Monday, 27 April 2020

6 Perubahan Saat Covid-19 Berakhir | Our Life Journey

Covid-19 atau Corona Virus Deases 2019 yang disebabkan oleh virus Corona, berawal di Wuhan, Cina. Virus ini diduga berasal dari hewan, kelelawar, yang dikonsumsi oleh manusia kemudian berpindah ke tubuh manusia tersebut. Virus ini kemudian menyebar dengan cepat antar manusia mulai Desember 2019.


Sempat beredar spekulasi bahwa virus ini adalah buatan manusia. Namun, menurut hasil penelitian virus Corona di Ohio State University, yang dipimpin oleh Shan-Lu Liu, virus ini bukan buatan manusia.

Cina menjadi negara pertama penyebaran virus ini, kemudian dengan cepat menyebar ke belahan dunia lainnya, seperti Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Jerman, Iran, Inggris, Swiss, Belanda, dan sejumlah negara lainnya, termasuk Indonesia.

Di Indonesia total angka positif Covid-19 hingga Sabtu, 25 April 2020, sebanyak 8.607 jiwa. Menurut perkiraan para ahli dari UNS, ITB, UGM, UI, juga BIN, Covid-19 di Indonesia akan mencapai puncaknya pada pertengahan bulan Mei 2020, dan selesai pada akhir bulan Mei atau awal Juni 2020.

Merebaknya penyakit karena virus Corona ini membuat manusia semakin berjarak, hal ini menyebabkan interaksi yang dilakukan pun tidak seperti biasanya. Seruan social distancing, #dirumahaja, WFH (Work From Home), juga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) guna memperlambat bahkan memitus rantai penyebaran Covid-19, membuat teknologi berperan amat penting, membantu kita untuk tetap saling terhubung meski tak bertatap muka, bahkan bagi anak-anak sekolah dan para mahasiswa.

Banyak hal yang akan berubah saat Covid-19 berakhir, berikut 6 diantaranya:

Bidang teknologi

Dengan adanya penyebaran Covid-19, semua masyarakat dituntut untuk menggunakan teknologi dalam segala bidang kehidupannya. Penggunaan teknologi internet yang semakin besar akan memicu perkembangan infrastruktur digital, karena adanya kebutuhan akan jaringan berkecepatan tinggi, teknologi penyimpanan data di cloud, data center atau big data, managemen keamanan dan infrastruktur broadband. Maka, infrastruktur digital akan berkembang pesat.

Bidang Sosial Masyarakat

Wabah yang menyerang ini menyadarkan masyarakat tentang harus adanya pembatasan diri dengan orang lain, akan tetapi keprihatinan ini memunculkan kesadaran sosial saling membantu dan bergotong-royong keluar dari permasalahan yang terjadi. Hal ini memupuk kesadaran akan kesetiakawanan sosial.

Bidang Kesehatan

Dimulai dengan konsultasi dokter yang tak perlu tatap muka, saling terhubung tanpa bertemu. Konsultasi virtual akan berkembang pesat. Disamping itu deteksi kesehatan secara virtual pun akan berkembang. Hal ini juga akan terhubung dengan pusat data yang bisa memprediksi statistik kesehatan, meski kejujuran masyarakat saat memasukkan data diperlukan. Kecerdasan buatan juga akan semakin banyak digunakan untuk mengembangkan obat-obatan.

Bidang Ekonomi

Anjuran #dirumahaja membuat kegiatan ekonomi konvensional sangat terhambat, semua beralih pada penjualan melalui marketplace. Dengan begitu, banyak bermunculan toko-toko online dan pembayaran secara virtual pun berkembang dengan pesat.

Bidang Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, terutama secara informal, Covid-19 merubah tipe pembelajaran dalam kelas, menjadi sistem pembelajaran dalam jaringan (online). Akan semakin banyak bermunculan  pembelajaran-pembelajaran online, pun seminar-seminar online

Bidang Olahraga

Banyaknya perhelatan olahraga yang tertunda, membuat bermunculan kegiatan-kegiatan permainan kompetisi olah raga melalui media elektronik yang biasa disebut e-sports. Setelah Covid-19 berlalu, akan banyak lagi bermunculan e-sports.

Demikian tadi perubahan-perubahan besar yang signifikan, yang mungkin terjadi setelah Covid-19 berlalu. Perkembangan apapun yang akan terjadi, semoga adalah perkembangan ke arah yang lebih baik, pun semoga wabah ini cepat berlalu.

Saturday, 25 April 2020

Serba-serbi Melejitnya Harga Masker | Our Life Journey

Meningkatnya angka penyebaran Covid-19 membuat harga masker melonjak tinggi, jauh dari harga sebelum adanya Covid-19. Harga tertinggi masker sensi biasa, bisa mencapai 450.000 - 500.000 perkotak, berisi 50 masker. Sangat jauh di atas harga normalnya yang hanya 20.000 sampai 30.000 perkotak.

Harga masker meningkat sangat tajam karena bayaknya permintaan yang berbanding terbalik dengan ketersediaan barang. Panic buying dari para warga masyarakat juga dimanfaatkan oleh para penimbun masker untuk menyebabkan kelangkaan di pasaran, hingga mereka bisa mengeluarkan dengan harga tinggi.
Memanfaatkan Kepanikan
Serangan panik menghantam masyarakat, alasan psikologis menjadi dasar melakukannya. Melihat orang di sekitar membeli bahan-bahan pokok dalam jumlah besar, membuat yang lain panik, takut tak bisa memenuhi kebutuhan hariannya karena kelangkaan, hingga mereka ikut-ikutan. Sama halnya dengan masker yang merupakan kebutuhan utama dalam masa pandemi Covid-19 ini.

Dengan ketidakpastian sampai kapan pandemi ini akan berakhir, menimbun segala kebutuhan pokok menjadi alasan merasa lega dan tenang bagi mereka yang diserang kepanikan. Meski dengan alasan apapun panic buying tidak dibenarkan.
Kepanikan inilah yang dimanfaatkan mereka yang suka mengambil keuntungan ditengah kesulitan yang terjadi untuk menimbun masker. Masker ditimbun untuk kemudian dipasarkan sedikit demi sedikit dengan menaikkan harga hingga puluhan kali lipat harga normal. Meski begitu, tetap ada saja yang membeli karena kebutuhan.
Penimbun Masker Tertangkap
Di beberapa wilayah, telah ditemukan kasus penimbunan masker dan handsanitizer. Di Tanjung Duren, Jakarta Barat, polisi menemukan penimbunan 358 box masker di sebuah apartemen. Di Tangerang, polisi menemukan sebuah gudang yang menimbun 180 karton berisi 360.000 masker merk Remidi. Sedangkan di Makasar, polisi berhasil menggagalkan pengiriman 200 boks masker ke Selandia Baru.

Selain tiga kasus  di atas, masih ada beberapa kasus lain di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Semarang, Banten, Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, juga di beberapa kota di Timur.
Modus Membantu Sesama
Di samping modus penimbunan seperti kasus di atas, ada pula kasus penimbunan dengan modus membantu sesama. Kasus ini terungkap di sosial media. Mengaku membutuhkan masker dengan harga maksimal 100 ribu untuk dibagikan secara gratis, ternyata orang tersebut menjual kembali masker-masker itu dengan harga berkali lipat.

Hukuman Bagi Penimbun Masker
Berdasarkan Pasal 29 ayat 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, para pelaku usaha yang menimbun bahan kebutuhan pokok atau barang penting lainnya yang menyebabkan kelangkaan dikenakan hukuman paling lama 5 tahun penjara atau denda maksimal 50 milyar.
Masker Medis Hanya untuk Tenaga Kesehatan
Menghindari penggunaan berlebihan masker medis di masyarakat, yang bisa menimbulkan kelangkaan masker tersebut bagi tenaga kesehatan yang lebih membutuhkan, maka dianjurkan bagi masyarakat untuk tidak menggunakan masker medis. Jadi masker medis hanya untuk tenaga kesehatan.
Bagaimana dengan masyarakat? Masker kain adalah alternatif Masker yang dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari masyarakat dalam berkegiatan.

Social Distancing Hingga PSBB | Our Life Journey

Dari hari ke hari, penyebaran Covid-19 semakin meluas. Angka positif tercatat hari ini, tanggal 24 April 2020, mencapai 8.211 kasus. Jumlah ini mengalami peningkatan 436 kasus dari kemarin.

Langkah awal yang dianjurkan pemerintah kepada masyarakat adalah penerapan social distancing. Hal ini sudah dilakukan sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia. Masyarakat diminta tidak berkerumun dan melakukan kegiatan yang justru bisa meningkatkan penyebaran Covid-19.

Apa itu Social Distancing?

Sebelum membahas lebih jauh tentang social distancing, ada baiknya kita membahas secara sederhana saja apa itu social distancing. Social distancing berarti pembatasan sosial dimana gerak kita secara sosial dibatasi. Ada yang berpendapat bahwa social distancing adalah istilah yang tak tepat, yang sebenarnya dimaksud dengan social distancing disini adalah physical distancing. Pembatasan fisik, Jadi, secara fisik saja kita berjauhan tapi interaksi sosial seperti berkomunikasi lewat jaringan tetap bisa berlangsung. Well, bisa jadi itu hanya perbedaan faktor istilah ... menurut kalian?

Sejak kapan dilaksanakan social distancing?

Secara nasional social distancing sudah terus dikampanyekan sejak kasus positif Covid-19 pertama masuk ke Indonesia tepatnya di Depok, yang diumumkan Presiden pada bulan Maret. Masyarakat mulai diminta menghindari kerumunan dan dilarang berkegiatan yang melibatkan banyak orang.

Langkah pertama yang diambil adalah meliburkan anak sekolah. Di kota tempat saya tinggal tingkat PAUD sampai SMP resmi belajar di rumah mulai 16 Maret 2020, kemudian SMA Dan SMK menyusul setelah muncul keputusan Gubernur di tanggal yang sama. Praktis semua kegiatan yang berhubungan dengan sekolah berhenti, termasuk saya yang bekerja di kantin sekolah.

Semua kegiatan yang mengumpulkan banyak orang seperti Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD), konser-konser musik dan sejenisnya, pengajian, PKK, Dasawisma, termasuk resepsi pernikahan dan kegiatan ibadah ditiadakan.

Kenapa Harus Ada Social Distancing?

Virus Corona yang menyebabkan Covid-19 merupakan virus yang bergerak dan menyebar dengan cepat dari satu individu ke individu yang lain, hanya dengan percikan liur dari seorang penderita Covid-19, yang menempel dan terbawa oleh apapun yang melekat di tubuh kita terutama tangan, bisa masuk ke dalam tubuh kita sendiri, juga menyebar ke orang lain di sekitar kita. 

Oleh karena itu social distancing diperlukan untuk menghindari penyebaran yang masif. Kita tak pernah tahu siapa yang sudah terpapar Coronavirus dan siapa yang tidak, maka menjaga jarak sangat diperlukan.

Efek signifikan social distancing?

Sosial distancing memberikan efek yang signifikan untuk memutus mata rantai persebaran Covid-19. Dengan menjaga jarak satu sama lain, maka potensi penularan dapat diminimalisir, sehingga angka pernyebaran secara cepat, bisa ditekan.

Efektifkah?

Social distancing dirasa efektif menekan laju angka penyebaran. Dengan begitu, Rumah Sakit dan tenaga medis tidak akan kewalahan mengatasi jumlah pasien yang membludak karena cepatnya penyebaran. Namun, hal ini hanya akan dirasakan efektifitasnya, jika masyarat mematuhi anjuran social distancing ini.

Tahap selanjutnya jika social distancing tak menimbulkan efek signifikan?

Saat social distancing ini dirasa tidak berpengaruh signifikan, maka langkah lain yang perlu di ambil adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tidak seperti karantina, dimana semua kegiatan berhenti total, PSBB membatasi sebanyak mungkin kegiatan mobilisasi manusia tetapi tidak seluruhnya.

PSBB hanya dilakukan di suatu wilayah yang dimaksudkan untuk mencegah perpindahan orang di suatu wilayah yang jumlah kasus positif Covid-19 sangat mengkhawatirkan, seperti tingkat kematian yang tinggi. Hal ini akan dilakukan dalam masa inkubasi terpanjang dari Coronavirus yaitu 14 hari. Jika dalam waktu 2 minggu tersebut tidak ada penurunan angka yang signifikan, maka PSBB diperpanjang selama 14 hari lagi, begitu hingga kasus terakhir ditemukan.

Friday, 24 April 2020

Panik ... Panik ... Saya Panik | Our Life Journey

Assalamu'alaikum ....

Sejujurnya saya panik, tapi nggak panik-panik amat, but still ... panic .... Aaah ... entahlah .... Setelah Senin dini hari dapat kabar bahwa tetangga lama yang sudah seperti saudara, meninggal karena Covid-19 >> [Saya ralat info ini karena sampai sekarang belum terkonfirmasi bahwa beliau positif Covid-19], kemarin dapat berita ada orang meninggal di sekitar rumah yang masih satu RW. Bisa kebayang gimana dekatnya lokasi itu dan gimana paniknya. Baiknya saya ceritakan satu-persatu agar tidak bias. Inhale ... exhale ....

Senin dini hari sekitar pukul 02.00 saya dapat telepon dari Ibu. Sambil berurai air mata beliau mengatakan bahwa tetangga kami --sahabat Ibu saya-- di Kota Sidoarjo, tutup usia.

Keluarga kami saling bertetangga lama di sana, sekitar enam tahun. Sampai sekitar akhir Maret atau awal April kemarin beliau masih berkomunikasi dengan Ibu via telepon. Beliau sering berkunjung ke Malang, pun sebaliknya dengan kami. Bisa kalian bayangkan sedekat apa keluarga kami.

Kembali ke Senin dini hari. Saya yang baru saja bangun dari tidur lelap, kaget bukan main mendengar berita itu. Ketika Ibu mengajak berangkat ke Sidoarjo saat itu juga, saya masih bingung, jantung saya berdegup cukup kencang kala itu. Sampai akhirnya Ibu meminta saya ikut saja dan spontan saya mengiyakan.

Berusaha mengatur napas, akhirnya saya memilih sholat. Sehabis sholat dan bersiap-siap, saya kembali mendapat telepon dari Ibu. Beliau mengatakan bahwa anak sahabat Ibu, meminta Ibu untuk tidak takziah ke Sidoarjo karena ada karantina wilayah. Merasa tak enak jika tidak melayat, Ibu menelepon kawannya yang lain, yang biasanya bersama-sama ke Malang dengan sahabat Ibu tersebut.

Dari kawannya inilah, Ibu mendapat kabar bahwa sahabatnya itu positif Covid-19. Sudah tiga hari sebelumnya hasil tes itu keluar >>[Sesuai protap RS beliau harus dimakamkan serupa pasien Covid-19, meski belum terkonfirmasi bahwa beliau positif Covid-19]. Jujur saja hancur hari saya saat itu, membayangkan prosesi pemakaman tanpa anak, suami, sanak saudara yang melepas kepergian beliau. Padahal kawannya sangat banyak dan beliau orang yang baik.

Kepala saya sudah mulai pening saat itu, hingga hanya bisa berucap, "Ya, Allah ...," tiap Kali teringat sahabat Ibu itu. Lalu Rabu pagi, saat masih gelap, ada informasi kematian dari masjid terdekat. Saya pikir ini keadaan biasa, karena memang yang meninggal sudah tua. Namun siangnya, tiba-tiba ada penyemprotan disinfektan di sekitar kampung.

Ternyata siangnya beredar informasi bahwa beliau meninggal karena Coronavirus. Jasadnya langsung di bawa dari Rumah Sakit ke pemakaman. Beredar juga foto-foto pemakaman yang dilakukan petugas dengan APD.

Kepala saya benar-benar pening, jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Tukang sayur yang biasanya jadi langganan saya, mangkalnya di depan gang tempat tinggal orang tersebut. Orang tersebut juga sempat ke pasar, mengirimkan jajanan yang ia buat untuk dijual. Ah, makin panik diri ini.

Pasar adalah tempat yang harus kami kunjungi untuk berbelanja, kalau ndak ke pasar terus mau masak apa? Itu tempat terdekat dan terlengkap yang bisa kami kunjungi, tempat lain? Bukankah resikonya lebih besar sebab kami buta peta Covid-19 di luar sana. Hadeh, mana periode datang di saat yang tidak tepat lagi. Jadi tambah klop, panik plus pe-em-es.

Mikir ngalor-ngidul, kemudian saya ingat bahwa seseorang yang meninggal karena wabah termasuk mati syahid. InsyaAllah begitu adanya dengan beliau berdua. Aamiin.

Namun, bagaimana dengan kepanikan ini?

Tiba-tiba saja seseorang mengirimkan video tentang cerita orang yang sembuh dari Covid-19 setelah proses karantina di Rumah Sakit selama 14 hari. Ia mendedikasikan dua minggu masa penyembuhannya untuk mengkhatamkan membaca Al-Qur'an, ia percaya ayat-ayat Al-Qur'an adalah penyembuh segala penyakit.

Akhirnya diingatkan kembali pada niat diri mengkhatamkan membaca Al-Qur'an selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini pasti akan mengalihkan pikiran saya sepenuhnya dari Covid-19 yang membuat panik, kepada kebesaran Allah yang lebih besar dari sekedar Coronavirus. Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ....

Eh, besok udah Ramadhan, ya? Sekalian aja, deh, mau ngucapin selamat memasuki bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Semoga kita semua dimudahkan dalam menjalani Ramadhan di masa wabah ini, dan semoga kita bisa melewati pandemi ini dalam keadaan sehat wal'afiat ....

Aamiin ... Aamiin ... Allahumma aamiin ....

Thursday, 23 April 2020

9 Cara Terhindar Dari Covid-19 | Our Life Journey

Setiap hari penyebaran Covid-19 semakin menunjukkan peningkatan. Data terakhir pada hari Rabu, tanggal 23 April kemarin, kasus positif bertambah menjadi 7.418 kasus. Total orang yang sembuh berjumlah 913 orang dan total angka meninggal 635 orang.

Semakin signifikannya peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 ini, mengajarkan kita untuk tetap waspada dan selalu menjaga keselamatan diri. Berikut 9 cara yang bisa dilakukan untuk terhindar dari Covid-19, yang dirangkumkan dari berbagai sumber yang bisa ditemukan:

1. Jaga Jarak Aman

Penting disaat pandemi Covid-19 seperti ini, untuk jarak aman antar kita. Berdasarkan WHO (World Health Organization), jarak aman adalah satu sampai dua meter. Sebaiknya tidak bersalaman dengan berjabat tangan, atau berpelukan saat saling bertemu. Terapkan tata cara bertegur sapa tanpa saling bersentuhan.

Untuk sementara waktu seserius mungkin hindari kerumunan, batasi pergerakan diri, tidak bepergian ke tempat terjangkit dan tetap tinggal di rumah.

2. Gunakan Masker

Jika kita bekerja di sektor-sektor yang tidak bisa dilakukan dengan WFH (Work From Home), gunakan masker sebagai perlindungan diri dari kemungkinan terpapar Covid-19.

3. Rajin Mencuci Tangan

Tangan merupakan anggota tubuh, yang sering sekali bersentuhan dengan segala macam benda di sekitar kita. Oleh karena itu, tangan mudah sekali menjadi perantara menempelnya berbagai bakteri dan virus, tak terkecuali virus Corona penyebab Covid-19.

Mencuci tangan, menggunakan sabun dan air mengalir, dengan enam langkah sesuai anjuran WHO (World Health Organization), bisa sangat berpengaruh untuk menghindarkan diri kita dari Covid-19. Jika tidak menemukan air maka cairan antiseptik bisa menggantikannya.

4. Tidak Menyentuh Mata, Hidung dan Mulut 

Coronavirus penyebab Covid-19, masuk ke dalam tubuh melalui  melalui mata, hidung dan mulut. Menyentuh ketiganya bisa meningkatkan resiko penularan, sebab kita tidak tahu sudah Menyentuh apa saja tangan kita. Maka, sangat di anjurkan untuk tidak Menyentuh mata, hidung dan mulut, terlebih dengan tangan yang belum dibersihkan.

5. Menerapkan Etika Batuk

Jika biasanya kita menggunakan tangan untuk menutupi mulut ketika Batuk Dan bersin, atau bahkan Ada beberapa yang membiarkan mulut terbuka saja ketika melakukan ya, Ada baiknya menghentikan kebiasaan tersebut Dan mulai Menerapkan Etika Batuk Dan bersin. Gunakan tissue saat bersin Dan Batuk, lalu segera buang tissue tersebut di tempat sampah. Jika Tidak menemukan tissue di sekitar, gunakan lengan untuk menutupinya.

6. Menjaga Hidup Bersih

Menjaga kebersihan diri, termasuk rumah dan lingkungan sekitar, turut membantu terhindar dari Coronavirus. Mencuci Bersih setiap bahan makanan yang akan digunakan, ikut mengurangi resiko penularan, sebab kita tidak tahu tangan siapa saja yang sudah menyentuh bahan makanan tersebut.

7. Meningkatkan Imunitas Tubuh

Ada berbagai Cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yakni dengan makan-makanan bergizi tinggi, menambahkan multi vitamin dan supplemen peningkat imunitas tubuh, olah raga Dan berjemur. Tidur yang cukup membantu menjaga imunitas tubuh dari serangan penyakit.

8. Menjaga Kesehatan Mental

Di saat pandemi seperti ini, bukan hanya kesehatan fisik yang perlu dijaga, tapi juga kesehatan mental. Berita-berita yang beredar tentang Covid-19, yang terkadang tidak benar, membuat mental kita drop. Hal ini dapat memicu stres, yang berakibat pada turunnya imunitas tubuh. Maka penting bagi kita untuk tetap menjaga kesehatan mental kita.

9. Karantina Mandiri

Jika tubuh sedang tidak dalam kondisi sehat, ada baiknya untuk tetap tinggal di rumah. Apabila terasa ada gejala Covid-19, terlebih usai kontak dengan lingkungan yang terpapar pandemi Covid-19, sebaiknya mengisolasi diri selama 14 hari atau dua minggu. Namun, apabila terasa gejala Covid-19 antara sedang menuju berat, carilah bantuan medis melalui kontak yang tersedia di setiap wilayah.

Itulah sembilan cara terhindar dari Covid-19. Tetap jaga kesehatan fisik maupun mental, semoga kita dan keluarga terhindar dari Covid-19, dan semoga pandemi ini segera berakhir. Aamiin ....

Ketika Seorang Ahjussi Akhirnya Menjadi Tokoh Utama

Sebuah thread tiba-tiba muncul di feed saya. Seseorang bertanya apakah ada yang sedang menonton drama Korea berjudul The Dream Life of Mr. K...