Sahabat,
Terkadang begitu banyak pilihan yang ditawarkan kepada kita
Terkadang kita bingung untuk memilih yang mana
Terkadang kita dihadapkan pada kondisi yang membuat kita melihat hanya dari luarnya saja tanpa sempat melihat lebih dalam
Karena banyak hal..
Emosi, rasa cinta yang membutakan, rasa tertantang atas keinginan untuk membuktikan sesuatu dan karena banyak hal lain yang memaksa kita berkeputusan dalam waktu singkat
Terkadang pula kita hanya diberikan satu pilihan dengan hanya dua kemungkinan
Memilih atau memilih untuk tidak memilih
Kedua kemungkinan tersebut membawa konsekuensinya sendiri-sendiri
Dan terkadang apa yang kita pilih bukanlah yang terbaik untuk kita
Yang pada akhirnya memunculkan rasa penyesalan
Rasa penyesalan yang membuat kita ingin memutar waktu dan kembali memperbaiki atau bahkan merubah segalanya
Tapi kau pasti yakin, Sahabat..
Bahwa ada hal-hal yang tak bisa kau ubah karena itu semua telah tertulis
Kau hanya bisa memperbaiki diri..
Ya.. Memperbaiki diri..
Saturday, 16 May 2015
Saya dan Cerita: Antara Kamu dan Sahabatku - Part I
#Gedung Kuning dan Cafe#
Sore itu Kila berjalan menuju tempat kursusnya. Jam dipergelangan tangannya menunjukan pukul 15.30, diayunnya langkah dengan penuh semangat.
Kila selalu seperti itu, penuh semangat berjalan dengan tas ransel krem berbahan seperti kanvas yang masih awet sejak jaman SMP dulu, bukannya Kila tidak punya tas lain hanya saja itu tas favoritnya.
Ada cerita dibalik tas itu, yang menjadi alasan kenapa Kila suka sekali. Tapi mungkin akan diceritakan kemudian hari. Okay.
Sebuah tempat nongkrong anak muda dengan dinding anyaman bambu berwarna coklat dan dekorasi cukup lumayan cantik sudah nampak dari seberang jalan tempat Kila berada yang berarti tempat kursus Kila sudah dekat.
Ya, tempat kursus Kila memang berdekatan dengan sebuah.. Ehm.. Mari kita sebut saja cafe.. Walaupun rasanya terlalu sederhana untuk disebut cafe.. Tapi untuk disebut warungpun terlalu cantik.. Aaah entahlah.. Mari kita sebut saja cafe..
Hampir setiap kali Kila melewati tempat ini pandangannya selalu terganggu dengan lalu lalang orang yang keluar masuk cafe, maklum Kila bukan tipe anak gaul yang hobi keluar masuk cafe, tapi Kila juga bukan gadis cupu.. Karena terganggu itulah dia lebih sering menundukkan kepalanya ketimbang menoleh untuk melihat kegiatan orang-orang itu..
Cafe ini bukan cafe yang ditutupi kaca dibagian depannya hanya setengah dinding bagian bawah ditutupi anyaman dan bagian atasnya terbuka. Jarak tempat yang menjadi dapurnyapun tak begitu jauh dari jalan raya.
Pernah suatu ketika Kila penasaran ingin melihat seperti apa sih sebetulnya isi cafe itu. Kila mencoba menoleh sambil terus berjalan dengan pandangan mengobservasi isi cafe dari luar namun tiba-tiba,
"Hai cewek..", dari arah dapur beberapa orang pegawai langsung memanggil. Kila yang tidak siap dengan itu semua buru-buru tancap gas menuju tempat kursusnya. Riuh masih terdengar dari arah dapur cafe tersebut.
Sejak saat itu langkahnya selalu dipercepat ketika melewati cafe walaupun kadang tidak tampak kerumunan pegawai di dapur, Kila hanya tidak nyaman.
Sampailah Kila di pagar kursusannya. Kursusan dengan cat dinding kuning dihiasi garis biru melintang disepanjang bangunan tepat sepertiga dari tinggi tembok.
Jarum jam mengarah ke angka 9, kurang 15 menit lagi untuk sampai waktu belajar. Kila memanfaatkannya untuk membuka kembali bukunya. Jam segini masih belum banyak anak yang datang ke tempat kursus.
"Kilaaa..", tiba-tiba suara khas yang dikenalnya menyeruak menghancurkan kesunyian.
"Hai, Cha.. Kok tumben udah dateng?", Icha adalah teman sekelas Kila di tempat kursus.
"Iya dooonk.. Ichaaa gitu lho..", Icha menepuk pundaknya, "Murid telatan.. Eeeeh.. Teladan..", Kila menunjukan tatapan bertanya-tanya sebab tidak biasanya Icha datang tepat waktu. Kila melirik kearah jam ditangannya.
"Kalo aku itung ini baru kedua kalinya kamu dateng gak telat.. Dulu yang pertama sih karena ada maunya.. Yang sekarang kenapa?"
"Iiiih Kila, emang harus selalu ada alasan ya?"
"Enggak juga sih.. Ya bagus aja kamu datang gak telat.. Kalo tiap ada kelas selalu kayak gini bagus tuuh..", Icha hanya tersenyum sambil menjulurkan lidahnya. "Ya udah sini..", Kila menunjuk bangku kosong disebelahnya.
Setelah sekitar 10 menit mereka berbincang bel tanda masuk berbunyi.
Tidak berapa lama seorang wanita muda berperawakan sedang memasuki ruangan. Rambutnya yang panjang dikuncir ekor kuda.
"Good afternoon, Class..", sapa wanita itu dengan manis.
"Good afternoon, Miss Mila", jawab seisi kelas yang tidak kalah manisnya.
Pelajaranpun dimulai. Masih terlihat beberapa bangku kosong yang sebenarnya berpenghuni, mungkin mereka sedikit terlambat.
Tok.. Tok.. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu
"Come in..", Miss Mila mempersilahkan orang tersebut masuk. Seraut wajah mulai muncul dari balik pintu.
"Thank you, Miss..", jawab pemuda tersebut. Dengan santai dia berjalan menuju bangkunya. Ya, disalah satu bangku kosong tadi.
"What reason can you give me this time?", miss Milla bertanya pada pemuda itu.
"Ehm.. Ya.. As usual, Miss.. Trafic jam..", dengan santai sambil menata rambutnya yang sedikit berantakan.
Mendengar jawaban pemuda itu miss Mila hanya mengernyitkan dahi sambil mengangkat alisnya lalu melihat kesekeliling kelas seolah bertanya, 'percaya gak kalian?'
Seolah tau pandangan mencurigakan dari tutornya itu dia berkata,
"Eh, seriusan, Miss.. Macet banget deket cafe depan s-", belum selesai pemuda itu menjelaskan terdengar suara berbisik Kila mengingatkan,
"In English..", sejurus kemudian miss Mila mengatakan hal yang sama.
"Speak in English, please.."
"Told you, Nest", seru Kila lagi. Pemuda itu hanya nyengir kuda kepada Kila dan menjawab,
"Okay, Miss.. Really.. There is traffic jam near the cafe.."
Pemuda ini bernama Ernest, penampilannya santai dengan celana jeans dan kaos, serta tas selempang laki-laki berwarna hitam dan sneakers hitam putih.
"Okay, let's just stop this case and continue studying.."
"Siip, Miss..", jawab pemuda itu diikuti kernyitan dahi dari miss Milla, "Ooh.. Sorry.. Okay, Miss.."
Tak berselang lama, sekitar 15 menit kemudian di pintu kembali terdengar ketukan.
"Can I come in, Miss Mila?", terdengar suara pemuda dari luar ruangan.
"Yes, come in.."
Wajah nya muncul dari balik pintu, dengan nafas sedikit terengah-engah.
"Miss Mila, I'm so sorry I'm late..", ucap pemuda itu sambil berusaha mengatur nafasnya.
"Hmm.. Okay, have a sit, Fed..", namanya Fedy, penampilannya selalu rapih dengan tas punggung biru dan sepatu sneakers yang berwarna senada dengan tasnya.
"Thanks, Miss", Fedy langsung menuju kursi yang biasa ia duduki.
"You don't want to ask him the reason, Miss?", tanya Ernest.
"Same reason you gave me I think..", jawab miss Mila sambil tersenyum.
Seluruh penjuru kelas tertawa. Ernest hanya tersenyum.
***
Sore itu Kila berjalan menuju tempat kursusnya. Jam dipergelangan tangannya menunjukan pukul 15.30, diayunnya langkah dengan penuh semangat.
Kila selalu seperti itu, penuh semangat berjalan dengan tas ransel krem berbahan seperti kanvas yang masih awet sejak jaman SMP dulu, bukannya Kila tidak punya tas lain hanya saja itu tas favoritnya.
Ada cerita dibalik tas itu, yang menjadi alasan kenapa Kila suka sekali. Tapi mungkin akan diceritakan kemudian hari. Okay.
Sebuah tempat nongkrong anak muda dengan dinding anyaman bambu berwarna coklat dan dekorasi cukup lumayan cantik sudah nampak dari seberang jalan tempat Kila berada yang berarti tempat kursus Kila sudah dekat.
Ya, tempat kursus Kila memang berdekatan dengan sebuah.. Ehm.. Mari kita sebut saja cafe.. Walaupun rasanya terlalu sederhana untuk disebut cafe.. Tapi untuk disebut warungpun terlalu cantik.. Aaah entahlah.. Mari kita sebut saja cafe..
Hampir setiap kali Kila melewati tempat ini pandangannya selalu terganggu dengan lalu lalang orang yang keluar masuk cafe, maklum Kila bukan tipe anak gaul yang hobi keluar masuk cafe, tapi Kila juga bukan gadis cupu.. Karena terganggu itulah dia lebih sering menundukkan kepalanya ketimbang menoleh untuk melihat kegiatan orang-orang itu..
Cafe ini bukan cafe yang ditutupi kaca dibagian depannya hanya setengah dinding bagian bawah ditutupi anyaman dan bagian atasnya terbuka. Jarak tempat yang menjadi dapurnyapun tak begitu jauh dari jalan raya.
Pernah suatu ketika Kila penasaran ingin melihat seperti apa sih sebetulnya isi cafe itu. Kila mencoba menoleh sambil terus berjalan dengan pandangan mengobservasi isi cafe dari luar namun tiba-tiba,
"Hai cewek..", dari arah dapur beberapa orang pegawai langsung memanggil. Kila yang tidak siap dengan itu semua buru-buru tancap gas menuju tempat kursusnya. Riuh masih terdengar dari arah dapur cafe tersebut.
Sejak saat itu langkahnya selalu dipercepat ketika melewati cafe walaupun kadang tidak tampak kerumunan pegawai di dapur, Kila hanya tidak nyaman.
Sampailah Kila di pagar kursusannya. Kursusan dengan cat dinding kuning dihiasi garis biru melintang disepanjang bangunan tepat sepertiga dari tinggi tembok.
Jarum jam mengarah ke angka 9, kurang 15 menit lagi untuk sampai waktu belajar. Kila memanfaatkannya untuk membuka kembali bukunya. Jam segini masih belum banyak anak yang datang ke tempat kursus.
"Kilaaa..", tiba-tiba suara khas yang dikenalnya menyeruak menghancurkan kesunyian.
"Hai, Cha.. Kok tumben udah dateng?", Icha adalah teman sekelas Kila di tempat kursus.
"Iya dooonk.. Ichaaa gitu lho..", Icha menepuk pundaknya, "Murid telatan.. Eeeeh.. Teladan..", Kila menunjukan tatapan bertanya-tanya sebab tidak biasanya Icha datang tepat waktu. Kila melirik kearah jam ditangannya.
"Kalo aku itung ini baru kedua kalinya kamu dateng gak telat.. Dulu yang pertama sih karena ada maunya.. Yang sekarang kenapa?"
"Iiiih Kila, emang harus selalu ada alasan ya?"
"Enggak juga sih.. Ya bagus aja kamu datang gak telat.. Kalo tiap ada kelas selalu kayak gini bagus tuuh..", Icha hanya tersenyum sambil menjulurkan lidahnya. "Ya udah sini..", Kila menunjuk bangku kosong disebelahnya.
Setelah sekitar 10 menit mereka berbincang bel tanda masuk berbunyi.
Tidak berapa lama seorang wanita muda berperawakan sedang memasuki ruangan. Rambutnya yang panjang dikuncir ekor kuda.
"Good afternoon, Class..", sapa wanita itu dengan manis.
"Good afternoon, Miss Mila", jawab seisi kelas yang tidak kalah manisnya.
Pelajaranpun dimulai. Masih terlihat beberapa bangku kosong yang sebenarnya berpenghuni, mungkin mereka sedikit terlambat.
Tok.. Tok.. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu
"Come in..", Miss Mila mempersilahkan orang tersebut masuk. Seraut wajah mulai muncul dari balik pintu.
"Thank you, Miss..", jawab pemuda tersebut. Dengan santai dia berjalan menuju bangkunya. Ya, disalah satu bangku kosong tadi.
"What reason can you give me this time?", miss Milla bertanya pada pemuda itu.
"Ehm.. Ya.. As usual, Miss.. Trafic jam..", dengan santai sambil menata rambutnya yang sedikit berantakan.
Mendengar jawaban pemuda itu miss Mila hanya mengernyitkan dahi sambil mengangkat alisnya lalu melihat kesekeliling kelas seolah bertanya, 'percaya gak kalian?'
Seolah tau pandangan mencurigakan dari tutornya itu dia berkata,
"Eh, seriusan, Miss.. Macet banget deket cafe depan s-", belum selesai pemuda itu menjelaskan terdengar suara berbisik Kila mengingatkan,
"In English..", sejurus kemudian miss Mila mengatakan hal yang sama.
"Speak in English, please.."
"Told you, Nest", seru Kila lagi. Pemuda itu hanya nyengir kuda kepada Kila dan menjawab,
"Okay, Miss.. Really.. There is traffic jam near the cafe.."
Pemuda ini bernama Ernest, penampilannya santai dengan celana jeans dan kaos, serta tas selempang laki-laki berwarna hitam dan sneakers hitam putih.
"Okay, let's just stop this case and continue studying.."
"Siip, Miss..", jawab pemuda itu diikuti kernyitan dahi dari miss Milla, "Ooh.. Sorry.. Okay, Miss.."
Tak berselang lama, sekitar 15 menit kemudian di pintu kembali terdengar ketukan.
"Can I come in, Miss Mila?", terdengar suara pemuda dari luar ruangan.
"Yes, come in.."
Wajah nya muncul dari balik pintu, dengan nafas sedikit terengah-engah.
"Miss Mila, I'm so sorry I'm late..", ucap pemuda itu sambil berusaha mengatur nafasnya.
"Hmm.. Okay, have a sit, Fed..", namanya Fedy, penampilannya selalu rapih dengan tas punggung biru dan sepatu sneakers yang berwarna senada dengan tasnya.
"Thanks, Miss", Fedy langsung menuju kursi yang biasa ia duduki.
"You don't want to ask him the reason, Miss?", tanya Ernest.
"Same reason you gave me I think..", jawab miss Mila sambil tersenyum.
Seluruh penjuru kelas tertawa. Ernest hanya tersenyum.
***
Wednesday, 13 May 2015
Mr. & Mrs. Bahagia: There are Butterflies in My Stomach - I'm in Love Again
Dear all friend,
Saya gak tau kenapa beberapa minggu ini perut saya seperti ada kupu-kupunya.. Rasanya seperti.. Ya.. Taulah kalau orang lagi jatuh cinta, galau, bingung.. Ya seperti itu..
"Jatuh cinta? Lagi?"
Tunggu tunggu.. Ini gak seperti yang kalian bayangkan.. Well it's like every time I see him I can really bring the feeling like the first time I met him..
"Tuuuh kaaan.. Jatuh cinta lagi.."
Well ya.. Saya jatuh cinta lagi.. Sama orang yang sama.. Yang selalu bersama saya hampir 3 tahun ini..
"Uuuulalaaa.."
Beneran, serius.. Rasanya tuh gimana gitu.. Bahkan this one is stronger than the first first time I met him..
I am so really in love with him.. I really really in love with my husband.. I love him sooo much..
Saya bilang 'sayang' setiap saat.. Sampai kadang takut dia bosan..
"Of course he will not"
Yeah, I know that.. 😄
Eeeh.. Saya ada buat words tentang dia.. But no no, I will not show them to him.. Let me just show him action which shows how in love I am with him..
LOVE LEQUE(1) SOOOO MUUUUUCH
(1) LeQue: Special name I gave him
Saya gak tau kenapa beberapa minggu ini perut saya seperti ada kupu-kupunya.. Rasanya seperti.. Ya.. Taulah kalau orang lagi jatuh cinta, galau, bingung.. Ya seperti itu..
"Jatuh cinta? Lagi?"
Tunggu tunggu.. Ini gak seperti yang kalian bayangkan.. Well it's like every time I see him I can really bring the feeling like the first time I met him..
"Tuuuh kaaan.. Jatuh cinta lagi.."
Well ya.. Saya jatuh cinta lagi.. Sama orang yang sama.. Yang selalu bersama saya hampir 3 tahun ini..
"Uuuulalaaa.."
Beneran, serius.. Rasanya tuh gimana gitu.. Bahkan this one is stronger than the first first time I met him..
I am so really in love with him.. I really really in love with my husband.. I love him sooo much..
Saya bilang 'sayang' setiap saat.. Sampai kadang takut dia bosan..
"Of course he will not"
Yeah, I know that.. 😄
Eeeh.. Saya ada buat words tentang dia.. But no no, I will not show them to him.. Let me just show him action which shows how in love I am with him..
LOVE LEQUE(1) SOOOO MUUUUUCH
(1) LeQue: Special name I gave him
Saturday, 11 April 2015
Saya dan Puisi: Everything has Changed / Semua telah Berubah
This little girl asked me to take thing on the high shelf she cannot reach
I found out next that she was pointing at a picture frame
There are pictures of kids and me
I can see there were lots of love
Yeah, they are my friends and I am their friends
We have shared a lot of things in the pass
We have shared tears and laughter
We went to anywhere we want
We've through ups and downs
Eating street foods
Drinking street drinks
If I had extra money we bought some special ones
All those things
Small things with big and pure heart
We enjoyed that, we loved that
I wish you could see how happy we were
But it has gone now
I thought that a big and pure heart was enough to keep the bond between us
I was just too naive I know
Yeah nowadays big and pure heart is not needed compare to materials
The wild world has contaminated them
They've been affected, herded and carried to the adult world that they should not see
Adult world that filled with politics and intrigue
A world that filled with conflict of interest
Filled with hatred, envy and spite
They shouldn't be involved, shouldn't be affected, shouldn't be fed with those things
Children should be pure and clean
They should be..
Everything had changed..
Gadis kecil ini memintaku mengambilkan sesuatu dari rak tinggi yang tak bisa diraihnya
Aku kemudian mengerti bahwa dia menunjuk ke sebuah bingkai foto
Ada beberapa gambar 'anak-anak kecil' bersamaku
Aku bisa melihat begitu banyak cinta saat itu
Ya.. Mereka temanku dan aku teman mereka
Kami berbagi banyak hal dimasa lalu
Kami berbagi air mata dan kebahagiaan
Kami pergi kemanapun yang kami inginkan
Makan makanan sederhana
Minum minuman sederhana
Bila aku punya uang lebih kami beli makanan spesial
Hal-hal semacam itu
Hal-hal kecil dengan hati yang besar dan suci
Kami menikmatinya, kami menyukainya
Seandainya kalian tahu betapa bahagianya kami saat itu
Tapi sekarang semua hilang
Kukira hati yang besar dan suci saja cukup untuk terus dapat mempertahankan hubungan ini
Aku tahu aku terlalu naif
Sekarang ini hati yang besar dan suci saja tak cukup dibanding materi
Dunia yang kejam mempengaruhi mereka
Mereka dipengaruhi, digiring dan dibawa ke dunia orang dewasa yang seharusnya belum mereka lihat
Dunia orang dewasa yg penuh politik dan intrik
Penuh penunggangan kepentingan
Penuh dengan kebencian serta iri dan dengki
Seharusnya mereka tak dilibatkan, tak dipengaruhi, tak dicekoki hal-hal semacam itu
Seharusnya mereka murni dan bersih
Seharusnya..
Semua telah berubah..
I found out next that she was pointing at a picture frame
There are pictures of kids and me
I can see there were lots of love
Yeah, they are my friends and I am their friends
We have shared a lot of things in the pass
We have shared tears and laughter
We went to anywhere we want
We've through ups and downs
Eating street foods
Drinking street drinks
If I had extra money we bought some special ones
All those things
Small things with big and pure heart
We enjoyed that, we loved that
I wish you could see how happy we were
But it has gone now
I thought that a big and pure heart was enough to keep the bond between us
I was just too naive I know
Yeah nowadays big and pure heart is not needed compare to materials
The wild world has contaminated them
They've been affected, herded and carried to the adult world that they should not see
Adult world that filled with politics and intrigue
A world that filled with conflict of interest
Filled with hatred, envy and spite
They shouldn't be involved, shouldn't be affected, shouldn't be fed with those things
Children should be pure and clean
They should be..
Everything had changed..
Gadis kecil ini memintaku mengambilkan sesuatu dari rak tinggi yang tak bisa diraihnya
Aku kemudian mengerti bahwa dia menunjuk ke sebuah bingkai foto
Ada beberapa gambar 'anak-anak kecil' bersamaku
Aku bisa melihat begitu banyak cinta saat itu
Ya.. Mereka temanku dan aku teman mereka
Kami berbagi banyak hal dimasa lalu
Kami berbagi air mata dan kebahagiaan
Kami pergi kemanapun yang kami inginkan
Makan makanan sederhana
Minum minuman sederhana
Bila aku punya uang lebih kami beli makanan spesial
Hal-hal semacam itu
Hal-hal kecil dengan hati yang besar dan suci
Kami menikmatinya, kami menyukainya
Seandainya kalian tahu betapa bahagianya kami saat itu
Tapi sekarang semua hilang
Kukira hati yang besar dan suci saja cukup untuk terus dapat mempertahankan hubungan ini
Aku tahu aku terlalu naif
Sekarang ini hati yang besar dan suci saja tak cukup dibanding materi
Dunia yang kejam mempengaruhi mereka
Mereka dipengaruhi, digiring dan dibawa ke dunia orang dewasa yang seharusnya belum mereka lihat
Dunia orang dewasa yg penuh politik dan intrik
Penuh penunggangan kepentingan
Penuh dengan kebencian serta iri dan dengki
Seharusnya mereka tak dilibatkan, tak dipengaruhi, tak dicekoki hal-hal semacam itu
Seharusnya mereka murni dan bersih
Seharusnya..
Semua telah berubah..
Saturday, 28 February 2015
Saya dan Puisi: Maha Membolak-balikkan Hati
Tuhan
Hatiku bergejolak, merintih, menangis
Rasanya sembilu
Seperti ada sebuah pisau tajam yang mengiris-iris
Seperti ada sebuah silet tajam yang menyayat-nyayat menggores luka
Seperti ada sebuah paku tajam yang sengaja ditusuk-tusukkan tepat di hati ini
Tuhan aku merasa tak salah dalam perkara ini
Tapi semua seakan menyudutkanku
Iya aku tak punya banyak uang disaku celanaku
Hanya beberapa receh yang tersisa
Iya aku tak punya kedudukan tinggi yang bisa saja membuatku tak dipandang sebelah mata oleh semua
Tapi Tuhan
Aku punya hati
Hati yang juga sakit jika dibedakan dengan yang lain
Hati yang juga bisa remuk jika dibanting
Hati yang juga bisa hancur jika diremas
Tuhan
Bantu aku redakan rasa teriris, tersayat dan tertusuk di hati ini
Semoga kelak semua bisa mengerti dan memahami keadaan yang sebenarnya ketika Engkau buka segalanya
Engkau yang Maha Membolak-balikan Hati hambaMu
Maka biarkan aku tetap berada di jalan lurus ini
Hatiku bergejolak, merintih, menangis
Rasanya sembilu
Seperti ada sebuah pisau tajam yang mengiris-iris
Seperti ada sebuah silet tajam yang menyayat-nyayat menggores luka
Seperti ada sebuah paku tajam yang sengaja ditusuk-tusukkan tepat di hati ini
Tuhan aku merasa tak salah dalam perkara ini
Tapi semua seakan menyudutkanku
Iya aku tak punya banyak uang disaku celanaku
Hanya beberapa receh yang tersisa
Iya aku tak punya kedudukan tinggi yang bisa saja membuatku tak dipandang sebelah mata oleh semua
Tapi Tuhan
Aku punya hati
Hati yang juga sakit jika dibedakan dengan yang lain
Hati yang juga bisa remuk jika dibanting
Hati yang juga bisa hancur jika diremas
Tuhan
Bantu aku redakan rasa teriris, tersayat dan tertusuk di hati ini
Semoga kelak semua bisa mengerti dan memahami keadaan yang sebenarnya ketika Engkau buka segalanya
Engkau yang Maha Membolak-balikan Hati hambaMu
Maka biarkan aku tetap berada di jalan lurus ini
Subscribe to:
Posts (Atom)
Ketika Seorang Ahjussi Akhirnya Menjadi Tokoh Utama
Sebuah thread tiba-tiba muncul di feed saya. Seseorang bertanya apakah ada yang sedang menonton drama Korea berjudul The Dream Life of Mr. K...
-
Dari hutan bambu yang sunyi menjelma menjadi ekowisata yang tak hanya menjaga alam, tapi juga menghidupi warga dan mengangkat harkat desa. S...
-
Lelah Menahan Diri? Yuk, Kenali Akar Emosionalnya Lewat Refleksi Harian Pernah nggak sih kamu pengin beli sesuatu—baju, buku, atau makanan f...