Dear Good Readers and Limited edition Weirdos,
Kali ini saya mau cerita tentang mimpi saya. Karena saya weirdo wajar donk ya kalau mimpi saya juga weird.. Haha.. Harap maklum..
Jadi gini, tadi malam itu saya mimpi aneh banget. Ada dua mimpi berbeda yang benar-benar gak nyambung. Tapi dua-duanya berjalan seperti cerita.
Mimpi yang pertama ceritanya saya dan keluarga besar sedang rekreasi ke sebuah tempat wisata, lokasinya mirip Jatim Park atau sejenisnya. Sedang asyik ngobrol sama suami dan keluarga tiba-tiba saya melihat ada sosok yang saya kenal bernama Dikta.
Ya, Pradikta Wicaksono yang vokalisnya Yovie Nuno itu. Saya langsung mendekat sambil bilang kalau saya mau minta foto bareng dan dia memperbolehkan. Perlu dicatat dimimpi itu saya gak ganjen kayak abg yang lagi ketemu idolanya ya. Kemudian saya panggil semua keluarga saya dan kami foto-foto bareng Dikta. Akhirnya dimimpi itu Dikta jadi ikut jalan bareng kami semua dan berfoto-foto bareng.
Sampai akhirnya dipintu keluar saya meminta foto berdua saja dengan Dikta menggunakan kamera hape saya, "untuk koleksi pribadi saya", saya bilang begitu. Tapi entah kenapa dia menolak karena lebih enak foto bareng-bareng aja, dan saya setuju.
Mimpi yang pertama ini berakhir disitu bersamaan dengan hasrat ingin pipis yang menggelora. Lalu setelah dari kamar mandi saya kembali terlelap, kali ini mimpi kedua dimulai.
Entah kenapa saya berada di kantor polisi dan seperti telah selesai melakukan tes masuk. Saya lulus tes pertama yaitu tes tulis.
Seorang pak polisi memberi selamat dan mengatakan bahwa ada tes kedua keesokan harinya. Saya heran aja saya kan pendek, harusnya qualifikasi awal saja gak lulus tapi ini lulus bahkan ikut tes tulis. Kalau kata pak polisi tadi saya hanya akan ditugaskan di dalam bukan di lapangan.
Lalu entah kenapa saat itu saya keluar sejenak, saya lihat diri saya sedang pakai pakaian rapi tapi dengan sepatu hak tinggi yang berbeda warna, merah dan hitam. Akhirnya saya memilih sepatu merah dengan hak yang cukup tinggi.
Kemudian ketika masuk kembali ke dalam kantor pak polisi berpesan kalau besok adalah tes fisik, saya diminta memakai pakaian karate tapi menurutnya saya harus memakai banner putih polos yang diikatkan ke pinggang seperti memakai sarung untuk menambah panjang baju yang mungkin tak menutup sempurna ke bagian bawah tubuh yang masih merupakan aurat mengingat saya memakai hijab.
Saya mengiyakan dan bertanya tes fisik seperti apa yang akan saya lalui, beliau mengatakan kalau paling-paling hanya lari dengan jarak yang tak begitu jauh.
Kemudian saya dengar ada ribut-ribut tentang penerimaan ini, katanya banyak yang komplain. Lalu ada yang bilang, "Ya sudah, kita ulangi saja prosesnya".
Sadar hal itu saya jadi kebingungan, "Gmn dg penerimaan saya?" Lagi-lagi pak polisi tadi muncul dan berkata, "Okay kita ulang, tapi khusus yg hari ini jangan", ucapnya. Semua mengiyakan yang berarti saya tetap lolos.
Entahlah... Akhirny saya tersadar dari mimpi.. Mimpi yang benar-benar aneh..
Weird Love,
Monday, 24 August 2015
Sunday, 23 August 2015
Cerita Sedikit: Hidup Tanpa Suara | Our Life Journey
Dear Good Readers and Weirdos,
Ijinkan saya cerita tentang hal yang saya alami beberapa hari yang lalu. Saya merasa tertohok begitu dalam ketika seseorang masuk ke toko kami. Sebenarnya saya sering lihat dia dan tak asing. "Eh eh eh eh..", ujarnya. Tak ada suara, hanya seperti erangan tapi bukan marah. Bibirnya seperti komat kamit. Saya berusaha dengan seksama memperhatikan bibirnya untuk menebak apa yang diucapkannya.
Ya dia memiliki kekurangan, telinganya tak bisa mendengar, itu yang membuatnya juga kesulitan dalam berbicara. Ternyata saya pahami dia hendak membeli pulsa, saya carikan secarik kertas dan sebuah pena. Lalu saya lihat lagi dia berujar, "eh eh eh..?", sambil tangannya menunjukan angka 5 dan bibirnya komat kamit yang saya pahami dia hendak membeli pulsa 5rb.
Setelah selesai menulis nomor hapenya tangannya kembali menunjukkan jari-jarinya, kali ini dia mengangkat 6 jarinya, kemudian lima jarinya dan dua kali menunjukkan angka nol. Saya pahami dia paham harganya 6.500,- saya-iya-kan dengan mengatakan "iya", lalu dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Terlihat beberapa lembar uang kertas dan sebuah kantong plastik yang berisi recehan. Lalu dia mengeluarkan uang 6rb yang terdiri dari lembaran dan recehan.
Saya tunggu beberapa detik dia tampak kembali bertanya seolah mengatakan, "pulsaku kok belum diproses", karena sedari tadi aku tetap didepannya mengira dia sedang mengeluarkan kekurangan 500 rupiah, sampai akhirnya dia mengulang tangannya menunjukkan angka lima dan dua buah nol. "Ya..", jawab saya. Ternyata dia sedikit kurang paham maksud saya. Lalu saya melangkah menuju laptop untuk memproses.
Seperti biasa selama perjalanan ke laptop yang cuma beberapa langkah pikiran saya melayang. Bagaimana rasanya hidup seperti orang ini? Hidup tanpa suara.. Sunyi, senyap, tak terdengar apapun. Tiba-tiba mata saya terasa panas, hati terasa teriris, entahlah.. Selalu seperti itu..
Sejurus kemudian muncul perasaan betapa kurang bersyukurnya saya atas semua kebaikan dan kelebihan yang Allah berikan kepada saya. Saya harusnya bersyukur masih bisa mendengar dan berbicara dengan baik sehingga orang lain mengerti. Dan saya tak harus.. Hidup Tanpa Suara..
Weird Love,
Ijinkan saya cerita tentang hal yang saya alami beberapa hari yang lalu. Saya merasa tertohok begitu dalam ketika seseorang masuk ke toko kami. Sebenarnya saya sering lihat dia dan tak asing. "Eh eh eh eh..", ujarnya. Tak ada suara, hanya seperti erangan tapi bukan marah. Bibirnya seperti komat kamit. Saya berusaha dengan seksama memperhatikan bibirnya untuk menebak apa yang diucapkannya.
Ya dia memiliki kekurangan, telinganya tak bisa mendengar, itu yang membuatnya juga kesulitan dalam berbicara. Ternyata saya pahami dia hendak membeli pulsa, saya carikan secarik kertas dan sebuah pena. Lalu saya lihat lagi dia berujar, "eh eh eh..?", sambil tangannya menunjukan angka 5 dan bibirnya komat kamit yang saya pahami dia hendak membeli pulsa 5rb.
Setelah selesai menulis nomor hapenya tangannya kembali menunjukkan jari-jarinya, kali ini dia mengangkat 6 jarinya, kemudian lima jarinya dan dua kali menunjukkan angka nol. Saya pahami dia paham harganya 6.500,- saya-iya-kan dengan mengatakan "iya", lalu dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Terlihat beberapa lembar uang kertas dan sebuah kantong plastik yang berisi recehan. Lalu dia mengeluarkan uang 6rb yang terdiri dari lembaran dan recehan.
Saya tunggu beberapa detik dia tampak kembali bertanya seolah mengatakan, "pulsaku kok belum diproses", karena sedari tadi aku tetap didepannya mengira dia sedang mengeluarkan kekurangan 500 rupiah, sampai akhirnya dia mengulang tangannya menunjukkan angka lima dan dua buah nol. "Ya..", jawab saya. Ternyata dia sedikit kurang paham maksud saya. Lalu saya melangkah menuju laptop untuk memproses.
Seperti biasa selama perjalanan ke laptop yang cuma beberapa langkah pikiran saya melayang. Bagaimana rasanya hidup seperti orang ini? Hidup tanpa suara.. Sunyi, senyap, tak terdengar apapun. Tiba-tiba mata saya terasa panas, hati terasa teriris, entahlah.. Selalu seperti itu..
Sejurus kemudian muncul perasaan betapa kurang bersyukurnya saya atas semua kebaikan dan kelebihan yang Allah berikan kepada saya. Saya harusnya bersyukur masih bisa mendengar dan berbicara dengan baik sehingga orang lain mengerti. Dan saya tak harus.. Hidup Tanpa Suara..
Weird Love,
Cerita Sedikit: Mas Ganteng Saya dan Komputer Murahnya
Dear Good Readers and Weirdos,
Kali ini saya mau cerita tentang suami. Bukan LeQue namanya kalau gak lucu dan bikin ketawa (LeQue adalah panggilan sayang saya ke suami sebelum nikah yang masih kebawa sampai sekarang).
Jadi gini ceritanya, kemarin malam mas ganteng itu sedang pakai kaos kaki mau berangkat kerja. Tiba-tiba dia cerita tentang obrolan dia dan temannya suatu hari.
"Il, ada komputer murah mau gak?", tanya mas ganteng dengan suara normal, khas dia kalau lagi ngobrol serius. Oh iya, nama temannya mas ganteng adalah pak Mail. Temannya yang melihat peluang dapat ceperan dan melihat betapa seriusnya cara mas ganteng berbicara langsung menjawab,
"Mau, mau. Nanti aku hubungi Hari biar dibeli sama dia terus dilempar lagi". Hari itu nama temannya pak Mail.
Saya yang mendengarkan cerita mas ganteng kemudian membayangkan kejadian itu dan mencoba menerka apa yang selanjutnya dikatakan mas ganteng pada temannya. Kemungkinan bisa, 'Ya ambil aja di toko orang', atau 'komputer rusak', atau bisa juga 'komputer mainan'.
Saya masih sibuk dengan apa kemungkinan jawaban lucu yang keluar dari mulut mas ganteng, lalu mas ganteng meneruskan ceritanya sambil duduk dan mengangkat satu kakinya.
"Ini, Il, komputer murah", sambil menunjuk bagian telapak dikaos kakinya yang bertuliskan KOMPUTER.
Weird Love,
Kali ini saya mau cerita tentang suami. Bukan LeQue namanya kalau gak lucu dan bikin ketawa (LeQue adalah panggilan sayang saya ke suami sebelum nikah yang masih kebawa sampai sekarang).
Jadi gini ceritanya, kemarin malam mas ganteng itu sedang pakai kaos kaki mau berangkat kerja. Tiba-tiba dia cerita tentang obrolan dia dan temannya suatu hari.
"Il, ada komputer murah mau gak?", tanya mas ganteng dengan suara normal, khas dia kalau lagi ngobrol serius. Oh iya, nama temannya mas ganteng adalah pak Mail. Temannya yang melihat peluang dapat ceperan dan melihat betapa seriusnya cara mas ganteng berbicara langsung menjawab,
"Mau, mau. Nanti aku hubungi Hari biar dibeli sama dia terus dilempar lagi". Hari itu nama temannya pak Mail.
Saya yang mendengarkan cerita mas ganteng kemudian membayangkan kejadian itu dan mencoba menerka apa yang selanjutnya dikatakan mas ganteng pada temannya. Kemungkinan bisa, 'Ya ambil aja di toko orang', atau 'komputer rusak', atau bisa juga 'komputer mainan'.
Saya masih sibuk dengan apa kemungkinan jawaban lucu yang keluar dari mulut mas ganteng, lalu mas ganteng meneruskan ceritanya sambil duduk dan mengangkat satu kakinya.
"Ini, Il, komputer murah", sambil menunjuk bagian telapak dikaos kakinya yang bertuliskan KOMPUTER.
Weird Love,
Monday, 17 August 2015
Auto-biography Saya: It's Story about Nirmala (Again) | Our Life Journey
Dear Good Readers,
Beberapa hari yang lalu saya dan keluarga pergi ke sebuah tempat wisata, it's called Sumber Maron (tentang tempat wisata ini mungkin lain waktu saya ceritakan). On our way there entah kenapa tiba-tiba kami membahas tentang Nirmala, sebuah nama yang dulu sempat hendak disematkan pada saya. Ceritanya sempat saya bahas di postingan ini >> Auto-biography Saya: It was Nirmala #wink-wink
Saya tak pernah tahu kenapa bapak pingin memberi nama itu pada saya, sampai hari itu. Ternyata alasan dibalik keinginan memberi nama Nirmala pada saya adalah..
"Sebenar sederhana sekali mikirnya.. Nir itu kan artinya tidak, Mala itu artinya bahaya. Jadi Nirmala itu artinya tidak ada bahaya, bisa juga diartikan jauh dari bahaya..", begitu jelas bapak.
Memang sederhana sih, tapi maknanya dalam juga ya.. :) Semoga walaupun tak menyandang nama itu saya selalu dijauhkan dari mara bahaya.. Aamiin..
Jadi ternyata itulah misteri nama Nirmala selama ini.. #SayaJadiTahu
Weird love,
Beberapa hari yang lalu saya dan keluarga pergi ke sebuah tempat wisata, it's called Sumber Maron (tentang tempat wisata ini mungkin lain waktu saya ceritakan). On our way there entah kenapa tiba-tiba kami membahas tentang Nirmala, sebuah nama yang dulu sempat hendak disematkan pada saya. Ceritanya sempat saya bahas di postingan ini >> Auto-biography Saya: It was Nirmala #wink-wink
Saya tak pernah tahu kenapa bapak pingin memberi nama itu pada saya, sampai hari itu. Ternyata alasan dibalik keinginan memberi nama Nirmala pada saya adalah..
"Sebenar sederhana sekali mikirnya.. Nir itu kan artinya tidak, Mala itu artinya bahaya. Jadi Nirmala itu artinya tidak ada bahaya, bisa juga diartikan jauh dari bahaya..", begitu jelas bapak.
Memang sederhana sih, tapi maknanya dalam juga ya.. :) Semoga walaupun tak menyandang nama itu saya selalu dijauhkan dari mara bahaya.. Aamiin..
Jadi ternyata itulah misteri nama Nirmala selama ini.. #SayaJadiTahu
Weird love,
Thursday, 13 August 2015
Kontemplasi Seorang Weirdo Introvert Nerd :) | Our Life Journey
Dear Good Readers,
Akhir-akhir ini lagi banyak yang harus saya pikirkan sampe nulis di blog ini aja jarang, herannya ide buat nulis panjang juga buntu banget. Sepertinya kehabisan batre. Butuh recharge. Tapi kalo untuk nulis tulisan pendek-pendek sejenis puisi, masih mengalir lancar.. Cuma belum masuk blog aja yang baru-baru..
Oiya, sekedar info saya ada bikin blog khusus buat ngumpulin puisi-puisi yang pernah saya tulis. Ini linknya >> "Kumpulan Puisi Rani | Niek's Project". Ini bakal jadi project seumur hidup sepertinya. Semoga masih terus diberikan ide oleh Sang Pencipta jadi puisi-puisi yang saya bikin bisa ngena di hati Good Readers..
Saat ini saya lagi dalam fase memulai kontemplasi, bukan kontemplasi yang bener-bener hening dan gak melakukan apapun. Kontemplasi pikiran. Sedang berusaha menjauhkan diri dari pikiran-pikiran miring, yang enggak jelas dan enggak membangun. Tapi emang agak susah sih. Oops, ralat.. Bukan cuma 'agak' susah tapi pake banget. Susah banget.
Banyak penggoda yang datang, yang seolah menggelitik kekuatan analysis untuk terus saja mengumpulkan dan analisa data yang kemudian akan berakhir pada kesimpulan. #NgomongApaSih. Kadang juga suka pingin ketawa kalo udah liat kondisi yang mirip baget sama pertanyaan, "Mana yang duluan, ayam apa telur?" juga pertanyaan seperti, "Jahat mana orang jahat apa orang yang menganggap orang lain jahat?", apa pula itu.. Juga pertanyaan seperti, "Saya ini korban apa pelaku sih sebenarnya?", juga seperti, "Saya ini sebab apa akibat?" Entahlah..
Tulisan saya makin ngelanturkan, Good Reader? That is me.. Weirdo! But really, I love to have that name as my middle name.. Weirdo! Terserah apapun yang orang bilang tentang nama itu saya suka..
Seorang Weirdo yang sedang Kontemplasi..
Segitu dulu ceritanya ya, Good Readers.. Salam buat semua Weirdos di seluruh dunia..
Weird Love,
Akhir-akhir ini lagi banyak yang harus saya pikirkan sampe nulis di blog ini aja jarang, herannya ide buat nulis panjang juga buntu banget. Sepertinya kehabisan batre. Butuh recharge. Tapi kalo untuk nulis tulisan pendek-pendek sejenis puisi, masih mengalir lancar.. Cuma belum masuk blog aja yang baru-baru..
Oiya, sekedar info saya ada bikin blog khusus buat ngumpulin puisi-puisi yang pernah saya tulis. Ini linknya >> "Kumpulan Puisi Rani | Niek's Project". Ini bakal jadi project seumur hidup sepertinya. Semoga masih terus diberikan ide oleh Sang Pencipta jadi puisi-puisi yang saya bikin bisa ngena di hati Good Readers..
Saat ini saya lagi dalam fase memulai kontemplasi, bukan kontemplasi yang bener-bener hening dan gak melakukan apapun. Kontemplasi pikiran. Sedang berusaha menjauhkan diri dari pikiran-pikiran miring, yang enggak jelas dan enggak membangun. Tapi emang agak susah sih. Oops, ralat.. Bukan cuma 'agak' susah tapi pake banget. Susah banget.
Banyak penggoda yang datang, yang seolah menggelitik kekuatan analysis untuk terus saja mengumpulkan dan analisa data yang kemudian akan berakhir pada kesimpulan. #NgomongApaSih. Kadang juga suka pingin ketawa kalo udah liat kondisi yang mirip baget sama pertanyaan, "Mana yang duluan, ayam apa telur?" juga pertanyaan seperti, "Jahat mana orang jahat apa orang yang menganggap orang lain jahat?", apa pula itu.. Juga pertanyaan seperti, "Saya ini korban apa pelaku sih sebenarnya?", juga seperti, "Saya ini sebab apa akibat?" Entahlah..
Tulisan saya makin ngelanturkan, Good Reader? That is me.. Weirdo! But really, I love to have that name as my middle name.. Weirdo! Terserah apapun yang orang bilang tentang nama itu saya suka..
Seorang Weirdo yang sedang Kontemplasi..
Segitu dulu ceritanya ya, Good Readers.. Salam buat semua Weirdos di seluruh dunia..
Weird Love,
Subscribe to:
Posts (Atom)
Ketika Seorang Ahjussi Akhirnya Menjadi Tokoh Utama
Sebuah thread tiba-tiba muncul di feed saya. Seseorang bertanya apakah ada yang sedang menonton drama Korea berjudul The Dream Life of Mr. K...
-
Dari hutan bambu yang sunyi menjelma menjadi ekowisata yang tak hanya menjaga alam, tapi juga menghidupi warga dan mengangkat harkat desa. S...
-
Lelah Menahan Diri? Yuk, Kenali Akar Emosionalnya Lewat Refleksi Harian Pernah nggak sih kamu pengin beli sesuatu—baju, buku, atau makanan f...