan dari milik mereka
Andai mereka tahu aku hanya berpura-pura
Andai mereka tahu aku hanya bersandiwara
Semua yang ku lakukan hanya demi pencitraan
Semua yang ku lakukan hanya demi pengakuan
Pengakuan atas keangkuhan, kesombongan, kelemahan
yang tertutup dalam bingkai keanggunan, kelemah lembutan dan paras rupawan
Semua yang kulakukan hanya demi EGO
Thursday, 22 May 2014
Hasil Tangan Saya: Sulam Pita Pertama
Lebih satu minggu yang lalu, tepatnya tanggal 6 dan 7 Mei, saya menghadiri pelatihan dari DINKOP (Dinas Koperasi) kota Malang di hotel Sahid Montana II di Jl. Soekarno-Hatta. Pelatihan keterampilan yang diberikan adalah keterampilan sulam pita yang di pimpin oleh ibu Pipit.
Ini pertama kalinya saya belajar sulam pita, dulu gak ada niat sama sekali untuk belajar sulam pita karena di kepala saya yang ada sulam pita adalah mainan orang tua.. Hehehe.. Tapi yang namanya keterampilan, apapun jenisnya, selalu bisa menarik perhatian saya. Jadi ikutlah saya ke acara tersebut, bersama ibu dan tiga orang lainnya yang memang berumur..
Hari pertama adalah hari dimana kami belajar sulam pita, mengenal alat-alat sulam pita. Peralatan semua kami dapat dari pihak penyelenggara. Sebelum masuk tempat pelatihan masing-masing kami diberikan sebuah tas yang berisi peralatan sulam pita yang terdiri dari dua buah jarum, yang satu jarum jahit biasa dan yang satunya jarum besar, jarum sulam pita; sebuah 'midangan' (entah apa dalam bahasa Indonesia); beberapa lembar kertas yang berisi jenis-jenis jahitan dasar yang digunakan dalam sulam pita; sebuah gunting kecil; alat bernama mata nenek (ini adalah alat untuk memasukkan benar kedalam jarum bagi mereka yang matanya sudah mulai kabur seperti mata nenek.. :P); selembar kain yang sudah terdapat sket gambar bunga lengkap dengan batangnya; seikat benang merci dan tentunya beberapa gulung pita. Oh, juga sebuah dompet semacam tempat pensil yang didepanny terdapat sulam pita cantik sebagai souvenir. Hari pertama waktu berjalan begitu cepat, mungkin karena saya begitu menikmati belajar sulam pita. Bahkan sampai waktu berlatih habis pun satu sket dari kain yang diberikan belum selesai..
Hari kedua adalah hari pemberian materi, awalnya kami bingung, seharusnya kan materi dulu baru praktek tapi kenapa ini praktek dulu baru teori. Ternyata teori yang diberikan bukan teori tentang sulam pita tapi teori tentang koperasi karena penyelenggara adalah Dinas Koperasi. Sesi pertama tentang teori koperasi sungguh membosankan, pemateri rupanya kurang pandai mengemas menjadi menarik. Tapi sesi kedua menyenangkan bahkan melebihi waktu yang ditentukan karena saking semangatnya kami.
Sesi kedua adalah sesi game, game tentang usaha, namanya Modul 2. Kata pemateri sih permainan ini banyak dimainkan di perusahaan-perusahaan besar. Kami dibagi dalam enam kelompok dimana dua kelompok berperan sebagai tengkulak dan empat lainnya berperan sebagai produsen. Dan kebetulan saya ada dalam kelompok produsen. Detailnya tentang permainan ini saya sampaikan di posting lain ya kawan-kawan.. Karena akan sangat panjang jika digabung dalam posting ini..
Yang jelas saya sangat menikmati mengikuti pelatihan ini, dapat ilmu, dapat souvenir dan dapat uang transportasi pula.. :) Senangnya belajar..
La Reine Chanson
Ini pertama kalinya saya belajar sulam pita, dulu gak ada niat sama sekali untuk belajar sulam pita karena di kepala saya yang ada sulam pita adalah mainan orang tua.. Hehehe.. Tapi yang namanya keterampilan, apapun jenisnya, selalu bisa menarik perhatian saya. Jadi ikutlah saya ke acara tersebut, bersama ibu dan tiga orang lainnya yang memang berumur..
Hari pertama adalah hari dimana kami belajar sulam pita, mengenal alat-alat sulam pita. Peralatan semua kami dapat dari pihak penyelenggara. Sebelum masuk tempat pelatihan masing-masing kami diberikan sebuah tas yang berisi peralatan sulam pita yang terdiri dari dua buah jarum, yang satu jarum jahit biasa dan yang satunya jarum besar, jarum sulam pita; sebuah 'midangan' (entah apa dalam bahasa Indonesia); beberapa lembar kertas yang berisi jenis-jenis jahitan dasar yang digunakan dalam sulam pita; sebuah gunting kecil; alat bernama mata nenek (ini adalah alat untuk memasukkan benar kedalam jarum bagi mereka yang matanya sudah mulai kabur seperti mata nenek.. :P); selembar kain yang sudah terdapat sket gambar bunga lengkap dengan batangnya; seikat benang merci dan tentunya beberapa gulung pita. Oh, juga sebuah dompet semacam tempat pensil yang didepanny terdapat sulam pita cantik sebagai souvenir. Hari pertama waktu berjalan begitu cepat, mungkin karena saya begitu menikmati belajar sulam pita. Bahkan sampai waktu berlatih habis pun satu sket dari kain yang diberikan belum selesai..![]() |
| Ini alat-alat dalam tas kecil yang disediakan panitia |
Sesi kedua adalah sesi game, game tentang usaha, namanya Modul 2. Kata pemateri sih permainan ini banyak dimainkan di perusahaan-perusahaan besar. Kami dibagi dalam enam kelompok dimana dua kelompok berperan sebagai tengkulak dan empat lainnya berperan sebagai produsen. Dan kebetulan saya ada dalam kelompok produsen. Detailnya tentang permainan ini saya sampaikan di posting lain ya kawan-kawan.. Karena akan sangat panjang jika digabung dalam posting ini..
![]() |
| Ini hasil sulam pita pertama saya |
La Reine Chanson
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sudah Mengenal Huruf Sejak 2,5 Tahun, Tapi Kenapa Menulis Masih Jadi Masalah? | Seri Kejar Menulis TK B — 30 Hari
Ada satu hal tentang perkembangan Ibrahim yang belakangan ini cukup sering saya pikirkan: menulis . Ibrahim sekarang sudah TK B. Akhir-akhir...
-
Dari hutan bambu yang sunyi menjelma menjadi ekowisata yang tak hanya menjaga alam, tapi juga menghidupi warga dan mengangkat harkat desa. S...
-
Dear Weirdos, Hari ini adalah hari minggu yang berarti kemarin sore jam 6 Stereo main di Net TV , emang kenapa? Kali ini saya mau review s...



























