Dear Good Readers dan Weirdos,
Saya datang untuk menyambung cerita yang sempat terpotong sebelumnya, tentang sakit yang diderita bapak. Cerita Sedikit: Bapak Sakit (1)
Adik saya berencana menikah di bulan Desember 2015 lalu, sekitar sebulan sebelumnya dia berangkat ke Binjai, Medan, untuk menemui keluarga calon istrinya. Saat kembali dari Medan itulah bapak mengalami cegukan setelah meminum sirup markisa yang dia bawa. Pasti bukan karena faktor sirup markisanya beliau cegukan, karena yang lain termasuk saya meminum sirup itu dan tak terjadi apa-apa.
Setelah rencana itu dibuat (tanggal dimajukan dari rencana semula karena awalnya ada rencana berakhir tahun disana hanya saja mengingat harga tiket pesawat yang selalu melambung di season itu), tiket pesawat dibeli untuk PP, berita tentang kondisi kesehatan bapakpun keluar. Saat itulah kami dihadapkan pada dua pilihan yang saya ceritakan sebelumnya dan keputusannya adalah CT-Scan ditunda.
Love,
Monday, 1 February 2016
Sunday, 31 January 2016
Cerita Sedikit: Bapak Sakit (1)
Dear Good Readers dan Weirdos,
Kali ini saya datang untuk menceritakan tentang sakit yang diderita bapak saya. Semua berawal dari cegukan yang gak berhenti selama kurang lebih dua minggu. Dua kali bapak ditemani ibu datang ke sebuah rumah sakit untuk berobat, dua kali itu juga bertemu dengan dua orang dokter jaga yang berbeda dan bapak diminta rawat inap tapi bapak menolak.
Ketiga kalinya ketika kami sekeluarga berhasil membujuk bapak untuk dirawat, dokter jaga yang berbeda lagi bilang bapak gak perlu dirawat karena hanya cegukan. Tapi kemudian ibu mengatakan bahwa beliau meminta dilakukan tindakan mengingat berat badan bapak yang menurun drastis dalam kurun waktu dua bulan serta wajahnya yang kelihatan pucat. Akhirnya dokter setuju untuk melakukan tes darah.
Keesokan harinya hasil tes keluar dan dokter menyatakan prosentase sel kanker dalam tubuh bapak diatas normal, mendengar berita itu dari ibu Hati saya hancur berkeping-keping. Untuk mengetahui jelasnya harus ada tindakan lanjutan yaitu CT-Scan. Kami dihadapkan pada dua pilihan. Pergi ke Medan untuk menyaksikan pernikahan adik kandung saya atau melakukan CT-Scan. Jika hasil CT-Scan keluar maka tindakan medis lanjutan harus dilaksanakan.
Love,
Kali ini saya datang untuk menceritakan tentang sakit yang diderita bapak saya. Semua berawal dari cegukan yang gak berhenti selama kurang lebih dua minggu. Dua kali bapak ditemani ibu datang ke sebuah rumah sakit untuk berobat, dua kali itu juga bertemu dengan dua orang dokter jaga yang berbeda dan bapak diminta rawat inap tapi bapak menolak.
Ketiga kalinya ketika kami sekeluarga berhasil membujuk bapak untuk dirawat, dokter jaga yang berbeda lagi bilang bapak gak perlu dirawat karena hanya cegukan. Tapi kemudian ibu mengatakan bahwa beliau meminta dilakukan tindakan mengingat berat badan bapak yang menurun drastis dalam kurun waktu dua bulan serta wajahnya yang kelihatan pucat. Akhirnya dokter setuju untuk melakukan tes darah.
Keesokan harinya hasil tes keluar dan dokter menyatakan prosentase sel kanker dalam tubuh bapak diatas normal, mendengar berita itu dari ibu Hati saya hancur berkeping-keping. Untuk mengetahui jelasnya harus ada tindakan lanjutan yaitu CT-Scan. Kami dihadapkan pada dua pilihan. Pergi ke Medan untuk menyaksikan pernikahan adik kandung saya atau melakukan CT-Scan. Jika hasil CT-Scan keluar maka tindakan medis lanjutan harus dilaksanakan.
Love,
Friday, 29 January 2016
Saya dan Puisi: Beda itu Terasa
Menuruti sakit, sakit.
Menuruti nelangsa, nelangsa.
Menuruti sedih, sedih.
Masih selalu kurang saja apa yang sudah hati ini beri
Masih tak cukup saja perjuangan selama ini
Memang mungkin kurang cukup
Jujur dari dahulu kala beda itu terasa
Tapi jujur dari dahulu kala juga hati ini mencoba biasa
Dan menjadi terbiasa
Terbiasa tersenyum meski sakit
Terbiasa ikut tertawa dan memuji meski tak ku pungkiri memang pantas dipuji
Tapi jarang terdengar terlontar untukku
Bisa jadi aku memang tak pantas
Sehingga jika tiba-tiba lontaran itu untukku
Rasanya girang bukan main di dalam sini
Sehingga mata ini basah
Yang membuatku berpura-pura menguap
Aku terbiasa tak sama
Seharusnya telinga ini sudah kebal
Mata pun begitu
Dan rasanya hati ini juga harusnya begitu
Tapi entah mengapa
Kadang tak seperti biasa
Tak terbendung
Tak tertahan
Beda itu begitu terasa
Ya, begitu terasa
Terasa begitu beda
Menuruti nelangsa, nelangsa.
Menuruti sedih, sedih.
Masih selalu kurang saja apa yang sudah hati ini beri
Masih tak cukup saja perjuangan selama ini
Memang mungkin kurang cukup
Jujur dari dahulu kala beda itu terasa
Tapi jujur dari dahulu kala juga hati ini mencoba biasa
Dan menjadi terbiasa
Terbiasa tersenyum meski sakit
Terbiasa ikut tertawa dan memuji meski tak ku pungkiri memang pantas dipuji
Tapi jarang terdengar terlontar untukku
Bisa jadi aku memang tak pantas
Sehingga jika tiba-tiba lontaran itu untukku
Rasanya girang bukan main di dalam sini
Sehingga mata ini basah
Yang membuatku berpura-pura menguap
Aku terbiasa tak sama
Seharusnya telinga ini sudah kebal
Mata pun begitu
Dan rasanya hati ini juga harusnya begitu
Tapi entah mengapa
Kadang tak seperti biasa
Tak terbendung
Tak tertahan
Beda itu begitu terasa
Ya, begitu terasa
Terasa begitu beda
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sudah Mengenal Huruf Sejak 2,5 Tahun, Tapi Kenapa Menulis Masih Jadi Masalah? | Seri Kejar Menulis TK B — 30 Hari
Ada satu hal tentang perkembangan Ibrahim yang belakangan ini cukup sering saya pikirkan: menulis . Ibrahim sekarang sudah TK B. Akhir-akhir...
-
Dari hutan bambu yang sunyi menjelma menjadi ekowisata yang tak hanya menjaga alam, tapi juga menghidupi warga dan mengangkat harkat desa. S...
-
Dear Weirdos, Hari ini adalah hari minggu yang berarti kemarin sore jam 6 Stereo main di Net TV , emang kenapa? Kali ini saya mau review s...