Thursday, 18 June 2026

Lorong-lorong Kecil dalam Labirin di Kepalaku

Lorong-lorong Kecil dalam Labirin di Kepalaku

karya: Rani Gitayati


Aku menemukan lorong-lorong kecil
dalam labirin di kepalaku.

Lorong-lorong kecil yang nyaris
tak pernah kusadari ada, jika saja aku
tidak memaksa diriku untuk melewatinya
satu demi satu.

Berbekal arang hitam di tangan,
kutinggalkan coretan di setiap persimpangan—
tanda bahwa aku pernah ragu dan takut tersesat di sana.


Kucoba setiap jalurnya perlahan, sambil mengamati
dinding-dinding sunyi itu, dan anehnya,
aku seperti kembali pada banyak hal.

Sebagian terasa asing, seperti tempat
yang belum pernah dijejaki siapa pun—
bahkan oleh diriku sendiri. 

Namun, entah mengapa, rasa sakit di dalamnya
seperti mengenaliku dengan baik.
Getirnya.
Pahitnya.
Sesaknya.
Semua itu rasanya pernah
nyaris menenggelamkanku.

Aku bahkan hampir muntah. Hampir menyerah dan
membiarkan diriku tinggal dan tersesat di sana.

Namun di sinilah aku,
masih menyusuri lorong-lorong itu,
sambil belajar mengatur napasku,
sambil perlahan memuntahkan sedikit demi sedikit
hal-hal yang terlalu lama menetap di dalam diriku.

Ya, di sinilah aku sekarang.


Monday, 15 June 2026

Barangkali Kita Sama-sama Sedang Berjuang

Ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas di kepala saya. Tentang ekonomi, kehidupan, dan perjuangan yang diam-diam sedang dipikul banyak orang. Tentang alasan mengapa belakangan ini saya mulai lebih mudah melunak ketika seseorang datang mendekat.

Semuanya berawal ketika saya mengamati lalu lalang pedagang di depan warung Adzaib Delight. Ada yang menawarkan dagangan, ada pengamen yang singgah sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.

Entah kenapa pemandangan itu mengingatkan saya pada sebuah judul drama yang bahkan belum pernah saya tonton*: We Are All Trying Here.

Dan tiba-tiba saya merasa kalimat itu begitu pas.

Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, rasanya kita semua memang sedang berusaha. Pedagang, pengamen, pekerja kantoran, pemilik usaha kecil, bahkan mungkin pimpinan perusahaan yang sedang memikirkan cara agar usahanya tetap bertahan. Masing-masing sedang membawa bebannya sendiri. Masing-masing sedang berusaha menyambung hari.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: mengapa harus begitu pelit untuk berbagi? Mengapa harus menggenggam apa yang kita miliki terlalu erat?

Bukankah roda kehidupan ini bergerak karena kita saling menguatkan?

Sejak saat itu, setiap kali seorang pengamen datang, saya tidak lagi langsung berpikir untuk sekadar melambaikan tangan dan mempersilahkannya pergi. Saya mulai berpikir bahwa mungkin kami berada di perahu yang sama. Dengan bentuk perjuangan yang berbeda, tetapi tujuan yang serupa: bertahan hidup, menjaga harapan, dan tetap waras menghadapi dunia.

Karena pada akhirnya, we are all trying here.

Kita semua sedang berusaha.


Update tanggal 19 Juni:

*Saya baru saja menghabiskan 11 dari 12 episodenya kemarin

Saturday, 13 June 2026

Ketika Seorang Ahjussi Akhirnya Menjadi Tokoh Utama

Sebuah thread tiba-tiba muncul di feed saya. Seseorang bertanya apakah ada yang sedang menonton drama Korea berjudul The Dream Life of Mr. Kim. Entah kenapa, satu kalimat sederhana itu membuat saya penasaran. Beberapa menit kemudian saya sudah mencarinya dan mulai menonton.

Nggak seperti drakor pada umumnya yang bercerita tentang pemuda tampan yang pada akhirnya menemukan cinta impiannya, drama ini membawa cerita yang berbeda. Ini tentang seorang ahjussi berusia 50 tahun yang telah mendedikasikan 25 tahun hidupnya untuk satu perusahaan terbaik dan terkemuka.

Sosok seperti dia biasanya hanya muncul sebagai karakter pendukung di drama lain. Seorang atasan, ayah, atau pekerja biasa yang ceritanya hanya menjadi latar. Tapi kali ini, dialah tokoh utamanya.

Mr. Kim adalah gambaran seseorang yang percaya bahwa kerja keras, loyalitas, dan pengabdian akan membawa seseorang menuju tempat yang selama ini ia perjuangkan. Tinggal satu langkah lagi baginya untuk mencapai posisi eksekutif. Dengan pengalaman dan pengorbanan selama puluhan tahun, dia yakin impian itu akhirnya akan menjadi kenyataan.

Seperti impian banyak pekerja lainnya: memiliki pekerjaan yang stabil, posisi yang aman, keluarga yang utuh, dan rumah atas namanya sendiri.

Tapi semuanya runtuh ketika dia menyadari bahwa perusahaan yang selama ini menjadi bagian besar dari hidupnya ternyata tidak lagi membutuhkannya. Bukan dengan memecatnya secara langsung, tetapi perlahan membuatnya merasa tidak lagi memiliki tempat.

Dan menurut saya, di situlah drama ini menjadi menarik.

Ini bukan hanya cerita tentang kehilangan pekerjaan. Ini tentang kehilangan identitas.

Karena bagi sebagian orang, pekerjaan bukan sekadar cara mencari uang. Pekerjaan bisa menjadi tempat seseorang merasa berharga, tempat ia membuktikan diri, bahkan bagian dari siapa dirinya. Lalu ketika semua itu tiba-tiba hilang, muncul pertanyaan besar: kalau bukan sebagai seorang pekerja, lalu siapa diri kita?

Buat teman-teman yang mulai bosan dengan drakor romance, drama ini bisa menjadi pilihan yang menarik. Terutama untuk kamu yang bekerja, punya orang tua yang sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan, atau kamu yang terbiasa hidup dalam kompetisi dan mengejar pencapaian.

Mungkin setelah menonton drama ini, kamu bukan hanya memikirkan perjalanan Mr. Kim, tapi juga perjalananmu sendiri.

Tentang apa yang selama ini kamu kejar, apa yang membuatmu merasa bernilai, dan apakah hidupmu sudah lebih luas daripada sekadar pekerjaan atau pencapaian.

Menurut saya, The Dream Life of Mr. Kim bukan hanya layak ditonton. Drama ini juga layak direnungkan.

Sudah Mengenal Huruf Sejak 2,5 Tahun, Tapi Kenapa Menulis Masih Jadi Masalah? | Seri Kejar Menulis TK B — 30 Hari

Ada satu hal tentang perkembangan Ibrahim yang belakangan ini cukup sering saya pikirkan: menulis . Ibrahim sekarang sudah TK B. Akhir-akhir...