Sunday, 15 February 2026

Sering Berhenti di Tengah Jalan? Mungkin Kita Kehilangan Makna, Bukan Motivasi


Bukan Takut Memulai tapi Takut Berhenti di Tengah Jalan


Saya menyadari ada sesuatu dalam diri saya yang membuat saya merasa diri ini tidak bergerak kemana-mana. Sebuah stagnansi yang membuat saya merasa tidak berkembang sama sekali beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun terakhir.

Sejujurnya saya selalu bersemangat ketika memulai sesuatu, yang menjadi masalah adalah setiap kali ingin memulai sesuatu ada suara yang berisik lirih dalam diri:

"Ah, paling nanti juga berhenti tengah jalan ...."

Awalnya saya pikir suara itu muncul karena rasa malas, tapi bukan, bukan itu penyebabnya. Penyebab utamanya adalah pengalaman-pengalaman sebelumnya yang selalu tidak selesai ketika menjalankan sesuatu, mood yang naik turun, dan kehilangan arah di tengah jalan.


Akar Masalah Utama: Kehilangan Makna


Sebagai individu intuitif dan reflektif, saya tidak bisa berjalan hanya dengan target.

Saya butuh makna.

Ketika sesuatu mulai terasa hanya sekadar rutinitas tanpa kedalaman makna, saat itulah saya mulai kehilangan arah. Saya secara tak sadar, mulai membandingkan diri dengan orang lain. Jika itu menyangkut dunia maya, maka itu tentang jumlah follower dan expert diri. Saat itulah keraguan atas kemampuan diri mulai muncul.

Padahal sebenarnya yang saya cari bukan angka, tapi makna.


Kesadaran Penting: Saya Tidak Mengejar Validasi


Ketika ditanya:

"Jika hanya ada satu orang saja yang membaca dan merasa ditemani, apakah itu cukup?"

Jawaban saya: Cukup. Bahkan lebih dari cukup.

Di situlah saya menyadari, bahwa saya tidak ingin viral. Saya hanya ingin tulisan saya bermakna.


Identitas yang Ditemukan


Saya ingin menjadi:

🔸Blogger yang reflektif, dan
🔸Mentor self-growth untuk ibu-ibu

Satu kalimat ini menjadi kompas saya:

"Saya adalah seorang ibu yang hadir sepenuhnya untuk anak, diri saya sendiri dan keluarga kami."

Konsisten bagi saya bukan soal disiplin ketat yang keras, apa lagi soal ramai. Konsistensi adalah soal kehadiran.


Sistem Kecil yang Mengubah Segalanya


Alih-alih menetapkan target besar, saya memilih menggunakan aturan sederhana, yakni:

"Dalam kondisi apa pun, saya akan tetap menulis 3 kalimat."

Karena berhenti bukan kegagalan. Yang berbahaya adalah merasa 'berhenti berarti selesai'.

Sekarang, polanya Berubah. Saat mood turun, saya tetap harus menulis 3 kalimat, saya akan tetap terhubung, sehingga saya bisa tetap hadir.


Penutup


Mungkin konsistensi bukan tentang tidak pernah jatuh, atau tentang tidak pernah berhenti. Mungkin konsistensi buat saya justru tentang berani memulai kembali.

Dan mungkin, Jika satu saja ibu merasa tidak sendiri karena tulisan saya ... itu sudah lebih dari cukup.

Jika kamu membaca tulisan ini, sampai sejauh ini, thanks a lot. Kamu membuat saya merasa tidak sendiri.

No comments:

Post a Comment

Sering Berhenti di Tengah Jalan? Mungkin Kita Kehilangan Makna, Bukan Motivasi

Bukan Takut Memulai tapi Takut Berhenti di Tengah Jalan Saya menyadari ada sesuatu dalam diri saya yang membuat saya merasa diri ini tidak b...