Sunday, 22 February 2015

Saya dan Puisi: Sebuah Keniscayaan

Secantik itukah paras si pendusta
Semenarik itukah asap isyu yang ia hembuskan

Hingga siapapun seperti tersihir
Hingga siapapun seperti terhipnotis
Hingga siapapun seperti kehilangan ingatan

Ingatan akan sejarah yang begitu panjang
Sejarah yang terukir begitu harmonis
Sejarah yang rasa-rasanya terlalu segar untuk hilang begitu saja

Sedahsyat itukah hipnotis yang diserukan
Semewah itukah balasan wangi palsu yang ditawarkan

Hingga siapapun seolah lupa daratan
Hingga siapapun seolah kehilangan pikiran

Melayang-layang hingga semut diseberang terlihat begitu besar dan gajah dipelupuk mata nampak begitu kecil

Semua pasti berputar
JanjiNya adalah sebuah keniscayaan

Maka hanya doa tulus yang mampu melunturkan paras dusta, asap isyu yang berhembus, hipnotis yang diserukan dan wangi palsu yang ditawarkan

Sungguh ketika saat itu siapapun akan tersadar dan menyesali semuanya

Karena sungguh janjiNya adalah sebuah keniscayaan

Sebuah keniscayaan

No comments:

Post a Comment

Sering Berhenti di Tengah Jalan? Mungkin Kita Kehilangan Makna, Bukan Motivasi

Bukan Takut Memulai tapi Takut Berhenti di Tengah Jalan Saya menyadari ada sesuatu dalam diri saya yang membuat saya merasa diri ini tidak b...