Saturday, 25 April 2020

Social Distancing Hingga PSBB | Our Life Journey

Dari hari ke hari, penyebaran Covid-19 semakin meluas. Angka positif tercatat hari ini, tanggal 24 April 2020, mencapai 8.211 kasus. Jumlah ini mengalami peningkatan 436 kasus dari kemarin.

Langkah awal yang dianjurkan pemerintah kepada masyarakat adalah penerapan social distancing. Hal ini sudah dilakukan sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia. Masyarakat diminta tidak berkerumun dan melakukan kegiatan yang justru bisa meningkatkan penyebaran Covid-19.

Apa itu Social Distancing?

Sebelum membahas lebih jauh tentang social distancing, ada baiknya kita membahas secara sederhana saja apa itu social distancing. Social distancing berarti pembatasan sosial dimana gerak kita secara sosial dibatasi. Ada yang berpendapat bahwa social distancing adalah istilah yang tak tepat, yang sebenarnya dimaksud dengan social distancing disini adalah physical distancing. Pembatasan fisik, Jadi, secara fisik saja kita berjauhan tapi interaksi sosial seperti berkomunikasi lewat jaringan tetap bisa berlangsung. Well, bisa jadi itu hanya perbedaan faktor istilah ... menurut kalian?

Sejak kapan dilaksanakan social distancing?

Secara nasional social distancing sudah terus dikampanyekan sejak kasus positif Covid-19 pertama masuk ke Indonesia tepatnya di Depok, yang diumumkan Presiden pada bulan Maret. Masyarakat mulai diminta menghindari kerumunan dan dilarang berkegiatan yang melibatkan banyak orang.

Langkah pertama yang diambil adalah meliburkan anak sekolah. Di kota tempat saya tinggal tingkat PAUD sampai SMP resmi belajar di rumah mulai 16 Maret 2020, kemudian SMA Dan SMK menyusul setelah muncul keputusan Gubernur di tanggal yang sama. Praktis semua kegiatan yang berhubungan dengan sekolah berhenti, termasuk saya yang bekerja di kantin sekolah.

Semua kegiatan yang mengumpulkan banyak orang seperti Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD), konser-konser musik dan sejenisnya, pengajian, PKK, Dasawisma, termasuk resepsi pernikahan dan kegiatan ibadah ditiadakan.

Kenapa Harus Ada Social Distancing?

Virus Corona yang menyebabkan Covid-19 merupakan virus yang bergerak dan menyebar dengan cepat dari satu individu ke individu yang lain, hanya dengan percikan liur dari seorang penderita Covid-19, yang menempel dan terbawa oleh apapun yang melekat di tubuh kita terutama tangan, bisa masuk ke dalam tubuh kita sendiri, juga menyebar ke orang lain di sekitar kita. 

Oleh karena itu social distancing diperlukan untuk menghindari penyebaran yang masif. Kita tak pernah tahu siapa yang sudah terpapar Coronavirus dan siapa yang tidak, maka menjaga jarak sangat diperlukan.

Efek signifikan social distancing?

Sosial distancing memberikan efek yang signifikan untuk memutus mata rantai persebaran Covid-19. Dengan menjaga jarak satu sama lain, maka potensi penularan dapat diminimalisir, sehingga angka pernyebaran secara cepat, bisa ditekan.

Efektifkah?

Social distancing dirasa efektif menekan laju angka penyebaran. Dengan begitu, Rumah Sakit dan tenaga medis tidak akan kewalahan mengatasi jumlah pasien yang membludak karena cepatnya penyebaran. Namun, hal ini hanya akan dirasakan efektifitasnya, jika masyarat mematuhi anjuran social distancing ini.

Tahap selanjutnya jika social distancing tak menimbulkan efek signifikan?

Saat social distancing ini dirasa tidak berpengaruh signifikan, maka langkah lain yang perlu di ambil adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tidak seperti karantina, dimana semua kegiatan berhenti total, PSBB membatasi sebanyak mungkin kegiatan mobilisasi manusia tetapi tidak seluruhnya.

PSBB hanya dilakukan di suatu wilayah yang dimaksudkan untuk mencegah perpindahan orang di suatu wilayah yang jumlah kasus positif Covid-19 sangat mengkhawatirkan, seperti tingkat kematian yang tinggi. Hal ini akan dilakukan dalam masa inkubasi terpanjang dari Coronavirus yaitu 14 hari. Jika dalam waktu 2 minggu tersebut tidak ada penurunan angka yang signifikan, maka PSBB diperpanjang selama 14 hari lagi, begitu hingga kasus terakhir ditemukan.

Friday, 24 April 2020

Panik ... Panik ... Saya Panik | Our Life Journey

Assalamu'alaikum ....

Sejujurnya saya panik, tapi nggak panik-panik amat, but still ... panic .... Aaah ... entahlah .... Setelah Senin dini hari dapat kabar bahwa tetangga lama yang sudah seperti saudara, meninggal karena Covid-19 >> [Saya ralat info ini karena sampai sekarang belum terkonfirmasi bahwa beliau positif Covid-19], kemarin dapat berita ada orang meninggal di sekitar rumah yang masih satu RW. Bisa kebayang gimana dekatnya lokasi itu dan gimana paniknya. Baiknya saya ceritakan satu-persatu agar tidak bias. Inhale ... exhale ....

Senin dini hari sekitar pukul 02.00 saya dapat telepon dari Ibu. Sambil berurai air mata beliau mengatakan bahwa tetangga kami --sahabat Ibu saya-- di Kota Sidoarjo, tutup usia.

Keluarga kami saling bertetangga lama di sana, sekitar enam tahun. Sampai sekitar akhir Maret atau awal April kemarin beliau masih berkomunikasi dengan Ibu via telepon. Beliau sering berkunjung ke Malang, pun sebaliknya dengan kami. Bisa kalian bayangkan sedekat apa keluarga kami.

Kembali ke Senin dini hari. Saya yang baru saja bangun dari tidur lelap, kaget bukan main mendengar berita itu. Ketika Ibu mengajak berangkat ke Sidoarjo saat itu juga, saya masih bingung, jantung saya berdegup cukup kencang kala itu. Sampai akhirnya Ibu meminta saya ikut saja dan spontan saya mengiyakan.

Berusaha mengatur napas, akhirnya saya memilih sholat. Sehabis sholat dan bersiap-siap, saya kembali mendapat telepon dari Ibu. Beliau mengatakan bahwa anak sahabat Ibu, meminta Ibu untuk tidak takziah ke Sidoarjo karena ada karantina wilayah. Merasa tak enak jika tidak melayat, Ibu menelepon kawannya yang lain, yang biasanya bersama-sama ke Malang dengan sahabat Ibu tersebut.

Dari kawannya inilah, Ibu mendapat kabar bahwa sahabatnya itu positif Covid-19. Sudah tiga hari sebelumnya hasil tes itu keluar >>[Sesuai protap RS beliau harus dimakamkan serupa pasien Covid-19, meski belum terkonfirmasi bahwa beliau positif Covid-19]. Jujur saja hancur hari saya saat itu, membayangkan prosesi pemakaman tanpa anak, suami, sanak saudara yang melepas kepergian beliau. Padahal kawannya sangat banyak dan beliau orang yang baik.

Kepala saya sudah mulai pening saat itu, hingga hanya bisa berucap, "Ya, Allah ...," tiap Kali teringat sahabat Ibu itu. Lalu Rabu pagi, saat masih gelap, ada informasi kematian dari masjid terdekat. Saya pikir ini keadaan biasa, karena memang yang meninggal sudah tua. Namun siangnya, tiba-tiba ada penyemprotan disinfektan di sekitar kampung.

Ternyata siangnya beredar informasi bahwa beliau meninggal karena Coronavirus. Jasadnya langsung di bawa dari Rumah Sakit ke pemakaman. Beredar juga foto-foto pemakaman yang dilakukan petugas dengan APD.

Kepala saya benar-benar pening, jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Tukang sayur yang biasanya jadi langganan saya, mangkalnya di depan gang tempat tinggal orang tersebut. Orang tersebut juga sempat ke pasar, mengirimkan jajanan yang ia buat untuk dijual. Ah, makin panik diri ini.

Pasar adalah tempat yang harus kami kunjungi untuk berbelanja, kalau ndak ke pasar terus mau masak apa? Itu tempat terdekat dan terlengkap yang bisa kami kunjungi, tempat lain? Bukankah resikonya lebih besar sebab kami buta peta Covid-19 di luar sana. Hadeh, mana periode datang di saat yang tidak tepat lagi. Jadi tambah klop, panik plus pe-em-es.

Mikir ngalor-ngidul, kemudian saya ingat bahwa seseorang yang meninggal karena wabah termasuk mati syahid. InsyaAllah begitu adanya dengan beliau berdua. Aamiin.

Namun, bagaimana dengan kepanikan ini?

Tiba-tiba saja seseorang mengirimkan video tentang cerita orang yang sembuh dari Covid-19 setelah proses karantina di Rumah Sakit selama 14 hari. Ia mendedikasikan dua minggu masa penyembuhannya untuk mengkhatamkan membaca Al-Qur'an, ia percaya ayat-ayat Al-Qur'an adalah penyembuh segala penyakit.

Akhirnya diingatkan kembali pada niat diri mengkhatamkan membaca Al-Qur'an selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini pasti akan mengalihkan pikiran saya sepenuhnya dari Covid-19 yang membuat panik, kepada kebesaran Allah yang lebih besar dari sekedar Coronavirus. Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ....

Eh, besok udah Ramadhan, ya? Sekalian aja, deh, mau ngucapin selamat memasuki bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Semoga kita semua dimudahkan dalam menjalani Ramadhan di masa wabah ini, dan semoga kita bisa melewati pandemi ini dalam keadaan sehat wal'afiat ....

Aamiin ... Aamiin ... Allahumma aamiin ....

Thursday, 23 April 2020

9 Cara Terhindar Dari Covid-19 | Our Life Journey

Setiap hari penyebaran Covid-19 semakin menunjukkan peningkatan. Data terakhir pada hari Rabu, tanggal 23 April kemarin, kasus positif bertambah menjadi 7.418 kasus. Total orang yang sembuh berjumlah 913 orang dan total angka meninggal 635 orang.

Semakin signifikannya peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 ini, mengajarkan kita untuk tetap waspada dan selalu menjaga keselamatan diri. Berikut 9 cara yang bisa dilakukan untuk terhindar dari Covid-19, yang dirangkumkan dari berbagai sumber yang bisa ditemukan:

1. Jaga Jarak Aman

Penting disaat pandemi Covid-19 seperti ini, untuk jarak aman antar kita. Berdasarkan WHO (World Health Organization), jarak aman adalah satu sampai dua meter. Sebaiknya tidak bersalaman dengan berjabat tangan, atau berpelukan saat saling bertemu. Terapkan tata cara bertegur sapa tanpa saling bersentuhan.

Untuk sementara waktu seserius mungkin hindari kerumunan, batasi pergerakan diri, tidak bepergian ke tempat terjangkit dan tetap tinggal di rumah.

2. Gunakan Masker

Jika kita bekerja di sektor-sektor yang tidak bisa dilakukan dengan WFH (Work From Home), gunakan masker sebagai perlindungan diri dari kemungkinan terpapar Covid-19.

3. Rajin Mencuci Tangan

Tangan merupakan anggota tubuh, yang sering sekali bersentuhan dengan segala macam benda di sekitar kita. Oleh karena itu, tangan mudah sekali menjadi perantara menempelnya berbagai bakteri dan virus, tak terkecuali virus Corona penyebab Covid-19.

Mencuci tangan, menggunakan sabun dan air mengalir, dengan enam langkah sesuai anjuran WHO (World Health Organization), bisa sangat berpengaruh untuk menghindarkan diri kita dari Covid-19. Jika tidak menemukan air maka cairan antiseptik bisa menggantikannya.

4. Tidak Menyentuh Mata, Hidung dan Mulut 

Coronavirus penyebab Covid-19, masuk ke dalam tubuh melalui  melalui mata, hidung dan mulut. Menyentuh ketiganya bisa meningkatkan resiko penularan, sebab kita tidak tahu sudah Menyentuh apa saja tangan kita. Maka, sangat di anjurkan untuk tidak Menyentuh mata, hidung dan mulut, terlebih dengan tangan yang belum dibersihkan.

5. Menerapkan Etika Batuk

Jika biasanya kita menggunakan tangan untuk menutupi mulut ketika Batuk Dan bersin, atau bahkan Ada beberapa yang membiarkan mulut terbuka saja ketika melakukan ya, Ada baiknya menghentikan kebiasaan tersebut Dan mulai Menerapkan Etika Batuk Dan bersin. Gunakan tissue saat bersin Dan Batuk, lalu segera buang tissue tersebut di tempat sampah. Jika Tidak menemukan tissue di sekitar, gunakan lengan untuk menutupinya.

6. Menjaga Hidup Bersih

Menjaga kebersihan diri, termasuk rumah dan lingkungan sekitar, turut membantu terhindar dari Coronavirus. Mencuci Bersih setiap bahan makanan yang akan digunakan, ikut mengurangi resiko penularan, sebab kita tidak tahu tangan siapa saja yang sudah menyentuh bahan makanan tersebut.

7. Meningkatkan Imunitas Tubuh

Ada berbagai Cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yakni dengan makan-makanan bergizi tinggi, menambahkan multi vitamin dan supplemen peningkat imunitas tubuh, olah raga Dan berjemur. Tidur yang cukup membantu menjaga imunitas tubuh dari serangan penyakit.

8. Menjaga Kesehatan Mental

Di saat pandemi seperti ini, bukan hanya kesehatan fisik yang perlu dijaga, tapi juga kesehatan mental. Berita-berita yang beredar tentang Covid-19, yang terkadang tidak benar, membuat mental kita drop. Hal ini dapat memicu stres, yang berakibat pada turunnya imunitas tubuh. Maka penting bagi kita untuk tetap menjaga kesehatan mental kita.

9. Karantina Mandiri

Jika tubuh sedang tidak dalam kondisi sehat, ada baiknya untuk tetap tinggal di rumah. Apabila terasa ada gejala Covid-19, terlebih usai kontak dengan lingkungan yang terpapar pandemi Covid-19, sebaiknya mengisolasi diri selama 14 hari atau dua minggu. Namun, apabila terasa gejala Covid-19 antara sedang menuju berat, carilah bantuan medis melalui kontak yang tersedia di setiap wilayah.

Itulah sembilan cara terhindar dari Covid-19. Tetap jaga kesehatan fisik maupun mental, semoga kita dan keluarga terhindar dari Covid-19, dan semoga pandemi ini segera berakhir. Aamiin ....

Berbagai Cara Influencer, Tokoh Publik dan Masyarakat Indonesia Membantu Saat Pandemi | Our Life Journey

Meluasnya pandemi Covid-19, membuat semakin banyak masyarakat yang menjadi korban terdampak Coronavirus ini. Kondisi yang terasa semakin sulit, membuat tak sedikit masyarakat Indonesia berinisiatif untuk saling bahu-membahu dalam membantu menghadapi keadaan tidak biasa ini. Tak terkecuali para influencer dan public figure yang namanya tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.

Berikut adalah berbagai cara yang mereka, para influencer, public figure dan masyarakat lakukan untuk membantu saat pandemi Covid-19:

1. Menggalang Dana

Rachel Vennya, Atta Halilintar, dan Andovi da Lopez adalah tiga dari banyak influencer dan public figure yang melakukan penggalangan dana untuk membantu saat pandemi.

Rachel Vennya, melakukan pengumpulan dana dengan terlebih dahulu memberikan informasi, bahwa dirinya membuka penggalangan dana untuk penanggulangan Covid-19 ini. Dana ini digunakan untuk penyediaan handsanitizer, masker, Alat Perlindungan Diri bagi tenaga kesehatan.

Tak jauh berbeda, Atta Halilintar juga mengumpulkan dana. Selain untuk tenaga kesehatan, ia juga mengumpulkan dana untuk membagikan sembako pada masyarakat.

Andovi da Lopez pun melakukan penggalangan dana. Yang membuatnya sedikit berbeda adalah caranya menggalang dana. Ia melakukan aksi membaca isi KBBI selama 14 jam non-stop untuk mengumpulkan dana.

2. Membantu ketersediaan Alat Perlindungan Diri (APD)

Ada juga beberapa influencer, tokoh publik dan masyarakat yang melakukan cara berbeda untuk membantu saat pandemi. Cara yang mereka lakukan adalah dengan membuat APD (Alat Perlindungan Diri).

Anne Avantie, misalnya. Wanita kelahiran tahun 1954 tersebut, menghentikan semua proses produksi di yayasan yang ia dirikan untuk menghasilkan APD bagi tenaga kesehatan.

Tidak hanya Anne Avantie, Budhi Hermanto yang merupakan warga Yogyakarta, mengumpulkan para penjahit lokal untuk bersama-sama membuat APD.

3. Terjun langsung ke lapangan

Awkarin, dr. Tirta Hudi, dan Bripka Jerry Tumundo adalah tiga dari beberapa influencer, tokoh publik dan masyarakat yang ikut ambil bagian dalam penanggulangan Covid-19 dengan terjun langsung ke lapangan.

Selain mengikuti langkah para influencer lain dengan mengumpulkan dana, Awkarin juga ikut serta dalam penyemprotan desinfektan. Ia mengenakan perlindungan, lengkap dengan masker dan sarung tangan sambil menggendong alat penyemprot tersebut.

Sama halnya dengan Awkarin, dokter Tirta Hudi ikut turun tangan dalam penanganan Covid-19. Ia membagikan masker dan handsanitizer kepada masyarakat luas.

Bripka Jerry sedikit berbeda, ia terjun langsung menjadi sukarelawan membantu memakamkan korban Covid-19.

4. Membuat konten video inspiratif mengenai Covid-19

Edward Suhadi dan Anggriani --seorang perawat di sebuah rumah sakit di Medan-- adalah contoh influencer, tokoh publik dan masyarakat yang berusaha membantu saat pandemi, dengan mengunggah video yang menginspirasi.

Anggriani membuat beberapa video, melalui aplikasi likee, tentang tips seputar pencegahan dan penyebaran Covid-19. Sementara Edward Suhadi membagikan beberapa video buatannya tentang Covid-19 di akun Instagram miliknya. Diantara video-video yang menginspirasi adalah video berjudul 'Bagaimana Wabah Covid-19 Bisa Berakhir?' dan video 'telor ceplok' tentang menimbun barang (panic buying).

5. Mengkampanyekan #DiRumaAja dan #CukupDariRumah

Cukup banyak influencer, tokoh publik dan masyarakat yang mengkampanyekan tagar DiRumahAja. Namun influencer dan champaigner Dompet Duafa, Fathur, mengkampanyekan tagar CukupDariRumah. Menurutnya tidak cukup hanya di rumah saja, tapi ikut bekerja dan berpartisipasi meski cukup dari rumah.

Tuesday, 21 April 2020

Dampak Covid-19 Terhadap Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Indonesia | Our Life Journey

Semua dimulai dengan guyonan yang beredar di media daring dan sosial media bahwa Coronavirus atau Covid-19, tak akan pernah bisa masuk Indonesia karena imunitas orang Indonesia sudah sangat maksimal.

Menurut guyonan tersebut, hal ini teruji dari berbagai keadaan yang sudah biasa terjadi di negara ini. Salah satu contohnya adalah banyaknya warung pinggir jalan yang mencuci puluhan piring dan sendoknya hanya dengan menggunakan satu ember air.

Banyak orang yang makan di tempat-tempat seperti itu, dan tak ada masalah kesehatan berarti pada orang-orang tersebut setelahnya. Hal itu, yang menurut guyonan ini, menjadi bukti bahwa orang Indonesia tak bisa terserang Covid-19.

Namun kenyataan tak seindah guyonan. Coronovirus yang dulu diyakini tak bisa masuk ke negara beriklim tropis, bermutasi hingga ia sanggup bertahan hidup.

Kasus pertama di Indonesia, muncul dari wilayah Depok. Seorang ibu berusia 64 tahun dan puterinya yang berusia 31 tahun dinyatakan positif Covid-19 setelah melalui pemeriksaan. Mereka diduga tertular setelah kontak langsung dengan seorang warga negara Jepang yang juga positif terjangkit Covid-19. Sejak saat itu, jumlah kasus baru meningkat signifikan.

Covid-19 benar-benar merubah Indonesia.

Masuknya Covid-19, merubah hampir semua lini kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Tingkat penyebaran yang masif menuntut cara pencegahan yang sesuai. Dimulai dari penerapan physical distancing, dengan membatasi kerumunan. Hal ini mengharuskan setiap orang untuk saling berjarak, guna menghindari kontak langsung.

Berjabat tangan menjadi hal yang harus dihindari untuk mencegah penyebaran. Masyarakat Indonesia yang terbiasa saling menyapa sambil berjabatan tangan, kini harus menghentikan kebiasaan tersebut sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

Tempat-tempat wisata ditutup sementara. Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) yang biasanya menjadi tempat hiburan murah meriah bagi masyarakat, tempat bertemunya penjual dan pembeli hingga terjadi perputaran ekonomi, juga tempat para generasi mudah berkumpul untuk unjuk bakat, ditiadakan.

Kegiatan belajar mengajar mulai tingkat awal hingga Perguruan Tinggi, yang biasanya dilaksanakan di sekolah dan kampus, kini terpaksa dilakukan di rumah. Semua tugas dan materi pembelajaran diberikan guru dan dosen secara online (daring), bahkan kegiatan penilaian hasil belajar/kuliah dan ujian pun dilakukan dengan cara yang sama.

Kegiatan bekerja tak jauh beda, perusahaan diminta melakukan work from home (WFH). Para pekerja diminta bekerja dari rumah dengan koordinasi secara online, dan berkomunikasi menggunakan berbagai aplikasi tele-conference yang banyak tersedia. Hal ini dilakukan juga untuk menghindari terjadinya pergerakan masyarakat, yang mempercepat penyebaran Covid-19.

Di samping itu, kegiatan beribadah juga diminta untuk dilakukan di rumah masing-masing saja. Peribadatan di gereja dan pelaksanaan Sholat Jum'at ditiadakan, perayaan-perayaan hari besar yang melibatkan kerumunan masa tidak diperbolehkan. Bahkan resepsi pernikahan diminta untuk tidak dilaksanakan, meski tidak melarang pernikahan di Kantor Urusan Agama.

Semua pembatasan fisik dan sosial ini berdampak sangat besar pada segala lini kehidupan, terutama perekonomian. Adanya pembatasan jam malam yang diberlakukan di sejumlah daerah zona merah penyebaran Covid-19, menyebabkan omzet para pedagang kecil hingga menengah, menurun drastis karena berkurangnya jumlah pembeli.

Selaras dengan hal itu, para pengendara ojek online pun mengalami penurunan pendapatan. Tak Hanya itu, para event organizer dan wedding organizer minim job. Semua sektor usaha terdampak dengan adanya Covid-19.

Masih banyak lagi dampak yang ditimbulkan oleh adanya Covid-19 di Indonesia, berharap semuanya berlalu dan kita bisa kembali berkehidupan seperti sediakala.

Ketika Seorang Ahjussi Akhirnya Menjadi Tokoh Utama

Sebuah thread tiba-tiba muncul di feed saya. Seseorang bertanya apakah ada yang sedang menonton drama Korea berjudul The Dream Life of Mr. K...