Saturday, 25 April 2020

Serba-serbi Melejitnya Harga Masker | Our Life Journey

Meningkatnya angka penyebaran Covid-19 membuat harga masker melonjak tinggi, jauh dari harga sebelum adanya Covid-19. Harga tertinggi masker sensi biasa, bisa mencapai 450.000 - 500.000 perkotak, berisi 50 masker. Sangat jauh di atas harga normalnya yang hanya 20.000 sampai 30.000 perkotak.

Harga masker meningkat sangat tajam karena bayaknya permintaan yang berbanding terbalik dengan ketersediaan barang. Panic buying dari para warga masyarakat juga dimanfaatkan oleh para penimbun masker untuk menyebabkan kelangkaan di pasaran, hingga mereka bisa mengeluarkan dengan harga tinggi.
Memanfaatkan Kepanikan
Serangan panik menghantam masyarakat, alasan psikologis menjadi dasar melakukannya. Melihat orang di sekitar membeli bahan-bahan pokok dalam jumlah besar, membuat yang lain panik, takut tak bisa memenuhi kebutuhan hariannya karena kelangkaan, hingga mereka ikut-ikutan. Sama halnya dengan masker yang merupakan kebutuhan utama dalam masa pandemi Covid-19 ini.

Dengan ketidakpastian sampai kapan pandemi ini akan berakhir, menimbun segala kebutuhan pokok menjadi alasan merasa lega dan tenang bagi mereka yang diserang kepanikan. Meski dengan alasan apapun panic buying tidak dibenarkan.
Kepanikan inilah yang dimanfaatkan mereka yang suka mengambil keuntungan ditengah kesulitan yang terjadi untuk menimbun masker. Masker ditimbun untuk kemudian dipasarkan sedikit demi sedikit dengan menaikkan harga hingga puluhan kali lipat harga normal. Meski begitu, tetap ada saja yang membeli karena kebutuhan.
Penimbun Masker Tertangkap
Di beberapa wilayah, telah ditemukan kasus penimbunan masker dan handsanitizer. Di Tanjung Duren, Jakarta Barat, polisi menemukan penimbunan 358 box masker di sebuah apartemen. Di Tangerang, polisi menemukan sebuah gudang yang menimbun 180 karton berisi 360.000 masker merk Remidi. Sedangkan di Makasar, polisi berhasil menggagalkan pengiriman 200 boks masker ke Selandia Baru.

Selain tiga kasus  di atas, masih ada beberapa kasus lain di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Semarang, Banten, Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, juga di beberapa kota di Timur.
Modus Membantu Sesama
Di samping modus penimbunan seperti kasus di atas, ada pula kasus penimbunan dengan modus membantu sesama. Kasus ini terungkap di sosial media. Mengaku membutuhkan masker dengan harga maksimal 100 ribu untuk dibagikan secara gratis, ternyata orang tersebut menjual kembali masker-masker itu dengan harga berkali lipat.

Hukuman Bagi Penimbun Masker
Berdasarkan Pasal 29 ayat 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, para pelaku usaha yang menimbun bahan kebutuhan pokok atau barang penting lainnya yang menyebabkan kelangkaan dikenakan hukuman paling lama 5 tahun penjara atau denda maksimal 50 milyar.
Masker Medis Hanya untuk Tenaga Kesehatan
Menghindari penggunaan berlebihan masker medis di masyarakat, yang bisa menimbulkan kelangkaan masker tersebut bagi tenaga kesehatan yang lebih membutuhkan, maka dianjurkan bagi masyarakat untuk tidak menggunakan masker medis. Jadi masker medis hanya untuk tenaga kesehatan.
Bagaimana dengan masyarakat? Masker kain adalah alternatif Masker yang dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari masyarakat dalam berkegiatan.

Social Distancing Hingga PSBB | Our Life Journey

Dari hari ke hari, penyebaran Covid-19 semakin meluas. Angka positif tercatat hari ini, tanggal 24 April 2020, mencapai 8.211 kasus. Jumlah ini mengalami peningkatan 436 kasus dari kemarin.

Langkah awal yang dianjurkan pemerintah kepada masyarakat adalah penerapan social distancing. Hal ini sudah dilakukan sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia. Masyarakat diminta tidak berkerumun dan melakukan kegiatan yang justru bisa meningkatkan penyebaran Covid-19.

Apa itu Social Distancing?

Sebelum membahas lebih jauh tentang social distancing, ada baiknya kita membahas secara sederhana saja apa itu social distancing. Social distancing berarti pembatasan sosial dimana gerak kita secara sosial dibatasi. Ada yang berpendapat bahwa social distancing adalah istilah yang tak tepat, yang sebenarnya dimaksud dengan social distancing disini adalah physical distancing. Pembatasan fisik, Jadi, secara fisik saja kita berjauhan tapi interaksi sosial seperti berkomunikasi lewat jaringan tetap bisa berlangsung. Well, bisa jadi itu hanya perbedaan faktor istilah ... menurut kalian?

Sejak kapan dilaksanakan social distancing?

Secara nasional social distancing sudah terus dikampanyekan sejak kasus positif Covid-19 pertama masuk ke Indonesia tepatnya di Depok, yang diumumkan Presiden pada bulan Maret. Masyarakat mulai diminta menghindari kerumunan dan dilarang berkegiatan yang melibatkan banyak orang.

Langkah pertama yang diambil adalah meliburkan anak sekolah. Di kota tempat saya tinggal tingkat PAUD sampai SMP resmi belajar di rumah mulai 16 Maret 2020, kemudian SMA Dan SMK menyusul setelah muncul keputusan Gubernur di tanggal yang sama. Praktis semua kegiatan yang berhubungan dengan sekolah berhenti, termasuk saya yang bekerja di kantin sekolah.

Semua kegiatan yang mengumpulkan banyak orang seperti Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD), konser-konser musik dan sejenisnya, pengajian, PKK, Dasawisma, termasuk resepsi pernikahan dan kegiatan ibadah ditiadakan.

Kenapa Harus Ada Social Distancing?

Virus Corona yang menyebabkan Covid-19 merupakan virus yang bergerak dan menyebar dengan cepat dari satu individu ke individu yang lain, hanya dengan percikan liur dari seorang penderita Covid-19, yang menempel dan terbawa oleh apapun yang melekat di tubuh kita terutama tangan, bisa masuk ke dalam tubuh kita sendiri, juga menyebar ke orang lain di sekitar kita. 

Oleh karena itu social distancing diperlukan untuk menghindari penyebaran yang masif. Kita tak pernah tahu siapa yang sudah terpapar Coronavirus dan siapa yang tidak, maka menjaga jarak sangat diperlukan.

Efek signifikan social distancing?

Sosial distancing memberikan efek yang signifikan untuk memutus mata rantai persebaran Covid-19. Dengan menjaga jarak satu sama lain, maka potensi penularan dapat diminimalisir, sehingga angka pernyebaran secara cepat, bisa ditekan.

Efektifkah?

Social distancing dirasa efektif menekan laju angka penyebaran. Dengan begitu, Rumah Sakit dan tenaga medis tidak akan kewalahan mengatasi jumlah pasien yang membludak karena cepatnya penyebaran. Namun, hal ini hanya akan dirasakan efektifitasnya, jika masyarat mematuhi anjuran social distancing ini.

Tahap selanjutnya jika social distancing tak menimbulkan efek signifikan?

Saat social distancing ini dirasa tidak berpengaruh signifikan, maka langkah lain yang perlu di ambil adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tidak seperti karantina, dimana semua kegiatan berhenti total, PSBB membatasi sebanyak mungkin kegiatan mobilisasi manusia tetapi tidak seluruhnya.

PSBB hanya dilakukan di suatu wilayah yang dimaksudkan untuk mencegah perpindahan orang di suatu wilayah yang jumlah kasus positif Covid-19 sangat mengkhawatirkan, seperti tingkat kematian yang tinggi. Hal ini akan dilakukan dalam masa inkubasi terpanjang dari Coronavirus yaitu 14 hari. Jika dalam waktu 2 minggu tersebut tidak ada penurunan angka yang signifikan, maka PSBB diperpanjang selama 14 hari lagi, begitu hingga kasus terakhir ditemukan.

Friday, 24 April 2020

Panik ... Panik ... Saya Panik | Our Life Journey

Assalamu'alaikum ....

Sejujurnya saya panik, tapi nggak panik-panik amat, but still ... panic .... Aaah ... entahlah .... Setelah Senin dini hari dapat kabar bahwa tetangga lama yang sudah seperti saudara, meninggal karena Covid-19 >> [Saya ralat info ini karena sampai sekarang belum terkonfirmasi bahwa beliau positif Covid-19], kemarin dapat berita ada orang meninggal di sekitar rumah yang masih satu RW. Bisa kebayang gimana dekatnya lokasi itu dan gimana paniknya. Baiknya saya ceritakan satu-persatu agar tidak bias. Inhale ... exhale ....

Senin dini hari sekitar pukul 02.00 saya dapat telepon dari Ibu. Sambil berurai air mata beliau mengatakan bahwa tetangga kami --sahabat Ibu saya-- di Kota Sidoarjo, tutup usia.

Keluarga kami saling bertetangga lama di sana, sekitar enam tahun. Sampai sekitar akhir Maret atau awal April kemarin beliau masih berkomunikasi dengan Ibu via telepon. Beliau sering berkunjung ke Malang, pun sebaliknya dengan kami. Bisa kalian bayangkan sedekat apa keluarga kami.

Kembali ke Senin dini hari. Saya yang baru saja bangun dari tidur lelap, kaget bukan main mendengar berita itu. Ketika Ibu mengajak berangkat ke Sidoarjo saat itu juga, saya masih bingung, jantung saya berdegup cukup kencang kala itu. Sampai akhirnya Ibu meminta saya ikut saja dan spontan saya mengiyakan.

Berusaha mengatur napas, akhirnya saya memilih sholat. Sehabis sholat dan bersiap-siap, saya kembali mendapat telepon dari Ibu. Beliau mengatakan bahwa anak sahabat Ibu, meminta Ibu untuk tidak takziah ke Sidoarjo karena ada karantina wilayah. Merasa tak enak jika tidak melayat, Ibu menelepon kawannya yang lain, yang biasanya bersama-sama ke Malang dengan sahabat Ibu tersebut.

Dari kawannya inilah, Ibu mendapat kabar bahwa sahabatnya itu positif Covid-19. Sudah tiga hari sebelumnya hasil tes itu keluar >>[Sesuai protap RS beliau harus dimakamkan serupa pasien Covid-19, meski belum terkonfirmasi bahwa beliau positif Covid-19]. Jujur saja hancur hari saya saat itu, membayangkan prosesi pemakaman tanpa anak, suami, sanak saudara yang melepas kepergian beliau. Padahal kawannya sangat banyak dan beliau orang yang baik.

Kepala saya sudah mulai pening saat itu, hingga hanya bisa berucap, "Ya, Allah ...," tiap Kali teringat sahabat Ibu itu. Lalu Rabu pagi, saat masih gelap, ada informasi kematian dari masjid terdekat. Saya pikir ini keadaan biasa, karena memang yang meninggal sudah tua. Namun siangnya, tiba-tiba ada penyemprotan disinfektan di sekitar kampung.

Ternyata siangnya beredar informasi bahwa beliau meninggal karena Coronavirus. Jasadnya langsung di bawa dari Rumah Sakit ke pemakaman. Beredar juga foto-foto pemakaman yang dilakukan petugas dengan APD.

Kepala saya benar-benar pening, jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Tukang sayur yang biasanya jadi langganan saya, mangkalnya di depan gang tempat tinggal orang tersebut. Orang tersebut juga sempat ke pasar, mengirimkan jajanan yang ia buat untuk dijual. Ah, makin panik diri ini.

Pasar adalah tempat yang harus kami kunjungi untuk berbelanja, kalau ndak ke pasar terus mau masak apa? Itu tempat terdekat dan terlengkap yang bisa kami kunjungi, tempat lain? Bukankah resikonya lebih besar sebab kami buta peta Covid-19 di luar sana. Hadeh, mana periode datang di saat yang tidak tepat lagi. Jadi tambah klop, panik plus pe-em-es.

Mikir ngalor-ngidul, kemudian saya ingat bahwa seseorang yang meninggal karena wabah termasuk mati syahid. InsyaAllah begitu adanya dengan beliau berdua. Aamiin.

Namun, bagaimana dengan kepanikan ini?

Tiba-tiba saja seseorang mengirimkan video tentang cerita orang yang sembuh dari Covid-19 setelah proses karantina di Rumah Sakit selama 14 hari. Ia mendedikasikan dua minggu masa penyembuhannya untuk mengkhatamkan membaca Al-Qur'an, ia percaya ayat-ayat Al-Qur'an adalah penyembuh segala penyakit.

Akhirnya diingatkan kembali pada niat diri mengkhatamkan membaca Al-Qur'an selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini pasti akan mengalihkan pikiran saya sepenuhnya dari Covid-19 yang membuat panik, kepada kebesaran Allah yang lebih besar dari sekedar Coronavirus. Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ....

Eh, besok udah Ramadhan, ya? Sekalian aja, deh, mau ngucapin selamat memasuki bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Semoga kita semua dimudahkan dalam menjalani Ramadhan di masa wabah ini, dan semoga kita bisa melewati pandemi ini dalam keadaan sehat wal'afiat ....

Aamiin ... Aamiin ... Allahumma aamiin ....

Thursday, 23 April 2020

9 Cara Terhindar Dari Covid-19 | Our Life Journey

Setiap hari penyebaran Covid-19 semakin menunjukkan peningkatan. Data terakhir pada hari Rabu, tanggal 23 April kemarin, kasus positif bertambah menjadi 7.418 kasus. Total orang yang sembuh berjumlah 913 orang dan total angka meninggal 635 orang.

Semakin signifikannya peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 ini, mengajarkan kita untuk tetap waspada dan selalu menjaga keselamatan diri. Berikut 9 cara yang bisa dilakukan untuk terhindar dari Covid-19, yang dirangkumkan dari berbagai sumber yang bisa ditemukan:

1. Jaga Jarak Aman

Penting disaat pandemi Covid-19 seperti ini, untuk jarak aman antar kita. Berdasarkan WHO (World Health Organization), jarak aman adalah satu sampai dua meter. Sebaiknya tidak bersalaman dengan berjabat tangan, atau berpelukan saat saling bertemu. Terapkan tata cara bertegur sapa tanpa saling bersentuhan.

Untuk sementara waktu seserius mungkin hindari kerumunan, batasi pergerakan diri, tidak bepergian ke tempat terjangkit dan tetap tinggal di rumah.

2. Gunakan Masker

Jika kita bekerja di sektor-sektor yang tidak bisa dilakukan dengan WFH (Work From Home), gunakan masker sebagai perlindungan diri dari kemungkinan terpapar Covid-19.

3. Rajin Mencuci Tangan

Tangan merupakan anggota tubuh, yang sering sekali bersentuhan dengan segala macam benda di sekitar kita. Oleh karena itu, tangan mudah sekali menjadi perantara menempelnya berbagai bakteri dan virus, tak terkecuali virus Corona penyebab Covid-19.

Mencuci tangan, menggunakan sabun dan air mengalir, dengan enam langkah sesuai anjuran WHO (World Health Organization), bisa sangat berpengaruh untuk menghindarkan diri kita dari Covid-19. Jika tidak menemukan air maka cairan antiseptik bisa menggantikannya.

4. Tidak Menyentuh Mata, Hidung dan Mulut 

Coronavirus penyebab Covid-19, masuk ke dalam tubuh melalui  melalui mata, hidung dan mulut. Menyentuh ketiganya bisa meningkatkan resiko penularan, sebab kita tidak tahu sudah Menyentuh apa saja tangan kita. Maka, sangat di anjurkan untuk tidak Menyentuh mata, hidung dan mulut, terlebih dengan tangan yang belum dibersihkan.

5. Menerapkan Etika Batuk

Jika biasanya kita menggunakan tangan untuk menutupi mulut ketika Batuk Dan bersin, atau bahkan Ada beberapa yang membiarkan mulut terbuka saja ketika melakukan ya, Ada baiknya menghentikan kebiasaan tersebut Dan mulai Menerapkan Etika Batuk Dan bersin. Gunakan tissue saat bersin Dan Batuk, lalu segera buang tissue tersebut di tempat sampah. Jika Tidak menemukan tissue di sekitar, gunakan lengan untuk menutupinya.

6. Menjaga Hidup Bersih

Menjaga kebersihan diri, termasuk rumah dan lingkungan sekitar, turut membantu terhindar dari Coronavirus. Mencuci Bersih setiap bahan makanan yang akan digunakan, ikut mengurangi resiko penularan, sebab kita tidak tahu tangan siapa saja yang sudah menyentuh bahan makanan tersebut.

7. Meningkatkan Imunitas Tubuh

Ada berbagai Cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yakni dengan makan-makanan bergizi tinggi, menambahkan multi vitamin dan supplemen peningkat imunitas tubuh, olah raga Dan berjemur. Tidur yang cukup membantu menjaga imunitas tubuh dari serangan penyakit.

8. Menjaga Kesehatan Mental

Di saat pandemi seperti ini, bukan hanya kesehatan fisik yang perlu dijaga, tapi juga kesehatan mental. Berita-berita yang beredar tentang Covid-19, yang terkadang tidak benar, membuat mental kita drop. Hal ini dapat memicu stres, yang berakibat pada turunnya imunitas tubuh. Maka penting bagi kita untuk tetap menjaga kesehatan mental kita.

9. Karantina Mandiri

Jika tubuh sedang tidak dalam kondisi sehat, ada baiknya untuk tetap tinggal di rumah. Apabila terasa ada gejala Covid-19, terlebih usai kontak dengan lingkungan yang terpapar pandemi Covid-19, sebaiknya mengisolasi diri selama 14 hari atau dua minggu. Namun, apabila terasa gejala Covid-19 antara sedang menuju berat, carilah bantuan medis melalui kontak yang tersedia di setiap wilayah.

Itulah sembilan cara terhindar dari Covid-19. Tetap jaga kesehatan fisik maupun mental, semoga kita dan keluarga terhindar dari Covid-19, dan semoga pandemi ini segera berakhir. Aamiin ....

Berbagai Cara Influencer, Tokoh Publik dan Masyarakat Indonesia Membantu Saat Pandemi | Our Life Journey

Meluasnya pandemi Covid-19, membuat semakin banyak masyarakat yang menjadi korban terdampak Coronavirus ini. Kondisi yang terasa semakin sulit, membuat tak sedikit masyarakat Indonesia berinisiatif untuk saling bahu-membahu dalam membantu menghadapi keadaan tidak biasa ini. Tak terkecuali para influencer dan public figure yang namanya tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.

Berikut adalah berbagai cara yang mereka, para influencer, public figure dan masyarakat lakukan untuk membantu saat pandemi Covid-19:

1. Menggalang Dana

Rachel Vennya, Atta Halilintar, dan Andovi da Lopez adalah tiga dari banyak influencer dan public figure yang melakukan penggalangan dana untuk membantu saat pandemi.

Rachel Vennya, melakukan pengumpulan dana dengan terlebih dahulu memberikan informasi, bahwa dirinya membuka penggalangan dana untuk penanggulangan Covid-19 ini. Dana ini digunakan untuk penyediaan handsanitizer, masker, Alat Perlindungan Diri bagi tenaga kesehatan.

Tak jauh berbeda, Atta Halilintar juga mengumpulkan dana. Selain untuk tenaga kesehatan, ia juga mengumpulkan dana untuk membagikan sembako pada masyarakat.

Andovi da Lopez pun melakukan penggalangan dana. Yang membuatnya sedikit berbeda adalah caranya menggalang dana. Ia melakukan aksi membaca isi KBBI selama 14 jam non-stop untuk mengumpulkan dana.

2. Membantu ketersediaan Alat Perlindungan Diri (APD)

Ada juga beberapa influencer, tokoh publik dan masyarakat yang melakukan cara berbeda untuk membantu saat pandemi. Cara yang mereka lakukan adalah dengan membuat APD (Alat Perlindungan Diri).

Anne Avantie, misalnya. Wanita kelahiran tahun 1954 tersebut, menghentikan semua proses produksi di yayasan yang ia dirikan untuk menghasilkan APD bagi tenaga kesehatan.

Tidak hanya Anne Avantie, Budhi Hermanto yang merupakan warga Yogyakarta, mengumpulkan para penjahit lokal untuk bersama-sama membuat APD.

3. Terjun langsung ke lapangan

Awkarin, dr. Tirta Hudi, dan Bripka Jerry Tumundo adalah tiga dari beberapa influencer, tokoh publik dan masyarakat yang ikut ambil bagian dalam penanggulangan Covid-19 dengan terjun langsung ke lapangan.

Selain mengikuti langkah para influencer lain dengan mengumpulkan dana, Awkarin juga ikut serta dalam penyemprotan desinfektan. Ia mengenakan perlindungan, lengkap dengan masker dan sarung tangan sambil menggendong alat penyemprot tersebut.

Sama halnya dengan Awkarin, dokter Tirta Hudi ikut turun tangan dalam penanganan Covid-19. Ia membagikan masker dan handsanitizer kepada masyarakat luas.

Bripka Jerry sedikit berbeda, ia terjun langsung menjadi sukarelawan membantu memakamkan korban Covid-19.

4. Membuat konten video inspiratif mengenai Covid-19

Edward Suhadi dan Anggriani --seorang perawat di sebuah rumah sakit di Medan-- adalah contoh influencer, tokoh publik dan masyarakat yang berusaha membantu saat pandemi, dengan mengunggah video yang menginspirasi.

Anggriani membuat beberapa video, melalui aplikasi likee, tentang tips seputar pencegahan dan penyebaran Covid-19. Sementara Edward Suhadi membagikan beberapa video buatannya tentang Covid-19 di akun Instagram miliknya. Diantara video-video yang menginspirasi adalah video berjudul 'Bagaimana Wabah Covid-19 Bisa Berakhir?' dan video 'telor ceplok' tentang menimbun barang (panic buying).

5. Mengkampanyekan #DiRumaAja dan #CukupDariRumah

Cukup banyak influencer, tokoh publik dan masyarakat yang mengkampanyekan tagar DiRumahAja. Namun influencer dan champaigner Dompet Duafa, Fathur, mengkampanyekan tagar CukupDariRumah. Menurutnya tidak cukup hanya di rumah saja, tapi ikut bekerja dan berpartisipasi meski cukup dari rumah.

Tuesday, 21 April 2020

Dampak Covid-19 Terhadap Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Indonesia | Our Life Journey

Semua dimulai dengan guyonan yang beredar di media daring dan sosial media bahwa Coronavirus atau Covid-19, tak akan pernah bisa masuk Indonesia karena imunitas orang Indonesia sudah sangat maksimal.

Menurut guyonan tersebut, hal ini teruji dari berbagai keadaan yang sudah biasa terjadi di negara ini. Salah satu contohnya adalah banyaknya warung pinggir jalan yang mencuci puluhan piring dan sendoknya hanya dengan menggunakan satu ember air.

Banyak orang yang makan di tempat-tempat seperti itu, dan tak ada masalah kesehatan berarti pada orang-orang tersebut setelahnya. Hal itu, yang menurut guyonan ini, menjadi bukti bahwa orang Indonesia tak bisa terserang Covid-19.

Namun kenyataan tak seindah guyonan. Coronovirus yang dulu diyakini tak bisa masuk ke negara beriklim tropis, bermutasi hingga ia sanggup bertahan hidup.

Kasus pertama di Indonesia, muncul dari wilayah Depok. Seorang ibu berusia 64 tahun dan puterinya yang berusia 31 tahun dinyatakan positif Covid-19 setelah melalui pemeriksaan. Mereka diduga tertular setelah kontak langsung dengan seorang warga negara Jepang yang juga positif terjangkit Covid-19. Sejak saat itu, jumlah kasus baru meningkat signifikan.

Covid-19 benar-benar merubah Indonesia.

Masuknya Covid-19, merubah hampir semua lini kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Tingkat penyebaran yang masif menuntut cara pencegahan yang sesuai. Dimulai dari penerapan physical distancing, dengan membatasi kerumunan. Hal ini mengharuskan setiap orang untuk saling berjarak, guna menghindari kontak langsung.

Berjabat tangan menjadi hal yang harus dihindari untuk mencegah penyebaran. Masyarakat Indonesia yang terbiasa saling menyapa sambil berjabatan tangan, kini harus menghentikan kebiasaan tersebut sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

Tempat-tempat wisata ditutup sementara. Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) yang biasanya menjadi tempat hiburan murah meriah bagi masyarakat, tempat bertemunya penjual dan pembeli hingga terjadi perputaran ekonomi, juga tempat para generasi mudah berkumpul untuk unjuk bakat, ditiadakan.

Kegiatan belajar mengajar mulai tingkat awal hingga Perguruan Tinggi, yang biasanya dilaksanakan di sekolah dan kampus, kini terpaksa dilakukan di rumah. Semua tugas dan materi pembelajaran diberikan guru dan dosen secara online (daring), bahkan kegiatan penilaian hasil belajar/kuliah dan ujian pun dilakukan dengan cara yang sama.

Kegiatan bekerja tak jauh beda, perusahaan diminta melakukan work from home (WFH). Para pekerja diminta bekerja dari rumah dengan koordinasi secara online, dan berkomunikasi menggunakan berbagai aplikasi tele-conference yang banyak tersedia. Hal ini dilakukan juga untuk menghindari terjadinya pergerakan masyarakat, yang mempercepat penyebaran Covid-19.

Di samping itu, kegiatan beribadah juga diminta untuk dilakukan di rumah masing-masing saja. Peribadatan di gereja dan pelaksanaan Sholat Jum'at ditiadakan, perayaan-perayaan hari besar yang melibatkan kerumunan masa tidak diperbolehkan. Bahkan resepsi pernikahan diminta untuk tidak dilaksanakan, meski tidak melarang pernikahan di Kantor Urusan Agama.

Semua pembatasan fisik dan sosial ini berdampak sangat besar pada segala lini kehidupan, terutama perekonomian. Adanya pembatasan jam malam yang diberlakukan di sejumlah daerah zona merah penyebaran Covid-19, menyebabkan omzet para pedagang kecil hingga menengah, menurun drastis karena berkurangnya jumlah pembeli.

Selaras dengan hal itu, para pengendara ojek online pun mengalami penurunan pendapatan. Tak Hanya itu, para event organizer dan wedding organizer minim job. Semua sektor usaha terdampak dengan adanya Covid-19.

Masih banyak lagi dampak yang ditimbulkan oleh adanya Covid-19 di Indonesia, berharap semuanya berlalu dan kita bisa kembali berkehidupan seperti sediakala.

Monday, 20 April 2020

Mengenal Covid-19 yang Tak Boleh Diremehkan | Our Life Journey

Baru tadi malam saya mendengar kabar bahwa salah seorang dari tetangga lama di sebuah kota di Jawa Timur, yang sudah seperti saudara sendiri, meninggal akibat virus Corona. Hal itu membuat saya sedih sekaligus prihatin. Di wilayah Jawa Timur saja, ada 588 kasus positif terjadi sampai hari ini.

Saya pikir ini karena banyak dari masyarakat luas, yang masih belum teredukasi tentang seperti apa virus Corona atau Covid-19 ini dan bagaimana mencegah penularan. Banyak diantaranya bahkan cenderung menyepelekan keberadaan virus ini, hingga menyebabkan sesuatu yang fatal terjadi pada orang-orang terdekat mereka.

Sudah banyak keluarga yang harus kehilangan salah satu, atau bahkan beberapa sanak saudara mereka karena ketidakpahaman tentang penyakit ini. Sangat banyak juga yang harus berjibaku, bertarung melawan virus Corona yang bersarang dalam tubuh mereka. Karenanya, mari sejenak kita mengenal Covid-19, agar kita bisa mengedukasi diri dan orang sekitar tentang bahaya virus ini.

Apa itu Covid-19?

Covid-19 Ada singkatan dari Corona Virus Desease 2019, yang artinya penyakit yang disebabkan karena virus Corona yang ditemukan tahun 2019. Penyakit ini disebabkan oleh paparan virus baru yang sebelumnya disebut 2019-nCov. Sesungguhnya, virus ini masih termasuk dalam keluarga besar virus yang menyebabkan flu dan penyakit pernapasan parah lainnya, seperti penyakit pernapasan Timur Tengah (MERS) dan infeksi saluran pernapasan akut (SARS).

Apa yang membuatnya berbeda?

Perbedaannya ada pada masa inkubasi, gejala dan penyebarannya, juga pada pengobatannya.

Masa Inkubasi?

Masa inkubasi Covid-19 adalah 14 hari atau dua minggu, sejak terpapar. Itu sebabnya, mengapa kita diminta mengisolasi diri selama 14 hari atau dua minggu, jika kita mengalami gejala Covid-19.

Gejala?

Orang yang terpapar akan mengalami beberapa gejala, seperti demam pada suhu 38°c atau lebih, batuk kering --tanpa dahak-- yang terjadi terus menerus, nyeri tenggorokan, kelelahan, dan pada tahap yang parah akan muncul gejala napas pendek, dengan frekuensi napas lebih dari 24 Kali per-menit. Pneumonia akan terlihat berdasarkan gambar radiologis. Gejala-gejala ini akan muncul pada hari kedua sampai ke-14 setelah terpapar. Namun dalam beberapa kasus ada penderita yang tidak menunjukkan gejala apapun.

Penyebaran dan Penularan?

Coronavirus lebih cepat menyebar dan menular, karena virus ini mudah berpindah dari manusia ke manusia. Ia tersebar melalui percikan air liur penderita saat bersin atau batuk, yang menempel pada tangan dan masuk melalui mata, hidung, maupun mulut saat kita menyentuh salah satu dari ketiganya.

Siapa saja yang bisa terpapar Covid-19?

Semua orang bisa terpapar Covid-19, jika seseorang terkena percikan air liur dari orang yang positif Corona. Percikan itu lalu masuk ke dalam mata, hidung maupun mulut dari sentuhan tangan kita. Maka dari itu penggunaan masker dirasa efektif untuk mencegah penularan.

Siapa saja yang rentan terinfeksi Coronavirus?

Sesungguhnya jika kondisi tubuh orang yang terpapar Coronavirus dalam keadaan sehat Dan imunitas tinggi, virus ini akan berhasil dikalahkan oleh sistem imun dalam tubuh. Hal ini akan menjadi masalah, jika Coronavirus masuk pada tubuh seseorang yang memiliki kondisi medis tertentu, seperti gangguan pernapasan kronis, penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit ginjal, dan kanker. Virus ini akan menimbulkan komplikasi dan kondisi yang lebih berat pada mereka.

Bagaimana cara mencegah terjangkit Covid-19?

Membiasakan hidup sehat adalah salah satu cara mencegah terjangkit Covid-19. Kebiasaan hidup sehat diantaranya adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menerapkan etika batuk ketika batuk dan bersin, juga melakukan physical distancing.

Jika sudah terpapar?

Jika seseorang merasakan gejala awal Covid-19, tapi tidak memiliki riwayat penyakit kronis yang bisa menimbulkan komplikasi, ada baiknya melakukan karantina mandiri. Karantina mandiri ini dilakukan dengan tetap berada di dalam Kamar hingga dua minggu sejak terpapar. Jika memiliki riwayat penyakit kronis, Ada baiknya menghubungi Rumah Sakit rujukan yang ditunjuk pemerintah kota untuk menangani pasien Covid-19.

Pengobatan?

Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat digunakan untuk mengatasi Covid-19. Chloroquine Phosphate, yang merupakan obat untuk mengatasi Malaria, sempat dikabar mampu menyembuhkan penyakit akibat Coronavirus ini.

Awalnya obat ini diujikan kepada 100 penderita di 10 Rumah Sakit di Wuhan, Cina. Dari pengujian ini ditemukan bahwa Chloroquine Phosphate efektif untuk komplikasi Pneumonia pada penderita Covid-19.

Namun, meski obat ini sudah dipakai untuk pengobatan penderita Covid-19, WHO masih belum mengeluarkan anjuran penggunaan obat ini.



Karantina wilayah sudah mulai diberlakukan di beberapa kota, hal ini bertujuan untuk mencegah lebih banyak lagi orang yang terpapar Covid-19. Mengingat cepatnya penyebaran penyakit ini, partisipasi aktif seluruh masyarakat sungguh sangat diperlukan, dengan melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing. Dengan membatasi aktifitas di luar rumah, penyebaran Covid-19 bisa diminimalisir.

Semoga wabah ini cepat berakhir Dan semua bisa kembali normal seperti sediakala, kembali bekerja, bersekolah, dan berkegiatan. Namun untuk saat ini sebaiknya #dirumahsaja.

Wednesday, 18 March 2020

Parasite: Film Satir Bergenre Bong Joon-ho

~Artikel ini dibuat untuk tugas menulis di Kelas Menulis Online Alineaku - Kelas Writer~

Belum lama ini sebuah film buatan Korea Selatan berjudul Parasite, masuk menjadi salah satu pemenang Academy Award 2020 untuk empat kategori yakni film terbaik, sutradara terbaik, skenario asli terbaik dan film internasional terbaik. Film ini menjadi catatan sejarah karena untuk pertama kalinya sebuah film berbahasa non-inggris berhasil memenangkan kategori film terbaik.


Film ini saya tonton beberapa minggu sebelum dinobatkan menjadi pemenang di Academy Award, saat itu saya sedang mencari-cari film maupun drama Korea yang pernah dimainkan oleh Lee Sun-Kyun, salah seorang aktor yang saya sukai aktingnya --terutama akting dan perannya di drama My Ahjussi. Saya tertarik menonton film Parasite karena di beberapa artikel yang saya baca saat itu, film ini mendapat banyak kritikan positif juga banyak penghargaan dari berbagai festival film.


Film ini bercerita tentang kehidupan keluarga miskin yang tinggal di basement tak layak huni, dengan empat anggota keluarga yang terdiri dari dua orang tua dan dua orang anak, lelaki dan perempuan. Mereka adalah Kim Ki-taek sang ayah, Choong Sook sang ibu, Ki-jung sang anak perempuan dan Ki-woo sang anak lelaki. Anak-anak ini termasuk anak yang cerdas meski sedikit licik --saya menyebutnya berakal bulus, karena mungkin keadaan yang memaksa mereka melakukan kelicikan.


Semua dimulai dari seorang teman dari Ki-woo yang menawarkan pekerjaan sebagai guru privat untuk Park Da-hye, anak perempuan di rumah keluarga Tuan Park, mengantikan dirinya karena ia akan belajar ke luar negeri. Ia juga memberikan sebuah batu, yang ia katakan mampu mendatangkan keberuntungan.

Yang menarik buat saya di scene ini sang ibu berkata, "Dibandingkan batu, kita lebih membutuhkan uang atau makanan. Kenapa dia tidak memberikan itu saja." Begitu kira-kira ucapan sang ibu, dan menurut saya bagi warga kelas bawah seperti keluarga Ki-taek, uang dan makanan memang lebih berharga dari sekedar batu, meski namanya batu keberuntungan.

Oh, ya, saking miskinnya mereka, bahkan wifi-pun ikut tetangga yang tinggal di atas rumah mereka. Gambaran yang memang terjadi di lingkungan kita sehari-hari. Rumah mereka bahkan digambarkan sering terendam banjir karena memang jendela rumah itu tepat berada sedikit saja di atas jalan, bahkan saat fogging, rumah tersebut pun penuh asap.

Oke, kembali ke peluang menjadi guru privat. Hal ini membawa Ki-woo menarik Ki-jung bekerja di tempat yang sama, sebab Da-song, adik dari Da-hye ternyata membutuhkan seseorang untuk mengajar. Mereka (Ki-woo dan Ki-jung) tak pernah mengaku saling berhubungan darah --saudara kandung pun orang tua, mereka hanya mengatakan anggota keluarga mereka sebagai sepupu jauh atau hanya sekedar kenalan. Mereka bahkan mengganti nama mereka --saya lupa siapa nama lain mereka.

Dari rekomendasi Ki-jung dipekerjakan lah sang ayah sebagai supir keluarga Tuan Park karena kelicikan Ki-jung memaksa supir lama keluarga tersebut keluar. Tersisa sang ibu yang tak bekerja, dan kebetulan keluarga tersebut memiliki seorang asisten rumah tangga (ART) yang sudah lama bekerja di sana. Akhirnya mereka berusaha menyingkirkan ART lama tersebut, dan bekerjalah sang ibu di rumah yang sama.

Mantan ART ini ternyata sudah bekerja sangat lama bahkan pada pemilik rumah sebelumnya, yang membangun rumah tersebut. Wanita ini menyembunyikan seseorang di ruang bawah tanah (bunker), yang bahkan keluarga Tuan Park tidak tahu ada ruang di bawah tanah di rumahnya.

Suatu hari keluarga Tuan Park berencana pergi berkemah, merayakan ulang tahun Da-song dan momen itu dimanfaatkan keluarga Ki-taek untuk bersenang-senang di rumah tersebut, sampai akhirnya sang mantan ART datang untuk meminta ijin pada Choong Sook untuk tetap tinggal di bunker karena suaminya di sana. Ya, seseorang yang ia sembunyikan di bunker adalah suaminya.

Lelaki tersebut begitu mengagumi Tuan Park karena baik dan tak terlalu mempermasalahkan istrinya mengambil jatah makan hingga dua kali lipat (untuk makan mereka berdua). Ia menggunakan lampu di atas tangga untuk mengucapkan rasa terima kasihnya pada Tuan Park menggunakan sandi Morse. Da-song yang merupakan anak Pramuka berusaha mempelajari dan menerjemahkan sandi tersebut.

Terkejut mengetahui ada seseorang yang disembunyikan dalam bunker, anggota keluarga yang lain terjatuh dari anak tangga menuju bunker --ketika itu mereka sedang menguping. Dari sini mantan ART tersebut tahu bahwa mereka berempat bersekongkol dan saling terhubung sebagai keluarga karena tak sengaja menyebut Choong Sook dengan sebutan ibu.

Di sini terjadi perkelahian antara mereka. Keluarga Ki-taek berhasil membuat suami ART lama terikat di sebuah tiang dan ART lama bersimbah darah dan pingsan karena hantaman benda keras di kepalanya, sehingga mereka berdua tetap berada di dalam bunker.

Karena kondisi cuaca yang tak memungkinkan keluarga Tuan Park tak jadi berkemah, dengan susah payah keluarga Ki-taek membersihkan rumah dengan cepat. Belum sempat Ki-taek, Ki-jung dan Ki-woo bersembunyi keluarga Tuan Park tiba, akhirnya Ki-taek dan Ki-jung bersembunyi di bawah meja sedang Ki-woo di bawah tempat tidur Da-hye.

Saat itulah mereka  mendengar ucapan Tuan Park yang menyakitkan hati, meski sebenarnya itu terdengar lucu di telinga saya. Peran Lee Sun-Kyun --Tuan Park tak banyak tapi cukup membuat pengaruh karena ucapannya yang membuat hati Ki-taek sakit tentang aroma tubuh orang-orang miskin. "Ia (Ki-taek) tak pernah bertingkah melampaui batas, hanya saja aroma tubuh mereka yang melampaui batas." Begitu kira-kira ucapan Tuan Park yang membuat Ki-taek sakit hati.

Keluarga Tuan Park berencana mengadakan pesta ulang tahun keesokan harinya, Ki-taek diminta berperan sebagai Indian bersama dengan Tuan Park. Saat Ki-jung membawakan kue ulang tahun mereka berdua akan berusaha seolah-olah hendak menculik gadis itu, tapi yang terjadi adalah petaka saat suami mantan ART tiba-tiba keluar dari bunker setelah ikatan di tubuhnya berusaha ia lepaskan.

Ki-woo adalah orang yang pertama kali ia temukan, dengan geram lelaki tersebut memukul keras kepala Ki-woo berkali-kali dengan batu antik yang diberikan padanya di awal cerita. Sungguh awalnya saya tak paham kenapa batu yang dikatakan Ki-taek sebagai batu metaphoric itu muncul di rumah Tuan Park padahal seingat saya batu itu tak pernah mereka bawa ke rumah beliau. Mungkin saya yang tak memperhatikan beberapa scene.

Namun setelah menonton video essay dari Aby Kusdinar dalam channel YouTube-nya #SumatranBigFoot beberapa saat sebelum menulis ini, saya baru sadar kalau batu itu hanya simbol bahwa sesuatu yang dikatakan membawa keberuntungan bagi kita bisa jadi sesuatu yang menghantam kita bertubi-tubi di akhir. Jika kalian mengunjungi channel-nya kalian akan dapat bahasan lengkapnya.

Kita kembali ke jalan cerita. Setelah menghantam kepala Ki-woo bertubi-tubi --tak sampai mati, ia lalu mengambil pisau di dapur dan berjalan menuju keramaian acara ulang tahun di halaman belakang. Tak ada yang menyadari kehadirannya. Saat melihat Ki-jung membawa kue ulang tahun ia melemparkan pisau yang ia bawa dan menancap tepat di dada kiri gadis itu.

Melihat putrinya tersungkur Ki-taek berusaha menghampiri. Saya sedikit lupa siapa yang kemudian datang dan membunuh suami mantan ART dengan menancapkan kapak di tubuh lelaki itu. Yang jelas suami mantan ART tersebut juga tersungkur.

Da-song pingsan melihat semua kejadian itu dan Tuan Park berusaha menolong. Ia meminta kunci mobil pada Ki-taek untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Ki-taek melemparnya dan mendarat tepat di tubuh suami ART lama. Mencoba mengambilnya, Tuan Park menutup hidungnya karena aroma tubuh yang tak sedapnya dari lelaki itu.

Marah dan emosi mengetahui Tuan Park menunjukkan gestur menutup hidung seolah aroma bawah tanah --orang miskin, yang dimiliki suami mantan ART adalah hal yang salah sedang ia tahu lelaki tersebut begitu mengagumi Tuan Park, ia kemudian mendekat, dan menghujam tubuh Tuan Park dengan kapak/pisau --saya lupa, hingga Tuan Park tersungkur. Begitulah, ia kemudian berlari dan menghilang.

Tahun berselang Ki-woo dan ibunya, Choong Sook, kembali ke kehidupan mereka semula, di bawah tanah. Benturan bertubi-tubi di kepala membuat Ki-woo kehilangan akalnya beberapa lama, sampai akhirnya ia kembali normal dan mencari tahu di mana ayahnya.

Ia melihat rumah keluarga Tuan Park dari kejauhan, yang kini sudah ditinggali keluarga lain. Mengamati lampu rumah yang berkedip-kedip seperti sandi Morse lalu mengetahui bahwa ayahnya berada di bunker rumah itu, bunker yang dulu jadi persembunyian suami mantan ART keluarga Tuan Park.

Ia menulis catatan bahwa ia akan membawa ayahnya pulang, mengeluarkan, bahkan membeli rumah itu sekaligus, meski ia sendiri tak tahu kapan itu akan terjadi.

Buat saya film ini bukan film yang bisa membekas dalam hati dengan cepat ketika kalian menonton untuk pertama kalinya, karena penonton tak kritis seperti saya akan merasakan kebingungan tentang kemana arah film ini sebenarnya.

Genrenya tertulis thriller dan komedi tapi buat saya tidak terlalu membuatnya menjadi genre thriller bahkan komedi. Ada bagian yang memang thrilling dan ada bagian yang lucu, tapi tak terlalu. Sampai akhirnya saya memutus untuk menonton lagi dan membaca beberapa review, dan menemukan makna metaphoric (seperti nama batu di awal cerita) dari film ini. Dan film ini benar-benar luar biasa dan penuh makna bagi saya.

"A comedy without clowns, a tragedy without villains," kata Bong Joon-ho, sang sutradara. Sebuah film satir dengan genre Bong Joon-ho.

Sunday, 1 March 2020

Quotes Saya: Alia di Negeri Drakor [Drama Korea] | Our Life Journey

"Beberapa hari lalu aku menemukan sebuah kunci dan hari ini aku menemukan sebuah pintu .... Mungkinkah ini kebetulan belaka?" - Alia di Negeri Drakor

Sunday, 16 February 2020

Quotes Saya: Teh Tawar | Our Life Journey

Nikmatnya minum teh tawar itu, saat kamu berusaha mencari manisnya dan nggak nemu-nemu ....

Boon Pring: Harmoni Bambu, Air, dan Kehidupan Desa Sanankerto

Dari hutan bambu yang sunyi menjelma menjadi ekowisata yang tak hanya menjaga alam, tapi juga menghidupi warga dan mengangkat harkat desa. S...