Thursday, 23 April 2020

Berbagai Cara Influencer, Tokoh Publik dan Masyarakat Indonesia Membantu Saat Pandemi | Our Life Journey

Meluasnya pandemi Covid-19, membuat semakin banyak masyarakat yang menjadi korban terdampak Coronavirus ini. Kondisi yang terasa semakin sulit, membuat tak sedikit masyarakat Indonesia berinisiatif untuk saling bahu-membahu dalam membantu menghadapi keadaan tidak biasa ini. Tak terkecuali para influencer dan public figure yang namanya tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.

Berikut adalah berbagai cara yang mereka, para influencer, public figure dan masyarakat lakukan untuk membantu saat pandemi Covid-19:

1. Menggalang Dana

Rachel Vennya, Atta Halilintar, dan Andovi da Lopez adalah tiga dari banyak influencer dan public figure yang melakukan penggalangan dana untuk membantu saat pandemi.

Rachel Vennya, melakukan pengumpulan dana dengan terlebih dahulu memberikan informasi, bahwa dirinya membuka penggalangan dana untuk penanggulangan Covid-19 ini. Dana ini digunakan untuk penyediaan handsanitizer, masker, Alat Perlindungan Diri bagi tenaga kesehatan.

Tak jauh berbeda, Atta Halilintar juga mengumpulkan dana. Selain untuk tenaga kesehatan, ia juga mengumpulkan dana untuk membagikan sembako pada masyarakat.

Andovi da Lopez pun melakukan penggalangan dana. Yang membuatnya sedikit berbeda adalah caranya menggalang dana. Ia melakukan aksi membaca isi KBBI selama 14 jam non-stop untuk mengumpulkan dana.

2. Membantu ketersediaan Alat Perlindungan Diri (APD)

Ada juga beberapa influencer, tokoh publik dan masyarakat yang melakukan cara berbeda untuk membantu saat pandemi. Cara yang mereka lakukan adalah dengan membuat APD (Alat Perlindungan Diri).

Anne Avantie, misalnya. Wanita kelahiran tahun 1954 tersebut, menghentikan semua proses produksi di yayasan yang ia dirikan untuk menghasilkan APD bagi tenaga kesehatan.

Tidak hanya Anne Avantie, Budhi Hermanto yang merupakan warga Yogyakarta, mengumpulkan para penjahit lokal untuk bersama-sama membuat APD.

3. Terjun langsung ke lapangan

Awkarin, dr. Tirta Hudi, dan Bripka Jerry Tumundo adalah tiga dari beberapa influencer, tokoh publik dan masyarakat yang ikut ambil bagian dalam penanggulangan Covid-19 dengan terjun langsung ke lapangan.

Selain mengikuti langkah para influencer lain dengan mengumpulkan dana, Awkarin juga ikut serta dalam penyemprotan desinfektan. Ia mengenakan perlindungan, lengkap dengan masker dan sarung tangan sambil menggendong alat penyemprot tersebut.

Sama halnya dengan Awkarin, dokter Tirta Hudi ikut turun tangan dalam penanganan Covid-19. Ia membagikan masker dan handsanitizer kepada masyarakat luas.

Bripka Jerry sedikit berbeda, ia terjun langsung menjadi sukarelawan membantu memakamkan korban Covid-19.

4. Membuat konten video inspiratif mengenai Covid-19

Edward Suhadi dan Anggriani --seorang perawat di sebuah rumah sakit di Medan-- adalah contoh influencer, tokoh publik dan masyarakat yang berusaha membantu saat pandemi, dengan mengunggah video yang menginspirasi.

Anggriani membuat beberapa video, melalui aplikasi likee, tentang tips seputar pencegahan dan penyebaran Covid-19. Sementara Edward Suhadi membagikan beberapa video buatannya tentang Covid-19 di akun Instagram miliknya. Diantara video-video yang menginspirasi adalah video berjudul 'Bagaimana Wabah Covid-19 Bisa Berakhir?' dan video 'telor ceplok' tentang menimbun barang (panic buying).

5. Mengkampanyekan #DiRumaAja dan #CukupDariRumah

Cukup banyak influencer, tokoh publik dan masyarakat yang mengkampanyekan tagar DiRumahAja. Namun influencer dan champaigner Dompet Duafa, Fathur, mengkampanyekan tagar CukupDariRumah. Menurutnya tidak cukup hanya di rumah saja, tapi ikut bekerja dan berpartisipasi meski cukup dari rumah.

Tuesday, 21 April 2020

Dampak Covid-19 Terhadap Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Indonesia | Our Life Journey

Semua dimulai dengan guyonan yang beredar di media daring dan sosial media bahwa Coronavirus atau Covid-19, tak akan pernah bisa masuk Indonesia karena imunitas orang Indonesia sudah sangat maksimal.

Menurut guyonan tersebut, hal ini teruji dari berbagai keadaan yang sudah biasa terjadi di negara ini. Salah satu contohnya adalah banyaknya warung pinggir jalan yang mencuci puluhan piring dan sendoknya hanya dengan menggunakan satu ember air.

Banyak orang yang makan di tempat-tempat seperti itu, dan tak ada masalah kesehatan berarti pada orang-orang tersebut setelahnya. Hal itu, yang menurut guyonan ini, menjadi bukti bahwa orang Indonesia tak bisa terserang Covid-19.

Namun kenyataan tak seindah guyonan. Coronovirus yang dulu diyakini tak bisa masuk ke negara beriklim tropis, bermutasi hingga ia sanggup bertahan hidup.

Kasus pertama di Indonesia, muncul dari wilayah Depok. Seorang ibu berusia 64 tahun dan puterinya yang berusia 31 tahun dinyatakan positif Covid-19 setelah melalui pemeriksaan. Mereka diduga tertular setelah kontak langsung dengan seorang warga negara Jepang yang juga positif terjangkit Covid-19. Sejak saat itu, jumlah kasus baru meningkat signifikan.

Covid-19 benar-benar merubah Indonesia.

Masuknya Covid-19, merubah hampir semua lini kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Tingkat penyebaran yang masif menuntut cara pencegahan yang sesuai. Dimulai dari penerapan physical distancing, dengan membatasi kerumunan. Hal ini mengharuskan setiap orang untuk saling berjarak, guna menghindari kontak langsung.

Berjabat tangan menjadi hal yang harus dihindari untuk mencegah penyebaran. Masyarakat Indonesia yang terbiasa saling menyapa sambil berjabatan tangan, kini harus menghentikan kebiasaan tersebut sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

Tempat-tempat wisata ditutup sementara. Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) yang biasanya menjadi tempat hiburan murah meriah bagi masyarakat, tempat bertemunya penjual dan pembeli hingga terjadi perputaran ekonomi, juga tempat para generasi mudah berkumpul untuk unjuk bakat, ditiadakan.

Kegiatan belajar mengajar mulai tingkat awal hingga Perguruan Tinggi, yang biasanya dilaksanakan di sekolah dan kampus, kini terpaksa dilakukan di rumah. Semua tugas dan materi pembelajaran diberikan guru dan dosen secara online (daring), bahkan kegiatan penilaian hasil belajar/kuliah dan ujian pun dilakukan dengan cara yang sama.

Kegiatan bekerja tak jauh beda, perusahaan diminta melakukan work from home (WFH). Para pekerja diminta bekerja dari rumah dengan koordinasi secara online, dan berkomunikasi menggunakan berbagai aplikasi tele-conference yang banyak tersedia. Hal ini dilakukan juga untuk menghindari terjadinya pergerakan masyarakat, yang mempercepat penyebaran Covid-19.

Di samping itu, kegiatan beribadah juga diminta untuk dilakukan di rumah masing-masing saja. Peribadatan di gereja dan pelaksanaan Sholat Jum'at ditiadakan, perayaan-perayaan hari besar yang melibatkan kerumunan masa tidak diperbolehkan. Bahkan resepsi pernikahan diminta untuk tidak dilaksanakan, meski tidak melarang pernikahan di Kantor Urusan Agama.

Semua pembatasan fisik dan sosial ini berdampak sangat besar pada segala lini kehidupan, terutama perekonomian. Adanya pembatasan jam malam yang diberlakukan di sejumlah daerah zona merah penyebaran Covid-19, menyebabkan omzet para pedagang kecil hingga menengah, menurun drastis karena berkurangnya jumlah pembeli.

Selaras dengan hal itu, para pengendara ojek online pun mengalami penurunan pendapatan. Tak Hanya itu, para event organizer dan wedding organizer minim job. Semua sektor usaha terdampak dengan adanya Covid-19.

Masih banyak lagi dampak yang ditimbulkan oleh adanya Covid-19 di Indonesia, berharap semuanya berlalu dan kita bisa kembali berkehidupan seperti sediakala.

Monday, 20 April 2020

Mengenal Covid-19 yang Tak Boleh Diremehkan | Our Life Journey

Baru tadi malam saya mendengar kabar bahwa salah seorang dari tetangga lama di sebuah kota di Jawa Timur, yang sudah seperti saudara sendiri, meninggal akibat virus Corona. Hal itu membuat saya sedih sekaligus prihatin. Di wilayah Jawa Timur saja, ada 588 kasus positif terjadi sampai hari ini.

Saya pikir ini karena banyak dari masyarakat luas, yang masih belum teredukasi tentang seperti apa virus Corona atau Covid-19 ini dan bagaimana mencegah penularan. Banyak diantaranya bahkan cenderung menyepelekan keberadaan virus ini, hingga menyebabkan sesuatu yang fatal terjadi pada orang-orang terdekat mereka.

Sudah banyak keluarga yang harus kehilangan salah satu, atau bahkan beberapa sanak saudara mereka karena ketidakpahaman tentang penyakit ini. Sangat banyak juga yang harus berjibaku, bertarung melawan virus Corona yang bersarang dalam tubuh mereka. Karenanya, mari sejenak kita mengenal Covid-19, agar kita bisa mengedukasi diri dan orang sekitar tentang bahaya virus ini.

Apa itu Covid-19?

Covid-19 Ada singkatan dari Corona Virus Desease 2019, yang artinya penyakit yang disebabkan karena virus Corona yang ditemukan tahun 2019. Penyakit ini disebabkan oleh paparan virus baru yang sebelumnya disebut 2019-nCov. Sesungguhnya, virus ini masih termasuk dalam keluarga besar virus yang menyebabkan flu dan penyakit pernapasan parah lainnya, seperti penyakit pernapasan Timur Tengah (MERS) dan infeksi saluran pernapasan akut (SARS).

Apa yang membuatnya berbeda?

Perbedaannya ada pada masa inkubasi, gejala dan penyebarannya, juga pada pengobatannya.

Masa Inkubasi?

Masa inkubasi Covid-19 adalah 14 hari atau dua minggu, sejak terpapar. Itu sebabnya, mengapa kita diminta mengisolasi diri selama 14 hari atau dua minggu, jika kita mengalami gejala Covid-19.

Gejala?

Orang yang terpapar akan mengalami beberapa gejala, seperti demam pada suhu 38°c atau lebih, batuk kering --tanpa dahak-- yang terjadi terus menerus, nyeri tenggorokan, kelelahan, dan pada tahap yang parah akan muncul gejala napas pendek, dengan frekuensi napas lebih dari 24 Kali per-menit. Pneumonia akan terlihat berdasarkan gambar radiologis. Gejala-gejala ini akan muncul pada hari kedua sampai ke-14 setelah terpapar. Namun dalam beberapa kasus ada penderita yang tidak menunjukkan gejala apapun.

Penyebaran dan Penularan?

Coronavirus lebih cepat menyebar dan menular, karena virus ini mudah berpindah dari manusia ke manusia. Ia tersebar melalui percikan air liur penderita saat bersin atau batuk, yang menempel pada tangan dan masuk melalui mata, hidung, maupun mulut saat kita menyentuh salah satu dari ketiganya.

Siapa saja yang bisa terpapar Covid-19?

Semua orang bisa terpapar Covid-19, jika seseorang terkena percikan air liur dari orang yang positif Corona. Percikan itu lalu masuk ke dalam mata, hidung maupun mulut dari sentuhan tangan kita. Maka dari itu penggunaan masker dirasa efektif untuk mencegah penularan.

Siapa saja yang rentan terinfeksi Coronavirus?

Sesungguhnya jika kondisi tubuh orang yang terpapar Coronavirus dalam keadaan sehat Dan imunitas tinggi, virus ini akan berhasil dikalahkan oleh sistem imun dalam tubuh. Hal ini akan menjadi masalah, jika Coronavirus masuk pada tubuh seseorang yang memiliki kondisi medis tertentu, seperti gangguan pernapasan kronis, penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit ginjal, dan kanker. Virus ini akan menimbulkan komplikasi dan kondisi yang lebih berat pada mereka.

Bagaimana cara mencegah terjangkit Covid-19?

Membiasakan hidup sehat adalah salah satu cara mencegah terjangkit Covid-19. Kebiasaan hidup sehat diantaranya adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menerapkan etika batuk ketika batuk dan bersin, juga melakukan physical distancing.

Jika sudah terpapar?

Jika seseorang merasakan gejala awal Covid-19, tapi tidak memiliki riwayat penyakit kronis yang bisa menimbulkan komplikasi, ada baiknya melakukan karantina mandiri. Karantina mandiri ini dilakukan dengan tetap berada di dalam Kamar hingga dua minggu sejak terpapar. Jika memiliki riwayat penyakit kronis, Ada baiknya menghubungi Rumah Sakit rujukan yang ditunjuk pemerintah kota untuk menangani pasien Covid-19.

Pengobatan?

Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat digunakan untuk mengatasi Covid-19. Chloroquine Phosphate, yang merupakan obat untuk mengatasi Malaria, sempat dikabar mampu menyembuhkan penyakit akibat Coronavirus ini.

Awalnya obat ini diujikan kepada 100 penderita di 10 Rumah Sakit di Wuhan, Cina. Dari pengujian ini ditemukan bahwa Chloroquine Phosphate efektif untuk komplikasi Pneumonia pada penderita Covid-19.

Namun, meski obat ini sudah dipakai untuk pengobatan penderita Covid-19, WHO masih belum mengeluarkan anjuran penggunaan obat ini.



Karantina wilayah sudah mulai diberlakukan di beberapa kota, hal ini bertujuan untuk mencegah lebih banyak lagi orang yang terpapar Covid-19. Mengingat cepatnya penyebaran penyakit ini, partisipasi aktif seluruh masyarakat sungguh sangat diperlukan, dengan melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing. Dengan membatasi aktifitas di luar rumah, penyebaran Covid-19 bisa diminimalisir.

Semoga wabah ini cepat berakhir Dan semua bisa kembali normal seperti sediakala, kembali bekerja, bersekolah, dan berkegiatan. Namun untuk saat ini sebaiknya #dirumahsaja.

Sudah Mengenal Huruf Sejak 2,5 Tahun, Tapi Kenapa Menulis Masih Jadi Masalah? | Seri Kejar Menulis TK B — 30 Hari

Ada satu hal tentang perkembangan Ibrahim yang belakangan ini cukup sering saya pikirkan: menulis . Ibrahim sekarang sudah TK B. Akhir-akhir...